• Latest

TEMPAT PENGAJIANKU TERCINTA

Oktober 5, 2017
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

TEMPAT PENGAJIANKU TERCINTA

Redaksi by Redaksi
Oktober 5, 2017
in Agama, Anak, Bingkai Sekolah, Dayah, Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Siti Humaira
Pelajar Kelas IX.1 SMP N.1 Bandar Baru, Pidie Jaya
Mungkin kalau ada seseorang yang ingin pandai tentang akhirat atau ingin lebih banyak mengetahui tentang agama Islam dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tempat yang paling tepat untuk mempelajari itu adalah tempat pengajian atau sering disebut dayah. Sama halnya dengan orang tua saya, mereka ingin saya dapat mengetahui banyak hal tentang agama Islam. Mereka juga ingin agar saya dapat mengenal Allah dan tumbuh menjadi perempuan yang salehah yang menjalani kehidupan dengan aturan dan hukum Islam, serta inginkan saya dapat tumbuh menjadi seorang perempuan yang berakhlaqulkalimah. Sehingga mereka memasukkan saya ke sebuah tempat pengajian di desa saya yang bernama “Darul Fuqara’”. Waktu itu saya baru kelas 1 SD. Di sana, saya diajarkan tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Waktu pertama kali saya belajar cara membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan makhraj huruf yang benar saya tidak merasa kesulitan, karena sebelum saya masuk ke dayah tersebut, ibu saya sudah pernah mengajari saya cara membaca Al-Qur’an.
Selain itu, di sana saya juga diajarkan cara membaca kitab-kitab yang berbahasa Melayu. Saya sangat senang bisa belajar tentang Islam di sana, karena selain belajar saya dan kawan-kawan juga mengajari adik-adik yang masih Iqra’. Kitab-kitab yang pernah saya pelajari di sana adalah kitab akhirat, tajwid, kifayatul ghulam, jawakit, ibadah, riwayat nabi dan bidayah. Saya belajar di sana setelah pulang sekolah sekitar jam 14 : 00 WIB sampai 16 : 30 WIB. Saya sebenarnya ingin sekali bisa mengaji dengan irama yang bagus atau biasa disebut Qari. Itu karena ketika saya mendengar orang membaca Al-Qur’an dengan Qari seperti Nazirah Hasan, Teungku Imran dan lainnya, saya iri dengan mereka dan ingin sekali seperti mereka. Karena orang tua saya pasti akan sangat senang dan akan bangga pada saya. Selain itu saya pada waktu itu, pernah mengikuti lomba Hifahil Qur’an se-mukim pada waktu kelas IV SD mewakili kampong saya. Alhamdulillah saya mendapatkan juara 3. Biarpun tidak mendapat juara 1, orang tua saya tetap bangga pada saya dan terus mendorong saya untuk terus belajar dan belajar agar ke depannya saya dapat menjadi lebih baik lagi. 
Oh ya, yang selama ini mengajarkan saya tentang Al-Qur’an adalah ummi Habibah. Pengalaman yang sampai saat ini tak bisa saya lupakan adalah ketika saya dan teman-teman saya membantu ummi gotong royong membersihkan kawasan balai pengajian. Pada saat itu, kami bekerja sambil senda gurau dengan teman-teman. Sehingga pekerjaan kami terasa lebih menyenangkan. Saya belajar mengaji di sana lebih kurang 6 tahun. Pada waktu itu saya kelas VI SMP.
Setelah 6 tahun saya belajar mengaji di dayah Darul Fuqara’. Selanjutnya saya masuk ke balai pengajian Al-Azhar, juga dikampung saya. Pimpinan dayah Al-Azhar adalah Tengku Azharuddin. Mungkin nama Al-Azhar itu diambil dari nama Tengku Azharuddin itu sendiri. Hari pertama saya masuk ke dayah Al-Azhar, saya diantar oleh ayah saya. Hari selanjutnya saya pergi bersama teman-teman saya. Di sana kami mempelajari 8 kitab yaitu kitab awamel, matan takreb, aqidatul Islamiah (bahasa Arab), kitab akhlak, kifayatul ghulam, jawaket, dhammon dan kitab bahasa melayu lainnya. Syukur Alhamdulillah saya ditempatkan di kelas A di dayah tersebut. Saya sangat senang bisa mengaji di sana, karena selain banyak teman dan dapat mengajari anak Iqra’ mengaji, kami juga belajar kitab dengan langsung praktek.
Setiap malam minggu kami selalu mengadakan muhadarah. Kegiatan yang sering saya ambil waktu muhadarah adalah berpidato, karena jujur, saya suka berpidato. Dengan adanya muhadarah tersebut mental saya dapat menjadi lebih kuat, serta saya dapat terbiasa untuk berbicara di depan orang banyak. Dan pidato dapat membuat saya lebih mencintai membaca dan menghafal.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Kehidupan pasca-bencana di desa_11zon

Empat Bulan Setelah Air Bah itu Pergi

Maret 26, 2026

Belajar dari Depok: Tentang Kepercayaan, Kekuasaan, dan Nilai Agama

Maret 25, 2026

Ketika Anak Luput dari Kebijakan

Maret 23, 2026
SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Bisnis Café yang Ramah Lingkungan

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com