Menanti Pagi
Oleh Tabrani Yunis Pagi telah pergi Melambung tinggi Seperti dalam bait puisi Setia membunuh sepi Bukan kerana sendiri...
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin. Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Tabrani Yunis Pagi telah pergi Melambung tinggi Seperti dalam bait puisi Setia membunuh sepi Bukan kerana sendiri...
Oleh Tabrani Yunis Di sela-sela dedaunan Di balik ranting-ranting Di lembah-lembah dan perbukitan Burung-burung bersenandung Riuh riang memainkan...
Oleh Tabrani Yunis Tanggal dua puluh delapan bulan Juli, tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh enam, Kau hadir...
Esok Masih Tiada Aku. Oleh Wan Ina Nur Fazlina Malaysia Esok , maafkan Aku Kerana belum berubah...
Oleh Zab Bransyah Langkah doa bagimu Perjuangan panjang kawan Pengorbanan jiwa Penjagaan cinta tanah kelahiran catatan cinta...
Sesat Jiwa Savitri Jumiati Tergigil kelu mati mengkoma Tika rinai di hujan deras itu Kau tikamkan sehunus belati...
– Rosli K. Matari Berdomisili di Malaysia – Zab Bransah, kota Langsa *Kurenung malam lewat* *bagai kopi...
Candi di Atas Sawah Padi Oleh Agus Sanjaya Di atas gunung penanggungan, aku dan putriku bersarang. Setiap...
Pagi Lebaran Delia Rawanita Takbir bergema sejak semalam Beduk bertalu talu Hari bahagia tiba ” Yuk, salat...