Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Malaysia Sekiranya pagi ini.. Beribu rintik turun dari awan.. Pintalah setitik .. Buat menikmati kesejukan nikmat pemberian Tuhan... Kerana semuanya...
Karya Usfa Sri Rezeki. Kasih.... Di saat kumarah Diamlah sejenak.... Dengarkan saja apa kataku.... Karna itu cuma sekadar kata-kata pelampiasanku....
 Oleh : Muslailati Sebab karena apa muncul pertikaian Sebab karena apa muncul perselisihan Sebab karena apa muncul peperangan Sebab...
Oleh Usfa Sri Rezeki Ma, izinkan anakmu mengukir wajahmu di angan Kan kuwarnai dengan sejuta warna Kan kubingkai wajahmu dalam...
Nurdin F.Joes: Belum reda takut kami kepadamu Ketika engkau menghardik dengan keras saat kami telat tiba di sekolah. Kami tak...
Oleh Wan Ina Nurfazlina Ke sana ke mari Kita .. Bagai langkah sedang mencari titik henti... Sini ! Titik. Berhenti...
Ketika hujan turun tadi sore.. Menjelang senja di kotaku.. Terhenti aku melangkah.. Hujan tak kunjung reda.. Aku ingat secangkir kopi.....
    (Khayalis: Syam S) Mentari pagi di kaki langit ingin kudekat Binar meranum di ujung awan Sedikit...
Oleh Zulkifli Abdy Perhelatan telah apik dikemas dan altar untuk petinggi negeri sudah pula berdiri megah Alasan untuk membenarkan helat...
Oleh Zab Bransah Langsa, Aceh Puitis sangat bacaan dato' pasti penuh misteri cinta ternoda Kisah dan rinduku Ingin bersama lagi...
© 2026 potretonline.com






