POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Dia Bukan Sahabatku

RedaksiOleh Redaksi
November 27, 2017
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Yessi Afriyalisi
Sekolah Di SMK Negeri 1 Aceh Barat Daya
Aku lebih mengenalnya dari yang lain, bagiku dia itu adalah seorang malaikat yang Tuhan titipkan untuk menjadi sahabatku. Wajahnya yang polos dan tutur katanya yang sopan membuat sejuk hati  siapa saja yang mendengarnya. Dia telah mengajarkanku tentang bagaimana hidup itu tidak dijalani dengan kekerasan, tetapi ada saatnya kita menghadapi masalah dengan kelembutan dan kepala dingin.
Tiga tahun lamanya kami berteman dan aku sudah menganggapnya seorang sahabat dalam hidupku. Aku sering memanggilnya “Va” karena namanya Diva. Kami sekolah di sekolah yang sama dan kami satu kelas. Bayangkan saja betapa senangnya kalian memiliki sahabat yang selalu ada bersama kalian suka maupun duka. Tapi semua itu tidak berlangsung lama, dan semuanya hilang saat dia mulai berubah.
Aku : Va, kita ke kantin yuk !!
Diva : oke, tapi kita ajak Tya sekalian ya ?
Aku : ya udah. ( dengan nada malasnya )
Tya siswa baru di kelas kami. Dia terkenal dengan gayanya yang sombong dan sok cantiknya. Dia sering merasa kalau dia yang paling cantik di kelas. Teman-teman di kelas banyak yang tidak suka berteman dengan Tya, tetapi entah kenapa sahabatku Diva sekarang lebih dekat dengan dia dan Diva lebih mementingkan dia daripada aku. Kadang-kadang mereka sering ke kantin bareng, duduk bareng, aku diabaikan bagaikan sampah yang tak dibutuhkan.
Aku :   va, pulang bareng aku ya.
Diva :  Aku pulang dengan Tya saja. Lagi pun kami juga mau beli baju couple yang kekinian itu dengan dia !
Aku  : Kamu kenapa sih Va?, Tidak  pernah lagi dekat dengan Aku. Semenjak berteman dengan Tya, kamu sudah berubah. Kamu sudah seperti melupakan Aku. Apa Aku tidak  ada harganya lagi di mata kamu?
Diva : Terserah aku lah. Mau pulang dengan siapa aja, itu bukan urusan kamu. Lagi pula Aku juga sering pulang dengan Tya, dan dia sering antar aku ke rumah. Aku sudah tidak butuh kamu lagi.
Aku :   segitunya kamu ya va?  Aku sudah anggap kamu sahabat, kamu tega meninggalkan Aku, hanya karena Tya yang sering antar kamu pulang ? ( dengan rasa kecewa )
Diva :Emangnya aku peduli gitu dengan kamu? ( sambil berjalan dan pergi )
Dengan rasa tidak bersalah dia pergi meninggalkan Aku yang berdiri tegak di bawah pohon sambil menangis. Air mataku tak tertahankan, angin sepoi yang berhembusan  tidak terasa dingin pada cuaca yang panas di siang itu. Yang aku rasakan hanya sakit dan kecewa. Aku tak menyangka setega itukah sahabatku sendiri mengungkapkan sebuah kalimat pedih yang membuat telingaku saja rasanya enggan untuk mendengar suara lembutnya lagi. Di dalam pikiranku begitu banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan, tetapi mulut ini rasanya kaku untuk biacara. Air mata terus mengalir membasahi pipiku.
Semenjak kejadian hari itu, Aku dan Diva tidak pernah berkomunikasi lagi. Kami juga sudah tidak duduk satu meja lagi. Dia semakin manjauh dariku tanpa sebab. Kami sering bertemu di kelas, tetapi dia tidak pernah bicara satu patah kata pun kepadaku. Untuk melontarkan senyum manisnya saja dia enggan melakukannya. Dia sering menabrakku saat berjalan, tetapi dia tidak pernah meminta maaf dan hanya tertawa, seakan akan baginya sebuah lelucon. Dia sering berbicara dengan Tya dan melihat ke arahku, lalu tertawa. Aku merasa bahwa Aku sedang di permalukan dengan sikapnya yang berubah itu. Entah apa yang membuatnya berubah, sehingga hari ulang tahunku saja dia tidak datang. Padahal Aku sudah mengundangnya. Ucapan ulang tahun pun tidak diucapkannya.  Aku merasa sangat kecewa dengan sikapnya. Setiap malam  dalam salat, Aku selalu berdoa kepada Tuhan “ Andai saja waktu bisa terulang ya Allah, hamba tidak ingin mengenalnya lagi dan janganlah Engkau mempertemukan lagi hamba dengannya “. Setiap kali orang bertanya tentang dia, aku selalu menjawab “ Dia bukan sahabatku” dan setiap kali hati ini bertanya, mulut ini selalu menjawab “ Dia bukan sahabatku”. Biarlah aku sendiri yang meratapi penyelasan yang tak ada gunanya. Biarkan aku berteman dengan indahnya bintang di malam hari, dan biarkanlah aku mencari lagi sahabat sejati.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Mengikis Hoax, Mengikis Ketidaksejahteraan

Pembelajaran yang Memuliakan

Cut Nyak Meutia Permata Kesayangan Aceh

Sengkarut Masalah Perokok Anak

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Si Manis-Pedas, Rujak Pak Fahrizal

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00