• Latest
Indonesia Emas 2045: Bisakah Kita Wujudkan Tanpa Membebaskan Anak-Anak Dari Eksploitasi?

Indonesia Emas 2045: Bisakah Kita Wujudkan Tanpa Membebaskan Anak-Anak Dari Eksploitasi?

Desember 22, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Indonesia Emas 2045: Bisakah Kita Wujudkan Tanpa Membebaskan Anak-Anak Dari Eksploitasi?

Redaksiby Redaksi
Desember 23, 2024
Reading Time: 3 mins read
Indonesia Emas 2045: Bisakah Kita Wujudkan Tanpa Membebaskan Anak-Anak Dari Eksploitasi?
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dwi Maisri Diana

Semester V jurusan : Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Mentari sore mulai meredup, langit Banda Aceh perlahan berganti warna menjadi jingga kemerahan. Aku seorang mahasiswi yang sedang duduk menikmati keindahan langit sore, tanpa sengaja di tengah keramaian mataku tertuju pada dua sosok anak kecil yang duduk di tepi jalan dengan baju lusuh dan karung berisi botol-botol bekas di sampingnya. Wajahnya terlihat murung sembari menatap kosong ke arah jalan raya.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

Rasa penasaran menggerogotiku, sehingga mendorong rasa keberanianku untuk mendekati mereka dan melakukan percakapan singkat. Anak laki-laki itu bernama Fajri, seorang siswa kelas 6 SD yang merantau dari Jawa Timur bersama keluarganya. Adik perempuannya yang masih balita, tampak polos dan ceria, tak menyadari bahwa hidupnya tak seindah anak-anak seusianya.

Fajri bercerita bahwa setiap pulang sekolah, ia dan adiknya harus memulung botol-botol bekas untuk dijual. Mereka berkeliling menggunakan sepeda, dan saat malam hari tiba mereka duduk di Lapangan Tugu Darussalam untuk istirahat sejenak dan seolah menunggu rasa iba dari orang-orang . Kemudian berharap memberi mereka uang.

“Kenapa aku harus memulung? Bukannya bermain?” gumamku dalam hati, mencoba membayangkan apa yang dirasakan Fajri dan adiknya. Seharusnya ia bermain dan belajar layaknya anak-anak seusia mereka. Namun, kenyataan berkata lain, ia terjebak dalam lingkaran kemiskinan di mana masa kanak-kanaknya tergadaikan demi sesuap nasi.

Di tengah-tengah percakapan itu, tiba-tiba anak laki-laki ini nyeletuk “Fajri punya HP lohh”, sambil menunjukkan ponselnya. Kadang-kadang kami juga dapat makanan, minuman, bahkan uang dari orang-orang yang lewat, ujarnya. Mendengar perkataan dari anak tersebut saya tercengang dan mendorong rasa ingin tahu saya lebih dalam terkait dengan kondisi sebenarnya kedua anak ini. Lalu saya bertanya tentang alasan mereka memulung dan berapa penghasilan mereka setiap hari. Fajri tampak enggan menjawab, seakan menyembunyikan sesuatu. Ia hanya mengatakan bahwa saudara-saudaranya juga memulung dan ibunya sedang sakit parah. “

Mengapa Fajri tidak mau menjawab pertanyaan saya?”, gumamku dalam hati. Kala itu aku baru teringat dengan cerita dari beberapa teman mahasiswaku dan penjual setempat yang pernah melihat langsung Fajri dan adiknya mengendarai sepeda motor bagus, justru ini sangat bertolak belakang dengan keadaan yang terlihat dari kedua anak ini.

Berdasarkan pengamatan dan percakapan yang saya lakukan terhadap situasi anak tersebut, saya menduga bahwa kedua anak ini telah menjadi korban eksploitasi anak. Tampaknya mereka dipaksa untuk mengemis dengan dalih memulung.

Kisah Fajri adalah cerminan dari ekspoitasi anak. Sebuah luka menganga di tengah masyarakat, mengingatkan kita akan kenyataan pahit yang dihadapi banyak anak-anak di Indonesia. Kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan hukum yang lemah menjadi akar masalah ekspoitasi anak.

Anak-anak yang menjadi korban eksploitasi akan mengalami berbagai dampak negatif seperti trauma, gangguan psikologis, kesehatan yang buruk, dan pastinya kehilangan kesempatan untuk menikmati masa kanak-kanak dan mengembangkan dirii secara normal.

Kita harus bersatu untuk mengatasi masalah eksploitasi anak, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak- hak anak dan bahaya eksploitasi anak. Tak hanya kita selaku masyarakat biasa, akan tetapi pemerintah juga harus ikut andil dengan menerapkan sistem hukum yang efektif untuk melindungi anak-anak, terutama anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.

Visi Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita Indonesia untuk menjadi negara maju, adil, dan sejahtera. Akan tetapi, eskploitasi anak merupakan hambatan besar dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, untuk mencapai visi ini, kita harus memastikan bahwa semua anak-anak Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan mencapai potensi mereka.  Indonesia emas yang bagaimana akan lahir, ketika Banyak anak yang hidup dalam lingkaran kemiskinan dan dieksploitasi menjadi pengemis dan sebagainya? Mari kita cari jalan yang terbaik untuk melepaskan anak-anak negeri ini dari cengkeraman para predator anak. Bersama kita bisa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Empat Srikandi Pidie Jaya Ikuti Festival Pantun Nusantara di Jakarta

Empat Srikandi Pidie Jaya Ikuti Festival Pantun Nusantara di Jakarta

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com