• Latest

TEMPAT PENGAJIANKU TERCINTA

Oktober 5, 2017
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

TEMPAT PENGAJIANKU TERCINTA

Redaksi by Redaksi
Oktober 5, 2017
in Agama, Anak, Bingkai Sekolah, Dayah, Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Siti Humaira
Pelajar Kelas IX.1 SMP N.1 Bandar Baru, Pidie Jaya
Mungkin kalau ada seseorang yang ingin pandai tentang akhirat atau ingin lebih banyak mengetahui tentang agama Islam dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tempat yang paling tepat untuk mempelajari itu adalah tempat pengajian atau sering disebut dayah. Sama halnya dengan orang tua saya, mereka ingin saya dapat mengetahui banyak hal tentang agama Islam. Mereka juga ingin agar saya dapat mengenal Allah dan tumbuh menjadi perempuan yang salehah yang menjalani kehidupan dengan aturan dan hukum Islam, serta inginkan saya dapat tumbuh menjadi seorang perempuan yang berakhlaqulkalimah. Sehingga mereka memasukkan saya ke sebuah tempat pengajian di desa saya yang bernama “Darul Fuqara’”. Waktu itu saya baru kelas 1 SD. Di sana, saya diajarkan tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Waktu pertama kali saya belajar cara membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan makhraj huruf yang benar saya tidak merasa kesulitan, karena sebelum saya masuk ke dayah tersebut, ibu saya sudah pernah mengajari saya cara membaca Al-Qur’an.
Selain itu, di sana saya juga diajarkan cara membaca kitab-kitab yang berbahasa Melayu. Saya sangat senang bisa belajar tentang Islam di sana, karena selain belajar saya dan kawan-kawan juga mengajari adik-adik yang masih Iqra’. Kitab-kitab yang pernah saya pelajari di sana adalah kitab akhirat, tajwid, kifayatul ghulam, jawakit, ibadah, riwayat nabi dan bidayah. Saya belajar di sana setelah pulang sekolah sekitar jam 14 : 00 WIB sampai 16 : 30 WIB. Saya sebenarnya ingin sekali bisa mengaji dengan irama yang bagus atau biasa disebut Qari. Itu karena ketika saya mendengar orang membaca Al-Qur’an dengan Qari seperti Nazirah Hasan, Teungku Imran dan lainnya, saya iri dengan mereka dan ingin sekali seperti mereka. Karena orang tua saya pasti akan sangat senang dan akan bangga pada saya. Selain itu saya pada waktu itu, pernah mengikuti lomba Hifahil Qur’an se-mukim pada waktu kelas IV SD mewakili kampong saya. Alhamdulillah saya mendapatkan juara 3. Biarpun tidak mendapat juara 1, orang tua saya tetap bangga pada saya dan terus mendorong saya untuk terus belajar dan belajar agar ke depannya saya dapat menjadi lebih baik lagi. 
Oh ya, yang selama ini mengajarkan saya tentang Al-Qur’an adalah ummi Habibah. Pengalaman yang sampai saat ini tak bisa saya lupakan adalah ketika saya dan teman-teman saya membantu ummi gotong royong membersihkan kawasan balai pengajian. Pada saat itu, kami bekerja sambil senda gurau dengan teman-teman. Sehingga pekerjaan kami terasa lebih menyenangkan. Saya belajar mengaji di sana lebih kurang 6 tahun. Pada waktu itu saya kelas VI SMP.
Setelah 6 tahun saya belajar mengaji di dayah Darul Fuqara’. Selanjutnya saya masuk ke balai pengajian Al-Azhar, juga dikampung saya. Pimpinan dayah Al-Azhar adalah Tengku Azharuddin. Mungkin nama Al-Azhar itu diambil dari nama Tengku Azharuddin itu sendiri. Hari pertama saya masuk ke dayah Al-Azhar, saya diantar oleh ayah saya. Hari selanjutnya saya pergi bersama teman-teman saya. Di sana kami mempelajari 8 kitab yaitu kitab awamel, matan takreb, aqidatul Islamiah (bahasa Arab), kitab akhlak, kifayatul ghulam, jawaket, dhammon dan kitab bahasa melayu lainnya. Syukur Alhamdulillah saya ditempatkan di kelas A di dayah tersebut. Saya sangat senang bisa mengaji di sana, karena selain banyak teman dan dapat mengajari anak Iqra’ mengaji, kami juga belajar kitab dengan langsung praktek.
Setiap malam minggu kami selalu mengadakan muhadarah. Kegiatan yang sering saya ambil waktu muhadarah adalah berpidato, karena jujur, saya suka berpidato. Dengan adanya muhadarah tersebut mental saya dapat menjadi lebih kuat, serta saya dapat terbiasa untuk berbicara di depan orang banyak. Dan pidato dapat membuat saya lebih mencintai membaca dan menghafal.
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Bisnis Café yang Ramah Lingkungan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com