Dengarkan Artikel
Oleh Feri Irawan
Dahliani SPd MM Gr seorang guru matematika di SMK Negeri 1 Jeunieb, Bireuen, Aceh, kelahiran Blang Matang (Aceh Utara), pada 29 April 1981 ini telah mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak tahun 2006. Bu Dah panggilan akrabnya menjadi guru penggerak angkatan ke sepuluh tahun 2024. Dan menjadi guru penggerak yang kelima di SMKN 1 Jeunieb. Menjadi guru penggerak sekaligus wakil kepala sekolah bidang kurikulum membuat dirinya menjadi contoh teladan dan motivator bagi guru-guru lainnya untuk terus berkontribusi lebih baik dalam dunia pendidikan.
Tetapi, dibalik itu semua, ada lagi yang jauh lebih menentukan yaitu sistem pembelajaran yang berlaku di SMKN 1 Jeunieb. Sebab, semua program pembelajaran dapat terencana dengan baik, bukan hanya sekadarnya. Dalam hal ini, yang bertanggung jawab dalam mengatur itu semua adalah wakil kepala sekolah bidang kurikulum (Wakakur). Sehingga dapat disimpulkan Wakakur memiliki peran yang besar dalam mewujudkan sekolah ideal.
Sebagai guru matematika, Ia juga harus mengajar, mendidik, dan membimbing para siswa sesuai dengan kebutuhan kejuruan mereka.
Dalam proses pembelajaran, Bu Dah sering menggunakan strategi pembelajaran kontekstual berbasis kejuruan, seperti pada materi teori peluang, statistika, dan trigonometri.
“Dengan metode pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PJBL) dan pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning/PBL), siswa dapat lebih mudah memahami materi sekaligus merasakan bahwa matematika di tingkat SMK berbeda dengan pembelajaran di SMA atau sederajat, dan tentunya lebih menyenangkan dan siswa juga akan terlibat dalam kegiatan yang menuntut kerja sama tim dalam pemecahan masalah, “paparnya.
📚 Artikel Terkait
Kesempatan mengikuti Program Guru Penggerak (PGP) telah menjadi titik balik dalam kariernya.
Menurut Dahliani, PGP tidak hanya memperkaya wawasannya tentang strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, tetapi juga meningkatkan perhatiannya terhadap diferensiasi pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial-emosional peserta didik.
“Saya percaya bahwa pembelajaran yang bermakna adalah kunci untuk membangun generasi cerdas dan berkarakter, ” Ungkapnya.
Selain tugas mengajar, Ia juga aktif memupuk kebersamaan di kalangan guru melalui komunitas matematika dengan konsep KOMPAK (Keterampilan Operasional Matematika Praktis, Adaptif, dan Kreatif). KOMPAK bertujuan yang pertama untuk menciptakan kolaborasi dan inovasi dalam pengajaran matematika yang relevan dengan kebutuhan peserta didik di SMK sehingga taruna-taruni nantinya dapat meningkatkan ketrampilan matematika praktis untuk diterapkan di dunia kerja, yang kedua menyiapkan para siswa agar memiliki ketrampilan numerasi yang relevan dengan berbagai jurusan industri.
Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Dahliani mengusung motto “Membangun Kebersamaan dan Menciptakan Budaya Kerja Disiplin Positif.” Dirinya percaya bahwa budaya sekolah yang positif akan membantu membentuk peserta didik yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia.
Meskipun pengalaman dan prestasinya belum banyak, Dahliani terus berusaha memberikan yang terbaik untuk pendidikan dan komunitas sekolah.
Baginya, menjadi seorang guru adalah tentang memberikan dampak positif yang akan terus dirasakan hingga masa depan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






