
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
NYALA DI UJUNG RENCONG (Syair Perang untuk Tanah yang Tak Pernah Tunduk) Dengarlah wahai pewaris tanah, Rencong bersinar di genggam...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Jengki Sunarta Apa Perlu Judul? Aku adalah kertas basah yang terbakarMatahariMenyala di tepi hariYang hilang dalam lautan Apa semua...
Baca SelengkapnyaDetailsPenulis seorang pesara kerajaan. Mula giat menulis melalui puisi dan sajak serta antologi cerpen. Ahli pertubuhan Penulis Isu Wanita Nasional...
Baca SelengkapnyaDetailsAi pipih adalah Ai lundeng nama pena yang diberikan oleh ayah tercintanya,dia lahir di Purwakarta tahun 1972,selain seorang ibu rumah...
Baca SelengkapnyaDetailsDI BAWAH LANGIT' YANG SAMA Kita bersaudaraTanpa batas negaraErat dalam ikatan kasih sayangBersama kita ciptakan dunia sejahteraDamai dan harmoniUntuk semuaTanpa...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: IhwaL Benz Satriadji pujangga semarak kurator merebak laksana buih ombak algoritma memamah biak tak perduli tentang rasa berharap kemurnian...
Baca SelengkapnyaDetailsBayang-bayang Kemiskinan Di tengah kota, yang sibuk dan ramaiTerdapat bayangan, yang tersembunyiKemiskinan, yang menyerang dengan ganasMengambil harapan, dan meninggalkan kesedihan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani Yunis Hujan turun sejak semalam hingga fajar datang menyulam kelam Daun-daun yang terkulai kusam merimbun dalam cahaya temaram...
Baca SelengkapnyaDetailsDalam kesunyian, aku merasakanmu Cinta yang tak terucap, namun terasa begitu nyata Dalam diam, aku melihatmu Dengan mata yang berbicara,...
Baca SelengkapnyaDetailsSenyum TulusOleh: Hajriah RE Sapa dan canda terlontar lepasWajah ceria hias senjaSeiring mentari, kembali ke peraduanBinar cahayanya menerpa, senyum indah...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com