
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
By - Bert Cacayan in The Philipine People say that You, Planet Earth, are lonely because there is no...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Syamuarni Setia Hari ini cerah sahabatku Dan salam hangat buat semua Kita bisa hadir lagi di bumi pertiwi...
Baca SelengkapnyaDetailsKehidupan selalu bahagia Hidup itu perjuangan Jangan berpikir sampai itu saja Kau perlu melihat luasnya dunia Ada orang yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Ria Andelia Guru, judul yang tak pernah sirna Dimana sosok dia seorang pengajar Yang mengajarkan muridnya Dengan baik dan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Julia Ikin Antara laut dan langit kupilih menanti debur ombak di setiap desah perkhabaran Antara sepoi membelai dan terik...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Zab Bransah di sekian senja mencari diri dDe di sekian rindu semakin dekat di sekian nyanyian melodi senja...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Zab Bransah Malam ini kesepian menanti bintang berkilau di atas sana bulanpun malu-malu menutup diri di balik awan malam...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Mustiar Ar ...
Baca SelengkapnyaDetailsBULAN DI PUNCAK MALAM (Khayalis: Syam S) Bulan di puncak malam Basah, basah, basah Basah hatiku Indah, indah, indah Indah...
Baca SelengkapnyaDetailsSavitri Jumiati Kopi itu Kelat kureguk Kucari bayangmu Ah, rindu Kau beku Waktu kian berlalu Kembali hujan bertamu Oktober bermukim...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com