Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Siti Zahara Tarmizi Apa itu 17 Agustus? Hari kemerdekaan Indonesia kah? Begitukah tuan? Semua orang akan berkata iya Namun...
Oleh : Zab Bransah Hari ini janji dari penjanjian empat puluh empat hari pada perjanjian Untuk oksigen pada perjalanan hidup...
Oleh Tabrani Yunis Kembalikan malam pada malam Biarkan gelap menggumpal dan kelam Biarkan bulan menebarkan senyum Agar malam tetap temaram...
Di Ujung Pematang Di ujung pematang engkau menyapaku... Di ujung ...kau memangkilku... Putih di antara burung pipit Beterbangan melingkari padi...
Jauh sebelum hari ini Kita adalah sepasang mimpi yang memiliki tujuan sama Hingga pada akhirnya, Janji-janji yang terapung tanpa...
Gerik Pintu Bambu Pada suatu pagi Aku berjalan jalan Hingga ke lorong -lorong sepi Kedengar dan kulihat kakek tua...
Mustiar Ar DOA SEORANG PELACUR Seorang perempuan muda Di hempas terik Pada jalan mendaki Mimpinya sekerat rupiah Bagi mulut mungil,...
BISIK ALAM Angin bertiup Awan berarak dalam keheningan Hujan rintik bercucuran memberi kenikmatan Fa bi aiyyi ala irabbikuma tukazziban Nikmat...
DIAM Waktu menguji dengan perpisahan jarak menguji dengan rindu air mata adalah hujan ikhlas jatuh di dada jika sudah terangkai...
Oleh Alkhair Aljohore Namamu cukup menawan Sejuk mata memandang Rindu membelai jiwa. Yang kutunggu selendang tali kerabatmu belum kesampaian Ntah...
© 2026 potretonline.com






