Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
tiktok @ririeaiko_djaf
(Puisi esai ini difiksikan dari realitas sosial tentang ketimpangan penghargaan terhadap tenaga pendidik di Indonesia, yang tercermin dari perbedaan apresiasi terhadap pengabdian di dalam negeri dan kesempatan profesional di luar negeri.)(1)
—000—
Hartono pernah percaya
bahwa ilmu adalah jalan pulang terbaik.
Ia tumbuh dari keluarga sederhana,
membawa mimpi yang tidak besar
hanya ingin menjadi orang yang berguna.
S1 selesai.
S2 ia kejar hingga ke negeri orang,
dengan sisa tenaga, doa, dan hutang waktu.
Ia kembali pulang,
membawa cintanya pada negeri
seperti doa yang tak pernah ia lepaskan dari dada,
ia peluk niat itu sebagai keyakinan yang tak pernah padam.
—000—
Hari pertama ia menjadi dosen,
ia berdiri di depan kelas
dengan dada menggebu penuh harapan
“Pak, kita mulai dari teori ini,” katanya.
Mahasiswa menatap.
Tapi di balik papan tulis itu,
hidupnya pelan-pelan
mulai kehilangan napas.
Gaji datang seperti rintik gerimis
cukup untuk membasahi,
tidak pernah cukup untuk menyuburkan. (2)
Lalu malam-malam berubah wujud,
meja baca tak lagi dipenuhi buku-buku penelitian,
melainkan lembar tagihan yang tak pernah lunas.
Ia tak bersuara,
namun menghantam seluruh isi rumah.
Listrik. Sewa. Sekolah anak.
Satu per satu nama itu
menjadi tekanan di dada.
Hartono mulai menghitung ulang hidupnya
Ia tak lagi membaca jurnal.
Dan setiap kali selesai menghitung,
angka-angka itu selalu kalah oleh kenyataan.
—000—
Suatu malam, anaknya demam tinggi.
Tubuh kecil itu menggigil
di pangkuan istrinya.
“Pa… panas…”
suara itu pelan,
tapi cukup untuk merobek sesuatu di dalam dirinya.
Hartono berlari ke apotek,
menjual waktu, tenaga, dan sisa harga dirinya
untuk obat yang harus ditebus malam itu.
Di jalan pulang,
hujan turun tanpa izin.
Dan untuk pertama kalinya
ia tidak tahu
apakah ia sedang pulang sebagai ayah,
atau hanya seseorang yang dikhianati oleh pengabdian.
—000—
Di rumah,
ia duduk lama di samping ranjang kecil itu.
Tangannya gemetar saat memegang kuitansi.
Tak seberapa nilainya,
tetapi menjelma sesak didadanya.
Dalam diam,
sesuatu di dalam dirinya berkata pelan:
“Mengapa pengabdian pada negeri, tidak mampu menghidupi keluargaku?
Apakah ini sebuah pengabdian atau cinta yang bertepuk sebelah tangan?”
Tidak ada jawaban.
Hanya napas anaknya
yang perlahan mulai stabil.
—000—
Beberapa hari kemudian,
Hartono berdiri di depan cermin.
Matanya tidak lagi sama.
Ia membuka laptop.
Mencari lowongan.
Bukan karena menyerah mengabdikan ilmu,
tetapi karena mulai ragu
apakah negeri masih mampu menghargai ilmunya?
Di layar itu,
tawaran dari negeri luar muncul.
Gaji layak. Fasilitas. Penghargaan akademik.
Sesaat, ia terdiam lama.
Dihadapan luka yang sejak lama meminta disembuhkan
Malam itu Hartono menatap langit,
dengan mata yang perlahan basah oleh sesuatu yang tak ia beri nama.
Kali ini tak ada lagi perdebatan yang bersuara di kepalanya.
Ia hanya ingin hidup
Tanpa harus mengemis angka
Pada negeri yang tak membalas cintanya
—000—
Beberapa bulan kemudian,
Hartono berdiri di bandara.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada perpisahan.
Tidak ada tangis kehilangan.
Hanya beberapa koper,
dan satu keluarga yang belajar
bahwa cinta kadang tidak selalu tinggal di tempat yang sama.
Ia menatap ke belakang sekali saja.
Bukan untuk mengutuk,
tetapi untuk mengingat.
Bahwa ia pernah mencoba mengabdi
Namun tak kunjung dihargai
—000—
Di negeri yang baru itu,
Hartono tidak lagi mengajar di ruang sempit dengan gaji pas-pasan.
Ia kembali menjadi peneliti.
Dihargai. Diperhitungkan.
Namanya disebut dengan gelar.
Namun setiap kali ia mendengar kata “profesor”,
ia selalu ingat satu hal:
bahwa pernah ada versi dirinya
yang pulang ke rumah
dengan tangan kosong
meski penuh ilmu.
Dan di antara dua kehidupan itu,
ia akhirnya mengerti:
bahwa tidak semua orang yang meninggalkan tanah air (3)
tidak mencintainya.
Kadang mereka pergi
karena terlalu lama
berjuang di tempat yang tidak memberi cukup ruang untuk bisa bertahan.
CATATAN
(1)https://duniadosen.com/inspirasi/simak-kisah-dosen-berprestasi-asal-indonesia-di-luar-negeri/)
(2)https://www.google.com/amp/s/mojok.co/liputan/sekolahan/dosen-gaji-di-bawah-umr/amp/
(3)https://www.idnfinancials.com/id/news/55772/gaji-kecil-talenta-muda-indonesia-memilih-eksodus-ke-luar-negeri

