• Latest

Ketika Air Menenggelamkan Asa

Januari 24, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Ketika Air Menenggelamkan Asa - 1001348646_11zon | Alam | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Ketika Air Menenggelamkan Asa - 1001353319_11zon | Alam | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Ketika Air Menenggelamkan Asa - 1001361361_11zon | Alam | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Air Menenggelamkan Asa

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Januari 24, 2025
in Alam, Banjir, Banjir bandang, Bencana
Reading Time: 2 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Ada pembaca setia tulisan saya, mengingatkan. “Bang, kenapa tidak menulis banjir di Kalbar?” Seketika saya kaget. “Astaghfirullahal’azim. Maaf, kali ini saya seperti menutup mata ketika daerah sendiri terkena banjir. Terima kasih sudah mengingatkan.” Saya lalai. Saat LA terbakar, betapa antusias saya menuliskannya. Sampai ada negur, “Mana empati lo buat Gaza.” Itu selalu saya ingat. Sekarang daerah sendiri. Baiklah, para camanewak mania, inilah ungkapan hati saya terhadap banjir di Bumi Khatulistiwa.

Langit mencurahkan air mata. Deras. Tak berhenti. Seakan bumi harus dimandikan segala pedihnya. Namun, kali ini bukan penyucian yang tiba, melainkan bencana. Banjir. Bukan dongeng tahunan lagi. Ini nyata. Ia datang menghapus batas antara rumah dan sungai, antara harapan dan ketidakpastian.

Baca Juga
  • Seruan Internasional Masuk Untuk Kemanusiaan
  • Pengupas Cangkang Kehidupan

Sambas, Landak, Bengkayang, Singkawang. Empat nama yang kini tenggelam bukan dalam peta, tetapi dalam nestapa. Air merayap perlahan, lalu menggila. Tak ada yang tersisa, kecuali pertanyaan di kepala, “Salah siapa?” Tapi jawaban tak lagi penting saat rumah terendam hingga atap, saat tubuh direnggut air yang dinginnya seperti menertawakan.

Sambas, daerah kelahiran saya. Di sana, ada 27 desa kini hanya bayangan masa lalu. Rumah-rumah yang dulu berdiri gagah kini tak lebih dari pondasi yang berjuang melawan arus setinggi satu meter. Kecamatan Paloh dan Galing menjadi panggung drama alam. Hati siapa tak remuk mendengar 3.015 keluarga harus menatap kosong harta benda yang hanyut, memeluk anak-anak mereka di tengah lantai kayu rumah tetangga yang masih bertahan?

Baca Juga
  • Air Surut, Lumpur Menimbun Dayah
  • Hujan Tertahan di Teras Januari

Landak, tempat dulu saya pernah bertugas. Air di Darit dan Ansang bukan lagi menggenang, tapi naik ke atas dada, menyentuh atap, meruntuhkan dinding. Dua meter! Bayangkan. Angka itu bukan statistik dingin. Itu adalah penanda di mana kehidupan dihentikan. Dua nyawa melayang. Nama mereka mungkin tak akan tercatat dalam sejarah, tapi bagi keluarga mereka, dunia telah runtuh.

Bengkayang tempat KKN S2 saya. Ada 129 jiwa terdampak. Jumlahnya kecil, katanya. Tapi siapa yang peduli? Setiap jiwa adalah dunia kecil. Dunia yang kini hanya punya satu warna, cokelat keruh air.

Baca Juga
  • Singkil Banjir Lagi, Sekolah Terpaksa Libur
  • Belajar Empati di Tengah  Krisis Ekologis

Singkawang, tempat sekolah saya. Ada 4.095 jiwa terdampak. Sebuah angka yang terlalu besar untuk disebut tragedi kecil. Mereka tak butuh kata-kata penghibur. Mereka butuh tanah yang kering, makanan yang cukup, dan tempat tidur yang tak dibayangi ketakutan.

Banjir ini bukan hanya air. Ini adalah ketakutan yang melilit leher. Kekosongan yang menekan dada. Kita tak bisa duduk diam dan berkata, “Kasihan ya.” Tidak. Ini saatnya bertanya, apakah kita hanya penonton?

Bantuan datang, katanya. Tapi lambat. Seperti kilatan petir yang tak pernah disusul hujan. Kita adalah bangsa yang pandai berbicara, tapi lambat bertindak. Rumah hanyut, hidup luluh, tapi apa yang diberikan? Beras 5 kilogram, mungkin. Atau selimut tipis yang tak cukup menghangatkan tubuh letih.

Kalimantan Barat, tanah yang katanya jantung dunia. Tapi lihatlah sekarang. Pohon-pohon besar telah diganti sawit. Sungai-sungai telah diracuni limbah. Hujan yang dulu berkah, kini seperti kutukan. Jangan salahkan langit. Salahkan kita yang tak lagi tahu cara menjaga bumi.

Kita yang tak terdampak, bagaimana kabarnya? Apakah sudah cukup merasa kasihan lalu lupa? Ataukah kita masih punya hati untuk membantu? Bukan dengan doa kosong, tapi dengan aksi nyata.

Ini bukan cerita tentang mereka yang jauh di sana. Ini cerita kita. Sebab banjir bukan hanya soal air. Ini tentang kemanusiaan yang diuji. Akankah kita lulus, atau gagal lagi?

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Ketika Air Menenggelamkan Asa - IMG_9052 | Alam | Potret Online

Hanya Sejenak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com