Oleh: Ririe Aiko _Penulis dan Konten Kreator_ Di tahun 2006, dari rekaman Google Earth, tampak sebuah rumah klasik bergaya kolonial tropis di sudut Kota Bandung....
Baca Selengkapnya
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.
Oleh: Ririe Aiko _Penulis dan Konten Kreator_ Di tahun 2006, dari rekaman Google Earth, tampak sebuah rumah klasik bergaya kolonial tropis di sudut Kota Bandung....
Baca SelengkapnyaOleh: Ririe AikoKreator Puisi Esaitiktok @ririeaiko_djaf(Puisi esai ini difiksikan dari realitas sosial tentang ketimpangan penghargaan terhadap tenaga pendidik...
Baca SelengkapnyaOleh : Ririe AikoKreator Puisi EsaiTiktok @ririeaiko_djaf (Puisi esai ini didramatisasikan berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada Juni...
Baca SelengkapnyaOleh: Ririe Aiko Pagi itu, seperti biasa saya berangkat menuju tempat kerja. Sebelum memesan ojek online, saya sempat...
Baca SelengkapnyaOleh : Ririe AikoPenulis Ketika menyaksikan video final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 yang diselenggarakan MPR...
Baca SelengkapnyaOleh : Ririe AikoPenulisBeberapa hari yang lalu, saya meluangkan waktu untuk menonton Ghost in the Cell. Jujur saja,...
Baca SelengkapnyaDi baskom seng yang dingin dan sempit,air mengendap dalam anyir yang pekat.Capit-capit kecil beradu lirih,merayap pelan di dasar...
Baca SelengkapnyaOleh: Ririe AikoKreator Puisi Esai(Puisi esai ini merupakan dramatisasi dari kisah yang viral di media sosial tentang seorang...
Baca Selengkapnya