Dengarkan Artikel
Oleh Nurbadriyah
Pengawas SMA Kota Cilegon-Banten, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Motivator Nasional
Teknologi dalam Organisasi Pengawasan Sekolah di SMA Kota Cilegon (by: Nurbadriyah)
Teknologi dalam pengawasan sekolah, tidak hanya mempermudah proses pemantauan, tetapi juga membantu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pendidikan. Dengan implementasi teknologi yang tepat, pengawas pendidikan dapat lebih fokus pada strategi peningkatan mutu daripada hanya pada tugas administratif.
Pengawasan sekolah adalah salah satu aspek penting dalam manajemen pendidikan yang bertujuan untuk memastikan bahwa semua proses pembelajaran, administrasi, dan operasional berjalan sesuai standar. Teknologi berperan signifikan dalam meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan akurasi pengawasan sekolah.
Menyikapi perubahan peran baru pengawas sekolah sesuai Perdirjen GTK nomor 4831 tahun 2023, Pengawas tidak lagi hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi pengawas, hanya sebatas memonitoring, tetapi lebih kepada mendampingi dan sebagai teman belajar kepala sekolah.
Penulis sebagai seorang Pengawas Sekolah di Kota Cilegon, telah menerapkan strategi efektif dalam mengawasi 11 sekolah binaannya. Pendekatannya sejalan dengan Perdirjen GTK Nomor 4831 Tahun 2023, Permendikbudristek Nomor 25 Tahun 2024, dan Perdirjen GTK Nomor 7328 tentang model kompetensi pengawas sekolah.
Berikut adalah rincian metode yang penulis terapkan.
Transformasi Peran Pengawas Sekolah
Sesuai dengan Perdirjen GTK Nomor 4831 Tahun 2023,peran pengawas sekolah telah bertransformasi dari pengendali menjadi pendamping dalam implementasi kebijakan Merdeka Belajar. Penulis berperan sebagai agen perubahan yang aktif mendampingi guru dan kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Pemenuhan Beban Kerja.
Mengacu pada Permendikbudristek Nomor 25 Tahun 2024, penulis memastikan pemenuhan beban kerja pengawas sekolah yang meliputi tugas pengawasan, pembimbingan, dan pelatihan profesional terhadap guru dan kepala sekolah. Penulis merencanakan, mengevaluasi, dan melaporkan hasil pelaksanaan pembinaan, pemantauan, penilaian, dan pembimbingan dalam rangka pemenuhan beban kerja selama 37,5 jam kerja efektif per minggu.
Pengembangan Kompetensi Pengawas Sekolah.
Berdasarkan Perdirjen GTK Nomor 7328 tahun 2023, pengawas sekolah harus memiliki tiga kompetensi utama, yakni kepribadian, sosial, dan profesional. Penulis terus mengembangkan kompetensi tersebut dengan menunjukkan integritas, etika, dan komitmen tinggi dalam menjalankan tugas (kompetensi kepribadian), membangun hubungan harmonis dengan guru, kepala sekolah, dan komunitas pendidikan lainnya (kompetensi sosial), dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan (kompetensi profesional).
Pemanfaatan Teknologi dalam Pengawasan
Dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengawasan melakukan beberapa hal. Pertama, Pemanfaatan berbagai platform digital yaitu menggunakan aplikasi manajemen sekolah untuk memantau kinerja guru dan perkembangan siswa secara real-time.
Kedua, Komunikasi Daring. Memfasilitasi diskusi dan konsultasi melalui video konferensi, grup chat, dan email untuk memastikan komunikasi yang lancar dengan sekolah binaannya. Ke tiga, membuka Sistem Informasi, mengumpulkan dan menganalisis data pendidikan menggunakan perangkat lunak analitik untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan.
Pendekatan Kolaboratif
Pengawas juga perlu memanfaatkan komunitas belajar untuk mendorong kolaborasi antara guru, kepala sekolah, dan komunitas pendidikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan mengadakan workshop, seminar, dan diskusi kelompok terfokus untuk berbagi praktik terbaik dan solusi inovatif dalam pendidikan.
Dengan menerapkan strategi-strategi di atas, penulis sebagai Pengawas berhasil meningkatkan kualitas pendidikan di 11 sekolah binaan, sejalan dengan regulasi terbaru dan tuntutan era digital. Sesuai dengan kompetensi profesional yang ditekankan dalam Perdirjen GTK Nomor 7328 tahun 2023, penulis memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk mendukung tugas pengawasan. Berikut adalah detail tambahan tentang bagaimana ia mengintegrasikan teknologi dalam pengawasan dan pembimbingan:
1. Penggunaan Aplikasi Manajemen Sekolah
a. Sistem Penilaian dan Pengelolaan Kinerja Guru
Menggunakan platform digital PMM yang disediakan pemerintah untuk memonitor dan mengevaluasi kinerja guru secara objektif berdasarkan indikator tertentu, seperti pencapaian pembelajaran, inovasi pengajaran, dan pengembangan profesional. Bagi guru sekolah swasta diberlakukan sama, namun menggunakan dashboard pribadi.
b. LMS (Learning Management System)
Pengawas memantau pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru melalui LMS, memastikan semua materi ajar dan aktivitas pembelajaran sesuai dengan standar kurikulum Merdeka.
c. Dashboard Sites Sekolah
Aplikasi berbasis dashboard digunakan untuk memantau data real-time seperti kehadiran siswa, pelaksanaan ujian, dan evaluasi pembelajaran. Hal ini memungkinkan Pengawas untuk memberikan masukan langsung terhadap kendala yang dihadapi sekolah.
2. Pelatihan Teknologi untuk Guru dan Kepala Sekolah
a. Workshop Digitalisasi Pembelajaran, yakni mengadakan pelatihan bagi guru untuk menguasai alat teknologi, seperti Microsoft Office, Canva, Google Workspace for Education, dan aplikasi edutech lainnya, guna meningkatkan kualitas materi ajar dan metode pengajaran.
b. Bimbingan Penyusunan RPP Berbasis Digital
Pengawas membantu guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang terintegrasi dengan teknologi, seperti penggunaan video pembelajaran, simulasi daring, dan aplikasi interaktif untuk meningkatkan keterlibatan siswa.
c. Pendampingan Pemanfaatan Data
Pengawas melatih kepala sekolah dalam menggunakan perangkat lunak analitik untuk mengolah data sekolah seperti hasil penilaian, absensi, dan data kepuasan orang tua, untuk membuat keputusan berbasis data (data-driven decision making).
Optimalisasi Teknologi untuk Kolaborasi dan Komunikasi
a. Grup Media Sosial dan Aplikasi Pesan Singkat. Membuat grup diskusi menggunakan platform seperti WhatsApp, instagram, tiktok, atau Facebook untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi antar guru, kepala sekolah, dan pengawas.
b. Konferensi Video dan Webinar. Menggunakan platform seperti Zoom, Microsoft Teams, atau Google Meet untuk melakukan pembimbingan jarak jauh, menyampaikan evaluasi kinerja, dan memberikan pelatihan.
c. Portal Komunikasi Pengawasan. Mengembangkan portal daring yang memungkinkan sekolah binaan melaporkan perkembangan program secara mandiri, mengajukan pertanyaan, atau meminta konsultasi kapan saja.
Pemanfaatan Big Data dan Sistem Informasi Sekolah
a. Analisis Data Pembelajaran. Di sini, Pengawas menggunakan perangkat lunak seperti spreadsheets Excel untuk menganalisis data hasil ujian siswa, pola kehadiran, dan efektivitas program sekolah, sehingga dapat memberikan rekomendasi strategis yang spesifik.
b. Sistem Informasi Manajemen Sekolah (SIM Sekolah)dilakukan dengwn memanfaatkan SIM untuk menyusun laporan pengawasan yang terintegrasi dan memantau capaian program sekolah dalam kurun waktu tertentu.
c. Aplikasi Pemetaan Kompetensi Guru.
📚 Artikel Terkait
Menggunakan teknologi untuk mengidentifikasi area kekuatan dan kelemahan guru, serta menyusun rencana pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan individu.
Inovasi Teknologi dalam Monitoring dan Evaluasi
a. Observasi Kelas Virtual. Mengawasi pelaksanaan pembelajaran daring dengan masuk ke kelas virtual untuk memastikan metode pengajaran yang digunakan sesuai standar kualitas.
b. E-Rapor Pengawasan. Membuat laporan pengawasan berbasis aplikasi yang bisa diakses secara online oleh semua pihak terkait, sehingga mempermudah proses transparansi dan tindak lanjut.
Dengan penguasaan teknologi yang baik sesuai dengan kompetensi profesional, Pengawas tidak hanya meningkatkan efisiensi tugas pengawasan, tetapi juga mampu mendukung sekolah binaan secara komprehensif dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.
Dalam pemanfaatan teknologi untuk dokumentasi, penilaian, dan kolaborasi, Pengawas juga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dalam pengumpulan dokumen pengawasan, penilaian kinerja, dan berbagi praktik baik antar sekolah binaannya.
Berikut adalah detail tambahan tentang inovasi yang saya terapkan:
1. Pengelolaan Dokumen Pengawasan melalui Drive Kolaboratif
a. Link Drive Kolaboratif. Nurbadriyah membuat folder khusus di Google Drive untuk setiap sekolah binaannya. Setiap folder berisi template dokumen pengawasan yang harus dilengkapi oleh sekolah, seperti laporan pembelajaran, evaluasi kinerja, dan rencana pengembangan sekolah.
b. Kolaborasi dalam Penyusunan Dokumen. Guru, kepala sekolah, dan staf administrasi diberi akses ke folder masing-masing untuk mengunggah dokumen yang relevan. Hal ini mempercepat proses pengumpulan data dan memudahkan Nurbadriyah dalam memantau kelengkapan administrasi sekolah binaan.
c. Akses Real-Time. Semua dokumen dapat diakses dan diperbarui secara real-time, sehingga Nurbadriyah dapat memberikan umpan balik langsung jika ada dokumen yang kurang lengkap atau memerlukan revisi.
2. Penilaian Kinerja Kepala Sekolah secara Digital
a. Aplikasi Penilaian Kinerja. Pengawas menggunakan aplikasi Platform Merdeka Mengajar dan bagi kepala sekolah swasta juga berbasis digital(drive) semua dilakukan untuk melakukan penilaian kinerja kepala sekolah. Aplikasi ini memuat indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) seperti kepemimpinan, inovasi, dan pencapaian target pendidikan.
b. Laporan Digital Kinerja Kepala Sekolah, Setiap kepala sekolah menerima laporan kinerja berbasis digital yang transparan dan objektif. Laporan ini memuat rekomendasi perbaikan dan catatan tentang inovasi yang berhasil dilakukan.
c. Mendorong Inovasi di Sekolah. Dengan adanya penilaian digital, sekolah diberi kesempatan untuk mempresentasikan inovasi-inovasi yang telah mereka terapkan. Hal ini mendorong persaingan sehat antar sekolah untuk terus berinovasi dalam pembelajaran dan manajemen.
3. Ruang untuk Berbagi Praktik Baik
a. Forum Virtual Antar Sekolah.pengawas mengadakan forum daring secara berkala yang dihadiri oleh guru dan kepala sekolah dari sekolah binaannya. Dalam forum ini, setiap sekolah diberi ruang untuk berbagi praktik baik yang mereka terapkan, seperti metode pengajaran kreatif, program literasi, atau inovasi teknologi.
b. Presentasi di Hadapan Kepala Dinas dan Jajaran. Praktik baik yang dianggap berhasil dipresentasikan dalam pertemuan yang melibatkan Kepala Dinas Pendidikan dan jajarannya. Ini memberikan apresiasi kepada sekolah yang berinovasi sekaligus menjadi inspirasi bagi sekolah lain.
c. Dokumentasi Praktik Baik. Semua praktik baik yang dibagikan dicatat dan disimpan di folder khusus dalam Drive kolaboratif juga linktree. Folder ini berfungsi sebagai bank ide yang dapat diakses oleh semua sekolah binaan.
4. Meningkatkan Semangat Kolaborasi dan Transparansi
Dengan sistem yang memungkinkan sekolah untuk berbagi dan diakui, tentu menjadi motivasi bagi sekolah, setiap sekolah merasa dihargai dan didorong untuk terus berupaya memberikan yang terbaik. Selain itu, membangun jejaring antar sekolah. Sekolah-sekolah binaan dapat saling belajar dari pengalaman masing-masing, menciptakan ekosistem pendidikan yang saling mendukung dan berkembang bersama. Melalui strategi ini, Pengawas tidak hanya menjalankan tugas pengawasan secara efektif, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang kolaboratif, inovatif, dan transparan.
Dengan berbagai aplikasi digital ini, Pengawas tidak hanya mendukung pengajaran yang berpusat pada siswa tetapi juga memastikan setiap peserta didik terlibat aktif dalam proses belajar, mengembangkan kreativitas, dan memiliki pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna. Pemanfaatan aplikasi digital untuk pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada Peserta Didik dilakukan oleh Pengawas . Dengan memanfaatkan berbagai aplikasi digital untuk mendukung pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada peserta didik di sekolah binaannya.
Berikut adalah aplikasi dan pendekatan yang digunakan:
1. Penggunaan Aplikasi untuk Pembelajaran Interaktif
a. Kahoot! dan Quizizz:. Aplikasi ini digunakan untuk membuat kuis interaktif dan kompetisi yang melibatkan siswa secara aktif. Guru memanfaatkannya untuk mengevaluasi pemahaman siswa dengan cara yang menyenangkan.
b. Mentimeter dan Poll Everywhere.
Digunakan untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa dalam bentuk polling atau kuis singkat selama pembelajaran. Ini memastikan siswa lebih terlibat dan guru dapat memahami kebutuhan mereka secara langsung.
c. Padlet. Sebagai papan diskusi daring, siswa dapat berbagi ide, refleksi, atau hasil kerja mereka dalam bentuk teks, gambar, atau video. Guru dapat menggunakan Padlet untuk mengelola diskusi kelompok secara virtual.
2. Penerapan Teknologi Berbasis Visual dan Media Kreatif
a. Canva for Education. Aplikasi desain ini membantu siswa membuat presentasi, poster, dan materi kreatif lainnya. Guru juga menggunakan Canva untuk merancang materi pembelajaran yang menarik secara visual.
b. Prezi. Prezi memungkinkan pembuatan presentasi interaktif yang dinamis, membantu siswa lebih memahami materi pembelajaran melalui visualisasi yang menarik.
c. Powtoon dan Animaker. Aplikasi ini digunakan oleh guru untuk membuat video animasi singkat yang menjelaskan konsep-konsep sulit dengan cara yang mudah dipahami siswa.
3. Integrasi Pembelajaran Daring dan Hybrid
a. Google Classroom. Digunakan sebagai platform utama untuk membagikan materi pembelajaran, mengelola tugas, dan memberikan penilaian secara digital. Google Classroom memastikan semua siswa memiliki akses yang sama terhadap sumber belajar.
b. Microsoft Teams, G meet, dan Zoom.
Digunakan untuk pembelajaran jarak jauh, dengan fitur seperti breakout rooms untuk diskusi kelompok kecil. Guru dapat memanfaatkan alat ini untuk membuat pembelajaran lebih kolaboratif.
c. Classpoint.
Membantu guru membuat presentasi interaktif yang memungkinkan siswa menjawab pertanyaan langsung selama sesi pembelajaran.
4. Aplikasi Pendukung Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa
a. Seesaw
Digunakan sebagai portofolio digital, di mana siswa dapat mendokumentasikan dan berbagi hasil karya mereka. Orang tua juga dapat melihat perkembangan anak melalui aplikasi ini.
b. Edpuzzle
Guru menggunakan Edpuzzle untuk menyisipkan pertanyaan di dalam video pembelajaran. Siswa menonton video dan menjawab pertanyaan untuk memastikan mereka memahami materi yang disampaikan.
c. Flip (sebelumnya Flipgrid).
Membantu siswa merekam video pendek untuk tugas refleksi, presentasi, atau proyek kolaboratif. Aplikasi ini memberi ruang bagi siswa untuk menyuarakan ide mereka dengan cara yang kreatif.
5. Memanfaatkan Gamifikasi dalam Pembelajaran
a. Wordwall
Aplikasi ini digunakan untuk pembelajaran berbasis aktivitas dalam dunia virtual, banyak pilihan game di sana, dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran berbasis literasi.
b. Classcraft
Membawa konsep permainan peran (role-playing game) ke dalam kelas, di mana siswa dapat memperoleh poin untuk perilaku baik atau kerja keras, meningkatkan motivasi mereka.
c. Duolingo
Digunakan untuk pembelajaran bahasa secara mandiri. Dengan format seperti game, siswa merasa lebih tertarik untuk belajar kosa kata dan tata bahasa.
6. Aplikasi untuk Evaluasi dan Umpan Balik yang Cepat
a. Formative
Guru dapat memberikan tugas langsung dan memonitor jawaban siswa secara real-time, memungkinkan mereka memberikan umpan balik seketika.
b. Sumative
Digunakan untuk membuat kuis, survei, dan diskusi kelas. Guru dapat menganalisis data siswa untuk menentukan area yang memerlukan perbaikan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






