Oleh: Syarifudin Brutu Aku bersumpah dengan nama-Mu, Tuhan yang tak butuh jidatku menciumi debu, Tapi Tuhan yang menarik pundakku, menyuruhku bangkit, Hanya agar aku sanggup...
Baca Selengkapnya
Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.
Oleh: Syarifudin Brutu Aku bersumpah dengan nama-Mu, Tuhan yang tak butuh jidatku menciumi debu, Tapi Tuhan yang menarik pundakku, menyuruhku bangkit, Hanya agar aku sanggup...
Baca SelengkapnyaOleh: Syarifudin Brutu Di ketiak peta Aceh, tepat di mana rawa-rawa Singkil menguapkan aroma lumpur dan air mata,...
Baca SelengkapnyaOleh: Syarifudin Brutu Arunika menyelinap malu-malu di celah ventilasi, mencoba mencium bumi dengan hangatnya. Namun di dalam kotak...
Baca SelengkapnyaOleh: Syarifudin Brutu Di pinggiran sebuah sungai yang warnanya lebih mirip kuah opor basi bercampur oli, tiga entitas...
Baca SelengkapnyaOleh: Syarifudin Brutu Lampu neon di langit-langit RUPBASAN berkedip sekarat, seperti napas hukum di negeri ini: hidup segan,...
Baca SelengkapnyaOleh: Syarifudin Brutu Lampu-lampu selasar gedung bahasa mulai berkedip layaknya mata pesakitan yang menahan sakaratul maut. Di sana, Malim duduk...
Baca Selengkapnya Hu, sirna hu… Tanahku dalam Hu Napas di kerongkongan Hu Yang fana peluk yang baka. Hap, telan...
Baca SelengkapnyaOleh: Syarifudin Brutu Di Negeri Gemah Ripah, Tuhan adalah kata benda yang paling sibuk, tapi paling kesepian. Nama-Nya...
Baca SelengkapnyaOleh: Syarifudin Brutu Di beranda ini, tanah masih menyimpan sisa bah Lembab oleh air mata yang belum sempat...
Baca Selengkapnya