POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

‎Ilmu yang Tumbuh Subur di Negeri Orang

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Juni 26, 2026
in Puisi Essay
0
b467593a-1301-4606-8ee4-06f274073170


‎
‎Oleh: Ririe Aiko
‎Kreator Puisi Esai
‎tiktok @ririeaiko_djaf
‎
(‎Puisi esai ini difiksikan dari realitas sosial tentang ketimpangan penghargaan terhadap tenaga pendidik di Indonesia, yang tercermin dari perbedaan apresiasi terhadap pengabdian di dalam negeri dan kesempatan profesional di luar negeri.)(1)
‎
‎—000—
‎
‎Hartono pernah percaya
‎bahwa ilmu adalah jalan pulang terbaik.
‎
‎Ia tumbuh dari keluarga sederhana,
‎membawa mimpi yang tidak besar
‎hanya ingin menjadi orang yang berguna.
‎
‎S1 selesai.
‎S2 ia kejar hingga ke negeri orang,
‎dengan sisa tenaga, doa, dan hutang waktu.
‎Ia kembali pulang,
‎membawa cintanya pada negeri
‎seperti doa yang tak pernah ia lepaskan dari dada,
‎ia peluk niat itu sebagai keyakinan yang tak pernah padam.
‎
‎—000—
‎
‎Hari pertama ia menjadi dosen,
‎ia berdiri di depan kelas
‎dengan dada menggebu penuh harapan
‎
‎“Pak, kita mulai dari teori ini,” katanya.
‎
‎Mahasiswa menatap.
‎
‎Tapi di balik papan tulis itu,
‎hidupnya pelan-pelan
‎mulai kehilangan napas.
‎
‎Gaji datang seperti rintik gerimis
‎cukup untuk membasahi,
‎tidak pernah cukup untuk menyuburkan. (2)
‎Lalu malam-malam berubah wujud,
‎meja baca tak lagi dipenuhi buku-buku penelitian,
‎melainkan lembar tagihan yang tak pernah lunas.
‎Ia tak bersuara,
‎namun menghantam seluruh isi rumah.
‎
‎Listrik. Sewa. Sekolah anak.
‎Satu per satu nama itu
‎menjadi tekanan di dada.
‎
‎Hartono mulai menghitung ulang hidupnya
‎Ia tak lagi membaca jurnal.
‎Dan setiap kali selesai menghitung,
‎angka-angka itu selalu kalah oleh kenyataan.
‎
‎—000—
‎
‎Suatu malam, anaknya demam tinggi.
‎
‎Tubuh kecil itu menggigil
‎di pangkuan istrinya.
‎
‎“Pa… panas…”
‎suara itu pelan,
‎tapi cukup untuk merobek sesuatu di dalam dirinya.
‎
‎Hartono berlari ke apotek,
‎menjual waktu, tenaga, dan sisa harga dirinya
‎untuk obat yang harus ditebus malam itu.
‎
‎Di jalan pulang,
‎hujan turun tanpa izin.
‎
‎Dan untuk pertama kalinya
‎ia tidak tahu
‎apakah ia sedang pulang sebagai ayah,
‎atau hanya seseorang yang dikhianati oleh pengabdian.
‎
‎—000—
‎
‎Di rumah,
‎ia duduk lama di samping ranjang kecil itu.
‎Tangannya gemetar saat memegang kuitansi.
‎
‎Tak seberapa nilainya,
tetapi menjelma sesak didadanya.
‎
‎Dalam diam,
‎sesuatu di dalam dirinya berkata pelan:
‎
‎“Mengapa pengabdian pada negeri, tidak mampu menghidupi keluargaku?
‎Apakah ini sebuah pengabdian atau cinta yang bertepuk sebelah tangan?”
‎
‎Tidak ada jawaban.
‎
‎Hanya napas anaknya
‎yang perlahan mulai stabil.
‎
‎—000—
‎
‎Beberapa hari kemudian,
‎Hartono berdiri di depan cermin.
‎Matanya tidak lagi sama.
‎
‎Ia membuka laptop.
‎Mencari lowongan.
‎
‎Bukan karena menyerah mengabdikan ilmu,
‎tetapi karena mulai ragu
‎apakah negeri masih mampu menghargai ilmunya?
‎
‎Di layar itu,
‎tawaran dari negeri luar muncul.
‎
‎Gaji layak. Fasilitas. Penghargaan akademik.
‎
‎Sesaat, ia terdiam lama.
‎Dihadapan luka yang sejak lama meminta disembuhkan
‎
‎Malam itu Hartono menatap langit,
‎dengan mata yang perlahan basah oleh sesuatu yang tak ia beri nama.
‎Kali ini tak ada lagi perdebatan yang bersuara di kepalanya.
‎Ia hanya ingin hidup
‎Tanpa harus mengemis angka
‎Pada negeri yang tak membalas cintanya
‎
‎—000—
‎
‎Beberapa bulan kemudian,
‎Hartono berdiri di bandara.
‎
‎Tidak ada perayaan.
‎Tidak ada perpisahan.
‎Tidak ada tangis kehilangan.
‎
‎Hanya beberapa koper,
‎dan satu keluarga yang belajar
‎bahwa cinta kadang tidak selalu tinggal di tempat yang sama.
‎
‎Ia menatap ke belakang sekali saja.
‎
‎Bukan untuk mengutuk,
‎tetapi untuk mengingat.
‎Bahwa ia pernah mencoba mengabdi
‎Namun tak kunjung dihargai
‎
‎—000—
‎
‎Di negeri yang baru itu,
‎Hartono tidak lagi mengajar di ruang sempit dengan gaji pas-pasan.
‎
‎Ia kembali menjadi peneliti.
‎Dihargai. Diperhitungkan.
‎
‎Namanya disebut dengan gelar.
‎
‎Namun setiap kali ia mendengar kata “profesor”,
‎ia selalu ingat satu hal:
‎
‎bahwa pernah ada versi dirinya
‎yang pulang ke rumah
‎dengan tangan kosong
‎meski penuh ilmu.
‎
‎Dan di antara dua kehidupan itu,
‎ia akhirnya mengerti:
‎
‎bahwa tidak semua orang yang meninggalkan tanah air (3)
‎tidak mencintainya.
‎
‎Kadang mereka pergi
‎karena terlalu lama
‎berjuang di tempat yang tidak memberi cukup ruang untuk bisa bertahan.
‎
‎CATATAN
‎(1)https://duniadosen.com/inspirasi/simak-kisah-dosen-berprestasi-asal-indonesia-di-luar-negeri/)
‎(2)https://www.google.com/amp/s/mojok.co/liputan/sekolahan/dosen-gaji-di-bawah-umr/amp/
‎(3)https://www.idnfinancials.com/id/news/55772/gaji-kecil-talenta-muda-indonesia-memilih-eksodus-ke-luar-negeri

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
6dc68a3c-bc22-4d55-a0a2-58197bd49e5c

Isu Korupsi, Kriminalisasi Kerugian Bisnis dan Perlunya Dewan Business Judment Rule

Please login to join discussion
POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah