
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
SAHABAT, MARI MUHASABAH DIRI (Buat sahabat-sahabat dalam kolam perjuangan ini) sahabat, kita ramai pada bilangan tapi suara sedikit kedengaran banyak...
Baca SelengkapnyaDetailsKepada DSO Oleh Zab Branşa Dirimu Sinar mentari berikan padaku akan segala ketetapan hati ingin kumiliki Ada cinta betapa indah...
Baca SelengkapnyaDetailsMENCARI RAHMAT-MU Rejab menyinar membawa wadah tanah kerilkil kucangkul jadikan batas takwa membina sebuah impian menyusun wirid berulang tafakur menyebut...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani Yunis Kawan, sedang di manakah kita Apakah mungkin kita tlah lupa Suatu ketika negeri kita dilanda duka nestapa...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Moh. Ghufron Cholid Berdomisili di Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura Malam ini, saya bertemu...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani Yunis Di masjid-masjid,malam ini Sepi tlah darı tadı menepi Orang-orang mengaji Mengisi relung hati Di bulan Ramadan ini,...
Baca SelengkapnyaDetailsAwal perjalanan kehadiran cinta kasih sayang bunda. Air mata hangat tersenyum dia Dirimu menangis Puja puji bunda bersyukur untuk menyambut...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosli K. Matari Malaysia kuterima musim gugur ini sebagai jiwa, nurani alam, walau sehelai daun, senyap, sepi harus luruh...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Suwarni Mudah kata orang Tapi bagiku tidak Aku merangkak menitinya Penuh tetesan keringat dan air mata Kutiti jalan setapak...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosli K Matari dalam angin, kudengar musim luruh membisik kata-kata, bergetar rawan dan luluh "hidup ini, sekadar masyrik matahari...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com