
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Nana AprilyaSiswi Madrasah Tsanawiyah Swasta, Juli, Bireun, Aceh Ketika tirai mulai terbukaSang surya menampakkan sinarnyaKulihat segenap harapan jiwaImpikan hayalan menjadi nyata Kususuri jalan setapakTak lebar namun menggairahkanWalau banyak rintanganKuhempas dengan tekad yang kuat Di tengah perjalananMata mengalihkan pandanganPada dua insan cilikMenadahkan tangan mata memelas Timbul rasa iba di hatikuKu dekati mereka, sembari bertanyaApa yang kalian lakukan disiniTidakkah kalian bersekolahDimana ayah dan ibu kalian? Suara lembut mereka mulai menyahutKami di sini mencari uangBekerja keras untuk bisa makanKami tak bisa bersekolahKami sendiri tak ada ayah tak punya ibu Mataku pedih penuh haruPertanyaan dalam hati beralih pada duniaTidakkah kau peduli pada merekaKau biarkan mereka terlantarDimanakah pedulimu wahai dunia?Pedulimu membuka harapan mereka
Baca SelengkapnyaDetailsSURAT UNTUK DUA DARA SATU AGAM(Untuk Tiga Buah Hati) Kurebahkan sukma dengan balutan jasad yang mulai rentalangkah kaki tak lagi seimbangtangan...
Baca SelengkapnyaDetails(Khayalis: Syam S)Ada harapan yang asyik diam-diam munculKetika kurengkuh dayung bidukku hari iniMelepas beban berat menindihOmbak yang tersibak tak...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani YunisPerempuan itu terengah-engahMelahirkan bait-bait puisi di tanah basahDitariknya garis lurus mengikuti panahSemua luka tumpahBerdarahMewarnai warkahMenjadi sajak -sajak IndahPenawar...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Nova JuliaMahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN-Ar-Raniry, Banda Aceh4+Tanpa terasa kau sudah berbakti untuk negri...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani YunisihatTataplumat dalam-dalamPejamkan mata sejenakRasakan senyum mengulumsuka, ceria dan gembiradi balik luka mengangaitulah harudalam wajah-wajah lugumenyemburkan rindupada masa-masa baruLihatlah wajah lucusedikit...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: MardianaGuru MIN 5 Kota Banda AcehMutiara kelana.....Di ufuk timur matamu mulai pecah memerahmenyelinap muncul di bawah perahu sang bundaSuara terisak...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Faizan NubzaSambut sebuah hari dalam kerinduan yang telah menepi ke sebuah kalbuRasanya kerinduan itu enggan berlayar ke kalbu yang lainNamun apa...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh MaulidaKelas XIII SMA Negeri 2 Sampoiniet, Aceh Jaya Akhir dari sebuah ceritaPilu, lara tenggelam bersama senjaTak banyak aksara yang dapat...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani YunisDari titik adabersua di ujung senggamaasal mula manusiaAllah meniupkan ruh dalam jiwaMaka adaRahasia Sang Pencipta Tak ada yang mampu...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com