Oleh : Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
Tiktok @ririeaiko_djaf
(Puisi esai ini didramatisasikan berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada Juni 2026, ketika seorang pria di Mojokerto mencuri uang dari sebuah toko kelontong dan meninggalkan surat permintaan maaf kepada pemilik toko karena terdesak untuk membayar biaya sekolah anaknya.) (1)
—000—
Malam itu,
di sebuah toko kelontong,
lampu neon menggantung pucat.
Rak-rak mi instan berdiri diam.
Toples berisi permen dan biskuit
memantulkan cahaya redup.
Di antara kesunyian itu,
seorang lelaki kurus dengan tubuh ringkih
mencongkel pintu masuk.
Ia tak membawa daftar belanja.
Tak ada keranjang di tangannya.
Tak ada uang di saku celananya.
Yang ia bawa hanyalah tenggat pembayaran sekolah yang jatuh tempo.
Langkahnya tergesa.
Sorot matanya tak menyimpan kebengisan.
Ada ragu yang berulang kali singgah di ujung jemarinya.
Telapak tangan yang biasa mencari nafkah itu, kini menyentuh sesuatu yang bukan haknya
Berulang kali hatinya berontak
”Aku tak ingin jadi pencuri.”
Tapi pintu yang tertutup
Mendesaknya hingga ke tepi.
Malam itu,
Di depan laci kasir,
Ia terdiam lama.
Menoleh ke kiri.
Menoleh ke kanan.
Tak ada siapa-siapa.
Hanya suara napasnya sendiri
yang berdegup lebih keras
daripada detak jam dinding.
Perlahan ia membuka laci itu.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut tertangkap.
Melainkan karena nuraninya masih hidup.
Di dadanya ada perang yang tak bersuara
Tapi ia bisa apa?
Ia hanya lelaki miskin
Yang tak punya kuasa
Di negeri ini,
suara jeritannya kerap tenggelam
di antara pidato-pidato kesejahteraan.
—000—
Di dalam laci yang setengah koyak,
Bertumpuk lembaran rupiah.
Jumlahnya tak sedikit
Tapi tak semuanya ia ambil
Untuk sesaat,
ia ingin menutup laci itu kembali.
Pulang.
Menyerah.
Membiarkan nasib mengambil keputusan.
Namun ia adalah seorang ayah.
Di dadanya,
ada satu mimpi yang terus ia jaga.
Mimpi yang tak boleh roboh oleh keadaan.
Ia ingin anaknya tetap melangkah.
Jauh, melampaui batas-batas kemiskinan
Tak gugur sebelum mencapai tujuan.
Akhirnya ia pun mengambil uang itu.
Tak semua
Hanya 352 ribu rupiah
Seketika uang itu berubah
menjadi bangku sekolah.
Menjadi masa depan anaknya
Dengan mata basah,
ia menulis sepucuk surat
””Assalamualaikum, Pak…”
”Pangapunten ingkang kathah…”
”Kulo kepepet, Pak…”
”Nyuwun pangapunten…”
”Sekolah anak kulo mboten saged dipun tunda…”
”Kulo janji badhe ngangsur lan nglunasine…” (2)
Tak ada bahasa yang indah.
Tak ada pembelaan.
Hanya permohonan maaf dari seorang ayah yang sedang mempertaruhkan harga diri demi masa depan anaknya.
—000—
Beberapa hari kemudian,
lelaki itu kembali
Bukan untuk mencuri lagi
Tapi untuk menepati janji
lembaran rupiah ia kembalikan
Jumlahnya kecil.
Jauh dari nilai yang pernah ia ambil.
Dengan kepala tertunduk,
ia menyerahkan uang itu
Hati pemilik toko trenyuh
Ia bukan sedang melihat penjahat
Tapi ia sedang menyaksikan korban
Dari ketimpangan sistem
”Pak, maaf saya belum bisa mengembalikan semua uangnya, tapi saya janji akan mencicilnya sedikit demi sedikit”
Tak ada pembelaan.
Tak ada alasan
Ia hanya berdiri diam.
Diantara wajah kemiskinan
Yang mewakili luka di balik angka-angka.
Kedua anaknya berdiri
menyaksikan beban berat yang dipikul ayahnya
Tangan mungil itu mengusap gurat-gurat letih di wajah sang ayah.
”Pak, biarlah aku tak usah sekolah lagi”
Hati sang ayah terasa remuk
Ia menggenggam tangan anaknya erat.
”Tidak, Nak.”
”Tetaplah sekolah.”
”Belajarlah setinggi mungkin.”
”Jika kelak kau menjadi pemimpin, jangan biarkan rakyatmu hidup seperti Ayah hari ini.”
Lelaki itu memeluk anaknya erat.
Di pelupuk matanya,
air mata jatuh pelan.
Hari itu ia menjadi satu dari jutaan suara yang tinggal di negeri yang kaya
Tapi kesejahteraan tersesat
Di lorong-lorong para elite (3)
Catatan:
(1)https://regional.kompas.com/read/2026/06/16/151710378/kepepet-biaya-sekolah-anak-pencuri-yang-tinggalkan-surat-di-mojokerto?page=all
(2)https://www.instagram.com/reel/DZhGDTZCsBE/?igsh=cDN2ZnN6Zmp5dnYz
(3)https://www.google.com/amp/s/finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6458691/sri-mulyani-sebut-korupsi-bikin-jurang-si-kaya-dan-miskin-makin-lebar/amp

