POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Secarik Surat dari Pencuri

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Juni 17, 2026
in Puisi Essay
0
9c8d4f49-64b2-49bc-ae3b-b0ceba62a8b4

Oleh : Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
Tiktok @ririeaiko_djaf

‎(Puisi esai ini didramatisasikan berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada Juni 2026, ketika seorang pria di Mojokerto mencuri uang dari sebuah toko kelontong dan meninggalkan surat permintaan maaf kepada pemilik toko karena terdesak untuk membayar biaya sekolah anaknya.) (1)
‎
‎—000—
‎
‎Malam itu,
‎di sebuah toko kelontong,
‎lampu neon menggantung pucat.
‎Rak-rak mi instan berdiri diam.
‎Toples berisi permen dan biskuit
‎memantulkan cahaya redup.
‎
‎Di antara kesunyian itu,
‎seorang lelaki kurus dengan tubuh ringkih
‎mencongkel pintu masuk.
‎Ia tak membawa daftar belanja.
‎Tak ada keranjang di tangannya.
‎Tak ada uang di saku celananya.
‎Yang ia bawa hanyalah tenggat pembayaran sekolah yang jatuh tempo.
‎
‎Langkahnya tergesa.
‎Sorot matanya tak menyimpan kebengisan.
‎Ada ragu yang berulang kali singgah di ujung jemarinya.
‎
‎Telapak tangan yang biasa mencari nafkah itu, kini menyentuh sesuatu yang bukan haknya
‎
‎Berulang kali hatinya berontak
‎”Aku tak ingin jadi pencuri.”
‎Tapi pintu yang tertutup
‎Mendesaknya hingga ke tepi.
‎
‎Malam itu,
‎Di depan laci kasir,
‎Ia terdiam lama.
‎Menoleh ke kiri.
‎Menoleh ke kanan.
‎Tak ada siapa-siapa.
‎Hanya suara napasnya sendiri
‎yang berdegup lebih keras
‎daripada detak jam dinding.
‎
‎Perlahan ia membuka laci itu.
‎Tangannya gemetar.
‎Bukan karena takut tertangkap.
‎Melainkan karena nuraninya masih hidup.
‎Di dadanya ada perang yang tak bersuara
‎
‎Tapi ia bisa apa?
‎Ia hanya lelaki miskin
‎Yang tak punya kuasa
‎Di negeri ini,
‎suara jeritannya kerap tenggelam
‎di antara pidato-pidato kesejahteraan.
‎
‎—000—
‎
‎Di dalam laci yang setengah koyak,
‎Bertumpuk lembaran rupiah.
‎Jumlahnya tak sedikit
‎Tapi tak semuanya ia ambil
‎
‎Untuk sesaat,
‎ia ingin menutup laci itu kembali.
‎Pulang.
‎Menyerah.
‎Membiarkan nasib mengambil keputusan.
‎
‎Namun ia adalah seorang ayah.
‎Di dadanya,
‎ada satu mimpi yang terus ia jaga.
‎Mimpi yang tak boleh roboh oleh keadaan.
‎Ia ingin anaknya tetap melangkah.
‎Jauh, melampaui batas-batas kemiskinan
‎Tak gugur sebelum mencapai tujuan.
‎
‎Akhirnya ia pun mengambil uang itu.
‎Tak semua
‎Hanya 352 ribu rupiah
‎
‎Seketika uang itu berubah
‎menjadi bangku sekolah.
‎Menjadi masa depan anaknya
‎
‎Dengan mata basah,
‎ia menulis sepucuk surat
‎
‎””Assalamualaikum, Pak…”
‎”Pangapunten ingkang kathah…”
‎”Kulo kepepet, Pak…”
‎”Nyuwun pangapunten…”
‎”Sekolah anak kulo mboten saged dipun tunda…”
‎”Kulo janji badhe ngangsur lan nglunasine…” (2)
‎
‎Tak ada bahasa yang indah.
‎Tak ada pembelaan.
‎Hanya permohonan maaf dari seorang ayah yang sedang mempertaruhkan harga diri demi masa depan anaknya.
‎
‎—000—
‎
‎Beberapa hari kemudian,
‎lelaki itu kembali
‎Bukan untuk mencuri lagi
‎Tapi untuk menepati janji
‎lembaran rupiah ia kembalikan
‎Jumlahnya kecil.
‎Jauh dari nilai yang pernah ia ambil.
‎
‎Dengan kepala tertunduk,
‎ia menyerahkan uang itu
‎Hati pemilik toko trenyuh
‎Ia bukan sedang melihat penjahat
‎Tapi ia sedang menyaksikan korban
‎Dari ketimpangan sistem
‎
‎”Pak, maaf saya belum bisa mengembalikan semua uangnya, tapi saya janji akan mencicilnya sedikit demi sedikit”
‎
‎Tak ada pembelaan.
‎Tak ada alasan
‎Ia hanya berdiri diam.
‎Diantara wajah kemiskinan
‎Yang mewakili luka di balik angka-angka.
‎
‎Kedua anaknya berdiri
‎menyaksikan beban berat yang dipikul ayahnya
‎Tangan mungil itu mengusap gurat-gurat letih di wajah sang ayah.
‎”Pak, biarlah aku tak usah sekolah lagi”
‎
‎Hati sang ayah terasa remuk
‎Ia menggenggam tangan anaknya erat.
‎”Tidak, Nak.”
‎”Tetaplah sekolah.”
‎”Belajarlah setinggi mungkin.”
‎”Jika kelak kau menjadi pemimpin, jangan biarkan rakyatmu hidup seperti Ayah hari ini.”
‎
‎Lelaki itu memeluk anaknya erat.
‎Di pelupuk matanya,
‎air mata jatuh pelan.
‎
‎Hari itu ia menjadi satu dari jutaan suara yang tinggal di negeri yang kaya
‎Tapi kesejahteraan tersesat
‎Di lorong-lorong para elite (3)
‎
‎Catatan:
‎(1)https://regional.kompas.com/read/2026/06/16/151710378/kepepet-biaya-sekolah-anak-pencuri-yang-tinggalkan-surat-di-mojokerto?page=all
‎(2)https://www.instagram.com/reel/DZhGDTZCsBE/?igsh=cDN2ZnN6Zmp5dnYz
‎(3)https://www.google.com/amp/s/finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6458691/sri-mulyani-sebut-korupsi-bikin-jurang-si-kaya-dan-miskin-makin-lebar/amp

Secarik Surat dari Pencuri - 2025 05 08 06 17 33 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
# Ironi
Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
08 Mei 2025

Next Post
cc85acd0-c58b-4683-870d-412d409fc87f

Manifesto Pendirian PARINDRA: Menjadi Indonesia Terhormat

Please login to join discussion
POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah