Dengarkan Artikel
Oleh: Sabdainin Nashira
Semester V Jurusan : Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Pada malam 7 Oktober 2024, sekitar pukul 19.10 WIB, penulis menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu menyentuh di dekat Tugu Gelanggang, Banda Aceh. Di sana, sebuah pemandangan yang kontras antara gemerlap kota dan perjuangan hidup tampak jelas. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun sedang berdiri di pinggir jalan, ditemani adik perempuannya yang masih balita. Anak laki-laki tersebut tidak terlihat seperti pengemis pada umumnya, namun ada sesuatu dalam perilakunya yang mencerminkan budaya meminta, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Anak laki-laki itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Meskipun tampak sehat secara fisik, sorot matanya menyiratkan keinginan akan perhatian dan belas kasih. Di pundaknya tergantung sebuah karung besar, tanda bahwa ia membantu ayahnya mengumpulkan botol untuk dijual. Saat diajak berbicara, ia mengaku sering mengikuti sang ayah bersepeda dari Kajhu ke pusat kota Banda Aceh selepas sekolah.
Dalam percakapan singkat, ia mengungkapkan bahwa belum sempat makan malam. Namun, dengan senyum malu-malu, ia tetap menunjukkan keceriaan khas anak-anak. Beberapa mahasiswa yang melintas memberikan makanan dan uang kecil, yang diterimanya dengan penuh rasa syukur. Di sela obrolan, ia bahkan bercanda meminta cincin yang penulis kenakan, sebuah gestur polos yang mengungkap kebiasaan nyamenerima pemberian dari orang-orang yang peduli. Sikap ini, meski tampak polos, mengindikasikan sebuah pola hidup yang terbentuk dari kondisi ekonomi keluarganya.
Di sampingnya, adik perempuannya yang berusia sekitar dua tahun tampak lemah. Tubuhnya kecil, memperlihatkan tanda-tanda kurang gizi. Ia belum bisa berbicara dengan jelas, hanya mengeluarkan suara “aa aa aa” sambil menunjuk ke arah sekitar, sebuah usaha komunikasi sederhana yang menggambarkan keterbatasannya. Kehadirannya menambah dimensi emosional pada pengamatan ini, sebuah potret keluarga yang berjuang melawan kerasnya kehidupan di tengah keterbatasan.
📚 Artikel Terkait
Kondisi keluarga anak-anak ini mencerminkan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus. Sang ayah bekerja keras mengumpulkan botol untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,namun penghasilan dari pekerjaan tersebut mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, belum termasuk gizi yang memadai atau pendidikan yang berkualitas. Peran sang anak yang seharusnya fokus pada pendidikan, malah terbagi untuk membantu mencari nafkah, sebuah kenyataan pahit yang sering dihadapi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sebuah realitas kehidupan anak- anak yang tidak wajar dan tidak boleh dibiarkan terus hidup di jalanan tanpa ada perlindungan Dan kehilangan atas hak untuk hidup layak. Negara harus turun tangan segera.
Untuk mengatasi realitas ini, diperlukan solusi yang menyentuh akar permasalahan. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah mengusut tuntas penyebab mereka harus hidup di jalan, Lalu mungkin diperlukan pula upaya untuk memperluas akses program gizi bagi anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda kekurangan nutrisi. Selain itu, beasiswa atau program pendidikan gratis hingga jenjang sekolah menengah dapat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan, tanpa terbebani masalah biaya.
Upaya lain yang dapat dilakukan adalah pemberdayaan ekonomi keluarga melalui pelatihan keterampilan dan bantuan modal usaha, sehingga orang tua seperti ayah dari anak tersebut dapat didorong untuk beralih ke pekerjaan yang lebih stabil dan berpenghasilan lebih baik. Pemerintah juga bisa menyediakan lapangan kerja di sektorivnformal yang ramah bagi masyarakat kurang mampu.
Selain itu, kolaborasi dengan komunitas, seperti mahasiswa atau organisasi sosial di Banda Aceh, dapat menjadi bagian penting dari solusi. Mereka dapat berperan aktif dalam memberikan bantuan langsung, seperti makanan, pakaian, atau bahkan pendidikan informal bagi anak-anak jalanan. Bantuan ini dapat meringankan beban keluarga dan memberikan dampak positif dalam jangka pendek.
Di sisi lain, kampanye kesadaran publik juga perlu dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang cara memberikan bantuan yang tepat kepada anak-anak seperti ini. Bantuan berupa uang, meski bermaksud baik, sering kali memperkuat pola hidup yang bergantung pada belas kasih. Sebaliknya, bantuan berupa makanan atau akses pendidikan akan memberikan dampak yang lebih berkelanjutan.
Pemandangan anak-anak di jalanan Banda Aceh ini mengingatkan kita bahwa di balik senyum mereka, ter ldapatp erjuangan yang tidak mudah. Namun, dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas loka, harapan untuk masa depan yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil.
Mari bersama-sama mewujudkan perubahan yang nyata, memberikan kesempatan bagi mereka untuk tumbuh di lingkungan yang lebih baik, bebas dari kekurangan, dan penuh harapan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






