POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Di Antara Takbir dan Keranda

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Maret 23, 2026
in Puisi Essay
0
Di Antara Takbir dan Keranda - 8f8c9d08 898d 4718 b745 08d640c03203 | Puisi Essay | Potret Online

‎Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
‎
‎(Puisi esai ini merupakan dramatisasi dari kisah yang viral di media sosial tentang seorang anak yang kehilangan ibunya menjelang Hari Raya Idul Fitri.) (1)
‎
‎—ooo—
‎
‎Pagi itu takbir menggema,
‎mengalir dari pengeras suara
‎ke dada yang berdebar pelan.
‎
‎Orang-orang mengenakan baju baru,
‎menjahit senyum
‎di wajah yang sudah lama
‎menunggu hari raya tiba.
‎
‎Di rumah-rumah,
‎ibu menata ketupat,
‎ayah membentangkan karpet,
‎menyambut tangan-tangan
‎yang akan datang bersalaman.
‎
‎Anak-anak berlari,
‎dengan sepatu baru
‎yang masih kaku menyentuh halaman.

‎Hari raya selalu tentang opor hangat,
‎tentang peluk yang ditunggu datang,
‎tentang perayaan
‎yang sarat kebersamaan
‎
‎Namun tidak bagi Ardi.
‎
‎Di sudut masjid yang lengang,
‎seorang anak duduk diam
‎di depan keranda.
‎
‎Tatapannya kosong,
‎Tubuhnya kehilangan jiwa
‎seolah dunia baru saja dicabut
‎dari dalam dirinya.
‎Air matanya jatuh
lepas tanpa kendali.
‎
‎Ia tak mengenakan baju baru.
‎Tak ada tangan yang merapikan kerahnya.
‎Tak ada suara yang tergesa
‎menyuruhnya bersiap berangkat.
‎
‎Yang tersisa hanya tubuh kaku
‎terbaring dalam balut putih.
‎
‎Sunyi.
‎
‎—ooo—
‎
‎“Bu, bangun… ini hari raya.
‎Aku rindu ketupat buatanmu.”
‎
‎Tak ada jawaban.
‎
‎Hanya tangis
‎yang berbaur dengan takbir
‎yang terus menggema.
‎
‎Tangis itu runtuh.
‎Kehilangan itu datang
‎tanpa aba-aba.
‎
‎Dunianya mendadak kosong,
‎saat semua orang merayakan isi
‎
‎—ooo—
‎
‎Sejak kecil,
‎Ardi terbiasa kehilangan.
‎
‎Ayahnya pergi,
‎meninggalkan rumah
‎tanpa jejak kembali.
‎
‎Tak ada tangan yang menuntunnya tumbuh,
‎tak ada bahu tempatnya menopang
‎selain satu nama: ibu.
‎
‎Perempuan itu
‎menjahit luka menjadi sabar,
‎menanak harapan
‎di dapur yang nyaris padam,
‎Ibu menjadi alasan
‎Ardi bertahan.
‎
‎Namun tumpuan itu kini runtuh
‎Ia kehilangan
satu-satunya tempat bersandar
‎
‎—ooo—
‎
‎Ardi berdiri tegap
‎meski lututnya gemetar
‎ia ikut mengangkat keranda
‎bersama tangan-tangan dewasa.
‎
‎Di pundaknya,
‎bukan hanya beban kayu
‎dan tubuh yang membeku,
‎tetapi seseorang
‎yang paling ia sayang
‎
‎Setiap langkah
‎adalah perpisahan
‎yang dipaksa diikhlaskan
‎
‎Ia menatap wajah ibunya,
‎mencium kening
‎yang telah tertutup kafan.
‎
‎Tak ada lagi yang bisa dipeluk,
‎selain dingin
‎yang tak menjawab.
‎
‎Saat liang itu terbuka,
‎waktu seperti ditahan.
‎
‎Orang-orang menunduk.
‎Ardi berdiri paling dekat.
‎
‎Dengan suara yang pecah,
‎ia melangkah maju,
‎mengumandangkan adzan terakhir
‎ke telinga bumi
‎yang akan memeluk ibunya.
‎
‎Allahu Akbar… Allahu Akbar…
‎
‎Suaranya bergetar,
‎namun tidak roboh.
‎
‎Seolah ia ingin memastikan:
‎bahkan di peristirahatan terakhir,
‎ibunya tidak sendiri.
‎
‎Bahwa dari seluruh yang hilang,
‎ia masih bisa memberi
‎doa untuk mengantarnya pulang.
‎
‎—ooo—
‎
‎Pemakaman itu berlangsung
‎di antara gema hari raya.
‎
‎Tanah dibuka,
‎dan dunia Ardi
‎ditutup perlahan.
‎
‎Ia menaburkan bunga di pusara
‎tangisan tak lagi bersuara
‎Air mata tak lagi bisa mengobati
Luka itu tetap ada,
‎menganga
‎di tengah dunia yang bersuka cita.
‎
‎Lebaran bagi Ardi
‎bukan lagi kemenangan.
‎
‎Ia adalah hari
‎ketika segalanya
‎diambil dalam satu waktu.
‎
‎Takbir tetap berkumandang,
‎namun di telinganya
‎ia pecah menjadi retak
‎
‎diam,
‎menetap,
‎dan tak pernah benar-benar hilang.
‎
‎Catatan:
‎(1)https://www.instagram.com/reel/DWLQ86uDPey/?igsh=MWp4YXBuODFtNnd6dQ==
‎

Baca Juga
  • Di Antara Takbir dan Keranda - 1000486727_11zon | Puisi Essay | Potret Online
    POLRI
    Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering
    08 Apr 2025
  • Di Antara Takbir dan Keranda - 2025 06 18 08 29 27 | Puisi Essay | Potret Online
    Apresiasi Sastra
    Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan
    18 Jun 2025
Previous Post

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Next Post

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Next Post
Di Antara Takbir dan Keranda - f4d3b22e 8700 4ea9 977a 56c540d44865 | Puisi Essay | Potret Online

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah