Dengarkan Artikel
Oleh M. Rival Sihab
Mahasiswa D3 Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh
Media sosial sekarang sudah jadi bagian dari hidup kita. Rasanya hampir setiap orang, dari anak kecil sampai orang tua, punya akun di platform seperti Instagram, Facebook, Twitter, atau WhatsApp. Kehadiran media sosial mempermudah kita dalam berbagai hal mulai dari berkomunikasi, berbagi cerita, hingga sekadar kepo kehidupan orang lain.
Bahkan, ada kalanya media sosial menjadi tempat kita mencari hiburan atau menenangkan diri setelah seharian bekerja.
Namun, pernahkah kita berpikir lebih dalam tentang dampaknya terhadap hubungan manusia? Apakah media sosial ini benar-benar membuat kita lebih dekat, atau malah membuat hubungan langsung dengan orang lain jadi renggang, bahkan terpecah?
Media sosial dianggap sebagai revolusi dalam hal komunikasi. Dengan media sosial, kita bisa tetap terhubung, meskipun jarak memisahkan kita. Bayangkan punya sahabat atau keluarga yang tinggal di luar negeri. Dulu, komunikasi lewat surat atau telepon mungkin terasa mahal dan memakan waktu. Sekarang, berkat media sosial, kita bisa melakukan panggilan video kapan saja, mengirim pesan teks dalam hitungan detik, bahkan berbagi momenpenting suka atau duka seperti keluarga jauh sakit, ulang tahun, atau kelahiran anak tanpa harus menunggu.
Rasanya seperti dunia ini lebih kecil, karena kita bisa selalu terhubung dengan orang-orang yang kita sayangi meski terpisah ratusan kilometer.
Selain itu, kemudahan berkomunikasi ini juga membuka peluang bagi kita untuk menjalin hubungan baru, Dulu, mungkin kita hanya berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita, tapi sekarang kita bisa bertemu teman baru dari belahan dunia manapun. Entah itu lewat grup hobi, game online, komunitas online, atau bahkan melalui platform dating. Media sosial membuka banyak pintu untuk mengenal lebih banyak orang dengan minat yang sama, dan kadang itu jadi awal dari persahabatan atau bahkan hubungan yang panjang/
📚 Artikel Terkait
Apalagi dengan aplikasi seperti WhatsApp atau Telegram, kita bisa berkomunikasi dalam kelompok besar dan saling berbagi informasi secaraa langsung real-time. Hal-hal seperti ini tentu memudahkan kehidupan kita, apalagi dalam hal organisasi atau kerja sama antar orang.
Namun, meskipun media sosial menawarkan banyak keuntungan dalam memperkuat hubungan, ada juga sisi gelapnya yang tidak bisa kita abaikan. Salah satunya adalah kecenderungan kita untuk terlalu bergantung pada komunikasi digital, Seringkali kita lebih memilih berbicara lewat pesan daripada bertatap muka. Hubungan yang awalnya terjalin dengan baik bisa jadi terasa dangkal karena terbatasnya komunikasi yang hanya terjadi lewat layar.
Bahkan, dalam beberapa kasus, kita bisa merasa lebih dekat dengan orang yang jauh daripada orang yang ada di lingkungan sekitar kita. Ketika berkumpul dengan keluarga atau teman-teman, banyak dari kita yang lebih sibuk melihat Handphone daripada benar-benar terlibat dalam percakapan langsung. Ini tentu merusak kualitas suatu hubungan, karena kita kehilangan kesempatan untuk saling memahami dan mendalami perasaan orang lain yang mungkin hanya bisa dirasakan secara langsung.
Di sisi lain, terkadang media sosial juga bisa memicu rasa iri hati dan perbandingan yang tidak sehat. Ada orang orang yang akan merasa minder setelah melihat postingan orang lain yang tampaknya hidupnya sempurna? Lihat teman sosial media yang berbagi tentang liburan ke luar negeri, makan di restoran mewah, keluarga yang bahagia di story dan akunnya. Padahal, kita semua harusnya tahu bahwa apa yang kita lihat di media sosial adalah sisi terbaik dari kehidupan seseorang hanya cuplikan cuplikan yang dipilih dengan hati-hati untuk dipamerkan ke publik.
Namun, sering kali kita jatuh dalam perangkap perbandingan ini dan mulai merasa hidup kita kurang menarik. Rasa iri ini bisa berimbas pada hubungan kita dengan orang lain, Kita jadi cenderung membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain, dan akhirnya merasa tidak cukup baik atau bahkan merasa cemas terhadap kehidupan kita yang biasa biasa saja.
Selain itu, komunikasi melalui media sosial juga rentan terhadap miskomunikasi. Seperti yang kita tahu, tidak ada nada suara atau ekspresi wajah dalam sebuah pesan teks. Apa yang kita tulis bisa saja diartikan berbeda oleh orang lain. Sebuah kalimat yang seharusnya bersifat santai atau bercanda bisa jadi ditafsirkan sebagai sindiran atau kritik. Ini sering kali menimbulkan ketegangan dan konflik, baik itu dalam hubungan pribadi, pekerjaan, atau dalam grup sosial. Ditambah lagi, di media sosial kita sering menemukan komentar negatif atau bahkan ujaran kebencian yang bisa memperburuk suasana, orang orang merasa bebas berekspresi di media sosial, baik menyukai satu hal ataupun membenci nya, Semua ini memperlihatkan bahwa meskipun media sosial dapat menjadi alat komunikasi yang efektif, dia juga bisa menjadi sumber masalah jika tidak digunakan dengan bijak.
Jadi, media sosial itu seperti pisau dua mata, bisa memudahkan kita, tapi juga bisa melukai, jika tidak hati-hati. Media sosial jelas membuat hidup kita lebih mudah dan menghubungkan kita dengan orang-orang yang kita cintai, apalagi di masa pandemi seperti beberapa tahun lalu. Banyak dari kita yang tetap bisa terhubung, meskipun fisik terpisah. Namun, kalau kita terlalu sering mengandalkan media sosial untuk berinteraksi, kita bisa kehilangan nilai dari komunikasi yang lebih mendalam dan personal yang hanya bisa didapatkan dengan bertatap muka. Penting bagi kita untuk tahu kapan kita harus beralih dari dunia maya dan fokus pada dunia nyata.
Media sosial itu adalah alat. Seperti alat lainnya, manfaatnya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Jika digunakan dengan bijaksana, media sosial bisa menjadi jembatan yang mempererat hubungan antar manusia. Namun, jika kita tidak berhati-hati, media sosial bisa menjauhkan kita dari orang-orang yang ada di lingkungan sekitar kita. Kuncinya adalah keseimbangan, gunakan media sosial untuk memperkaya hubungan kita, tapi jangan sampai dia menggantikan hubungan nyata yang lebih mendalam.
Nah, penting bagi kita untuk seimbang antara dunia maya dan dunia nyata, dan memastikan bahwa meskipun kita aktif di media sosial, kita tetap menjaga kualitas hubungan langsung yang lebih bermakna.
Btw, berikut akun salah satu media sosial saya
@_rsihab (instagram) , kita dapat berdiskusi atau berbagi sudut pandang tentang hal ini atau lainnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






