• Latest
Di Antara Takbir dan Keranda - 8f8c9d08 898d 4718 b745 08d640c03203 | Puisi Essay | Potret Online

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
IMG_0835

Menurunnya Religiusitas Pada Remaja Muslim

April 18, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Di Antara Takbir dan Keranda

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Maret 23, 2026
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Di Antara Takbir dan Keranda - 8f8c9d08 898d 4718 b745 08d640c03203 | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

‎Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
‎
‎(Puisi esai ini merupakan dramatisasi dari kisah yang viral di media sosial tentang seorang anak yang kehilangan ibunya menjelang Hari Raya Idul Fitri.) (1)
‎
‎—ooo—
‎
‎Pagi itu takbir menggema,
‎mengalir dari pengeras suara
‎ke dada yang berdebar pelan.
‎
‎Orang-orang mengenakan baju baru,
‎menjahit senyum
‎di wajah yang sudah lama
‎menunggu hari raya tiba.
‎
‎Di rumah-rumah,
‎ibu menata ketupat,
‎ayah membentangkan karpet,
‎menyambut tangan-tangan
‎yang akan datang bersalaman.
‎
‎Anak-anak berlari,
‎dengan sepatu baru
‎yang masih kaku menyentuh halaman.

‎Hari raya selalu tentang opor hangat,
‎tentang peluk yang ditunggu datang,
‎tentang perayaan
‎yang sarat kebersamaan
‎
‎Namun tidak bagi Ardi.
‎
‎Di sudut masjid yang lengang,
‎seorang anak duduk diam
‎di depan keranda.
‎
‎Tatapannya kosong,
‎Tubuhnya kehilangan jiwa
‎seolah dunia baru saja dicabut
‎dari dalam dirinya.
‎Air matanya jatuh
lepas tanpa kendali.
‎
‎Ia tak mengenakan baju baru.
‎Tak ada tangan yang merapikan kerahnya.
‎Tak ada suara yang tergesa
‎menyuruhnya bersiap berangkat.
‎
‎Yang tersisa hanya tubuh kaku
‎terbaring dalam balut putih.
‎
‎Sunyi.
‎
‎—ooo—
‎
‎“Bu, bangun… ini hari raya.
‎Aku rindu ketupat buatanmu.”
‎
‎Tak ada jawaban.
‎
‎Hanya tangis
‎yang berbaur dengan takbir
‎yang terus menggema.
‎
‎Tangis itu runtuh.
‎Kehilangan itu datang
‎tanpa aba-aba.
‎
‎Dunianya mendadak kosong,
‎saat semua orang merayakan isi
‎
‎—ooo—
‎
‎Sejak kecil,
‎Ardi terbiasa kehilangan.
‎
‎Ayahnya pergi,
‎meninggalkan rumah
‎tanpa jejak kembali.
‎
‎Tak ada tangan yang menuntunnya tumbuh,
‎tak ada bahu tempatnya menopang
‎selain satu nama: ibu.
‎
‎Perempuan itu
‎menjahit luka menjadi sabar,
‎menanak harapan
‎di dapur yang nyaris padam,
‎Ibu menjadi alasan
‎Ardi bertahan.
‎
‎Namun tumpuan itu kini runtuh
‎Ia kehilangan
satu-satunya tempat bersandar
‎
‎—ooo—
‎
‎Ardi berdiri tegap
‎meski lututnya gemetar
‎ia ikut mengangkat keranda
‎bersama tangan-tangan dewasa.
‎
‎Di pundaknya,
‎bukan hanya beban kayu
‎dan tubuh yang membeku,
‎tetapi seseorang
‎yang paling ia sayang
‎
‎Setiap langkah
‎adalah perpisahan
‎yang dipaksa diikhlaskan
‎
‎Ia menatap wajah ibunya,
‎mencium kening
‎yang telah tertutup kafan.
‎
‎Tak ada lagi yang bisa dipeluk,
‎selain dingin
‎yang tak menjawab.
‎
‎Saat liang itu terbuka,
‎waktu seperti ditahan.
‎
‎Orang-orang menunduk.
‎Ardi berdiri paling dekat.
‎
‎Dengan suara yang pecah,
‎ia melangkah maju,
‎mengumandangkan adzan terakhir
‎ke telinga bumi
‎yang akan memeluk ibunya.
‎
‎Allahu Akbar… Allahu Akbar…
‎
‎Suaranya bergetar,
‎namun tidak roboh.
‎
‎Seolah ia ingin memastikan:
‎bahkan di peristirahatan terakhir,
‎ibunya tidak sendiri.
‎
‎Bahwa dari seluruh yang hilang,
‎ia masih bisa memberi
‎doa untuk mengantarnya pulang.
‎
‎—ooo—
‎
‎Pemakaman itu berlangsung
‎di antara gema hari raya.
‎
‎Tanah dibuka,
‎dan dunia Ardi
‎ditutup perlahan.
‎
‎Ia menaburkan bunga di pusara
‎tangisan tak lagi bersuara
‎Air mata tak lagi bisa mengobati
Luka itu tetap ada,
‎menganga
‎di tengah dunia yang bersuka cita.
‎
‎Lebaran bagi Ardi
‎bukan lagi kemenangan.
‎
‎Ia adalah hari
‎ketika segalanya
‎diambil dalam satu waktu.
‎
‎Takbir tetap berkumandang,
‎namun di telinganya
‎ia pecah menjadi retak
‎
‎diam,
‎menetap,
‎dan tak pernah benar-benar hilang.
‎
‎Catatan:
‎(1)https://www.instagram.com/reel/DWLQ86uDPey/?igsh=MWp4YXBuODFtNnd6dQ==
‎

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post
Di Antara Takbir dan Keranda - f4d3b22e 8700 4ea9 977a 56c540d44865 | Puisi Essay | Potret Online

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com