• Latest
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?

Ketika Putusan Ulama Tidak Lagi Menjadi Pijakan: Peusijuk Wali Agama Terjadi Juga

Desember 24, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Putusan Ulama Tidak Lagi Menjadi Pijakan: Peusijuk Wali Agama Terjadi Juga

Redaksiby Redaksi
Desember 24, 2024
Reading Time: 3 mins read
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh: Muhammad Kharazi

Di tengah dinamika sosial-politik Aceh, hubungan antara agama dan kekuasaan kembali menjadi sorotan. Pada Minggu malam, 22 Desember 2024, sebuah peristiwa yang mengundang tanda tanya besar terjadi: Teungku Darwis Jeunib, tokoh senior Partai Aceh (PA) sekaligus representasi dari Gubernur Aceh terpilih Teungku H. Muzakir Manaf, melaksanakan peusijuk terhadap Abuya Amran Waly yang diberi gelar Wali Agama. Tindakan ini menyiratkan sebuah paradoks besar terhadap keputusan MPU Aceh Nomor 7 Tahun 2020.

Keputusan MPU yang Diabaikan

MPU Aceh, sebagai lembaga yang diamanahkan untuk menjaga otoritas keagamaan di Aceh, telah menetapkan keputusan tegas pada tahun 2020. Dalam putusannya, MPU meminta pemerintah Aceh untuk menghentikan segala aktivitas Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) yang diasuh oleh Abuya Amran Waly. Alasannya adalah adanya pandangan bahwa kegiatan majelis tersebut menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Islam yang dianut mayoritas masyarakat Aceh.

Namun, hanya berselang empat tahun, keputusan yang seharusnya menjadi pijakan normatif ini seolah tak lagi dianggap penting. Peusijuk oleh Teungku Darwis Jeunib terhadap Abuya Amran Waly bukan hanya bertentangan dengan keputusan tersebut, tetapi juga menjadi antitesis yang memperlihatkan bagaimana dinamika politik sering kali menggeser otoritas keagamaan.

Ironi Peran Ulama dalam Politik Aceh

Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah peran sentral ulama dalam kemenangan Partai Aceh pada Pilkada 2024. Sederet ulama terkemuka, seperti Abu Paya Pasi, Abu Arongan, dan sejumlah ulama lain, memberikan dukungan penuh terhadap Partai Aceh. Abu Paya Pasi, seorang ulama sepuh yang dihormati di Aceh, dianggap sebagai tokoh kunci yang menginisiasi kemenangan PA. Demikian pula, Abu Arongan turut menjadi figur penting yang memperkuat posisi Partai Aceh sebagai representasi aspirasi masyarakat Aceh yang Islami. Dengan demikian, tindakan Teungku Darwis Jeunib seharusnya mencerminkan penghormatan pada konsensus ulama, termasuk keputusan MPU. Namun, apa yang terjadi justru mencerminkan sebaliknya.

Keputusan Teungku Darwis Jeunib untuk menepungtawari Abuya Amran Waly dapat dilihat sebagai upaya membangun aliansi baru atau konsolidasi kekuasaan.

Sayangnya, tindakan ini justru berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat pada integritas dan otoritas ulama di Aceh. Jika keputusan MPU sebagai representasi ulama diabaikan, lalu di mana posisi moral dan spiritual dalam pengambilan keputusan politik?

Dampak pada Legitimasi Ulama

Fenomena ini memperlihatkan tantangan besar bagi ulama di Aceh dalam mempertahankan posisi mereka sebagai penjaga moral masyarakat. Ketika keputusan mereka tidak lagi menjadi pijakan, kredibilitas lembaga keagamaan seperti MPU bisa melemah. Hal ini juga membuka ruang bagi kelompok-kelompok tertentu untuk memanfaatkan simbol keagamaan demi kepentingan politik semata.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Lebih jauh, masyarakat Aceh yang sangat menghormati ulama bisa merasa terpecah. Sebagian mungkin tetap mendukung otoritas MPU, sementara yang lain tergiring oleh narasi politik yang mencoba melegitimasi tindakan seperti peusijuk ini. Di sinilah peran ulama sepuh seperti Abu Paya Pasi menjadi krusial untuk menjembatani kepentingan keagamaan dan politik tanpa mengorbankan prinsip dasar Islam.

Melihat ke Depan: Refleksi untuk Aceh

Kejadian ini seharusnya menjadi pengingat bagi para pemimpin politik Aceh untuk lebih berhati-hati dalam mengambil langkah yang menyangkut nilai-nilai agama. Legitimasi politik yang diperoleh melalui dukungan ulama tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keputusan mereka. Sebaliknya, keputusan ulama harus dihormati dan dijadikan pedoman, karena pada dasarnya mereka adalah penjaga moral dan identitas keislaman masyarakat Aceh.

Aceh, dengan statusnya sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan sinergi antara agama dan politik. Jika tidak, Aceh berisiko kehilangan jati diri sebagai model masyarakat Islami yang harmonis. Semoga peristiwa ini menjadi refleksi bagi kita semua, baik sebagai pemimpin, ulama, maupun masyarakat, untuk kembali menempatkan agama sebagai dasar dari segala kebijakan dan tindakan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Mengamati  Modus Pengemis di Banda Aceh

PERILAKU HIGH BUDGETING DAN ISLAM

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com