Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Ria Andelia Dulu, senjata api yang menembak Pedang yang mengiris Suara tangis yang mengalun Bersahutan dengan teriak kesakitan Darah...
Karya Asep Perdiansyah Senyum warnamu menawan Embun menetes dari dedaunan Cahaya matahari bertahan Bunga mulai bermekaran ​Kupu-kupu berterbangan aneka warna...
Oleh Zulkifli Abdy Rembulan.., Tiba-tiba saja aku merasa kehilangan ketika kutahu engkau tak menyapa Ingin rasanya aku memandang Bahkan bila...
*Karya Zab Branzah* *MERINDUI GIGIL* Gigilkah yang mengantar rindu pada kota egypte van andalas yang kabutnya jadi selimut pagi dan...
SENYUM KEMATIAN Sekuntum puisi liar adalah senyum Ada duri dalam dongeng bibirnya Intrik dingin pada tubuh kenang Tak bisa...
Seulangaku di Balik Jeumpa         (Ali Kusas) Seulangaku mekar berjajar Menyapa nyanyian prenjak menari...
Oleh Tabrani Yunis Lembah Seulawah gelisah Rerumputan menyerah kalah Panasnya nyala api pemusnah Membakar ilalang dan semak-semak di tanah...
OTAK Pikir ini pikir itu dengan otak Tipu sana tipu sini pakai otak Suara demonstrasi semangat otak Penguasa tak...
Oleh Zab Bransah Berdomisili di Langsa, Aceh Menanti malam seribu bulan perjalan jiwa beriman pengembara kasih sayang Di setiap...
ALIF Sepotong cahaya masuk surga. Menjadi adam yang terpenjara. Pelangi tiba-tiba bertanya, itu buah apa namanya. Benih rindu tertanam berpijar...
© 2026 potretonline.com






