Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Nah, Ngopi Sore Ini Menjadi Lebih Meriah - Tabrani Yunis *Kita ngopi sore ini.* *Lupakanlah jam delapan tadi* *yang telah...
Nurdin F.Joes: Tiba di kampung Aku mengukur jumlah jalan yang masih berlumpur jalan lama tempat belajar mendayung sepeda Menghitung jumlah...
Oleh: Breaking Reza Guru MIN Tungkop, Aceh Besar Sajak-sajak yang terbang mencari tujuan Berisi ungkapan terpendam Memohon untuk tiba...
Oleh Zulkifli Abdy Niscaya tak akan kulewatkan detik demi detik kembara ini Kecuali kudengar dulu gemeretak suara gelagar rel yang...
Oleh Zab Bransah Sinar menyinari tanah Aceh Darussalam di sini para putra putri negeri menuntuk ilmu Sinar jalan dunia...
MATA BIRU Mustiar Ar Gerai rambut si mata biru Samar kuintai dari balik mobil...
Oleh Muhammad Adid AB. Rahman Berdomisili di Malaysia Matahari terbit saban pagi dan terbenam di ufuk barat hamburkan cahaya...
Masih Adakah Harumnya Bunga Kupula - Zab Bransah, Sajak ke - 3 Aku tidak muda lagi, tidak ada satu detik...
Oleh Rosli K. Matari Di Malaysia - Zab Bransah, kota Langsa *Kurenung...
Oleh Fajar Kiranya aku tahu benar, mengapa hanya aku yang tertawa karena membenarkan perilaku yang tidak benar. Ah sudah-lah. Manusia...
© 2026 potretonline.com