POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kakek Nazar di Usia Senja

Salbilla AzraOleh Salbilla Azra
November 21, 2024
Tags: #pengemis
Kakek Nazar di Usia Senja
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Salbilla Azra

Semester 5, Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Kakek Nazar, seorang pensiunan tentara. Usianya berkisar antara  84 hingga 86 tahun, membawa kita pada realitas kehidupan yang menyentuh hati. Di usia lanjutnya, mantan prajurit yang pernah mengabdi hingga usia 78 tahun ini tetap teguh menjalani hari-hari.  Tekadnya untuk mandiri dan menjaga martabat.

Kakek Nazar tinggal bergiliran di rumah anak-anaknya yang tersebar di empat tempat di Banda Aceh, yaitu Mata Ie, Neusu Jaya, Blower, dan Ie Masen. Setiap minggu ia berpindah rumah untuk berada di tengah-tengah anak-anaknya.

Kakek Nazar merasa enggan membebani anak-anaknya. Sehingga timbul keinginannya untuk tetap hidup mandiri dengan cara mengemis di toko-toko sekitar Banda Aceh. Setiap ingin mengemis ia berangkat sekitar pukul 6 hingga 9 pagi, ia meninggalkan rumah dengan menumpang becak,  lalu pergi menuju kawasan ia mengemis. Untuk pulang ia menggunakan bus Transkutaraja .

Pendapatannya dari kegiatan mengemis tidak tentu setiap harinya, tetapi jarang lebih dari 100 ribu rupiah sehari. Meski jumlahnya tak besar, uang itu menjadi penopang untuk kebutuhan sehari-harinya agar tidak membebani anak-anaknya.

📚 Artikel Terkait

Melayarkan Kembali Kapal Kebanggaan

Memaknai Hari Raya Kurban di Era Artificial Intelligence

Menerobos Waktu

Marahmu, Bulan

Salah satu faktor yang sering menyebabkan orang-orang mengemis adalah keterbatasan akses pendidikan, minimnya kesempatan kerja, ketiadaan keterampilan kerja, menciptakan lingkaran setan kemiskinan yang sulit diputus, dan juga tidak sedikit pengemis yang memiliki keterbatasan fisik atau mental. Bagi sebagian mereka, mengemis menjadi pilihan terakhir untuk bertahan hidup.

Stigma masyarakat dan minimnya fasilitas yang mendukung penyandang disabilitas untuk bekerja secara mandiri seringkali membuat mereka terpaksa mengandalkan belas kasihan orang lain. Berbeda dengan Kakek Nazar, sebetulnya ia mengemis bukan tanpa perhatian dari keluarga atau keterbatasan akses pendidikan.

Anak-anaknya bekerja sebagai tentara, polisi, dan guru, telah merawat dan memperhatikan kebutuhannya. Namun, di usianya yang senja, ia memilih untuk mengemis tanpa sepengetahuan mereka. Pilihan ini bukan tanpa alasan; ia ingin menjaga kemandirian, agar tidak menjadi beban bagi keluarganya.

Hingga suatu hari, salah satu anaknya menerima laporan dari orang lain bahwa sang ayah terlihat mengemis di sejumlah toko. Merasa khawatir dan kecewa, anaknya memutuskan untuk menegur keras Kakek Nazar. Namun, ini justru menjadi titik konflik kecil di antara mereka. Sang anak merasa malu, berpikir bahwa tindakan ayahnya itu menunjukkan seolah-olah ia tidak mampu merawat orang tuanya. Bahkan, kemarahan sang anak membuatnya berpikir untuk meminta ayahnya dibawa ke kantor polisi sebagai efek jera. Namun, Kakek Nazar tetap teguh dalam niatnya. Bagi beliau, mengemis adalah cara untuk mempertahankan martabatnya tanpa membebani keluarga. Ia bahkan menabung sebagian dari pendapatan mengemisnya.

Perjalanan hidup Kakek Nazar sebagai pensiunan tentara dipenuhi oleh pengalaman berharga dan kenangan yang tak terlupakan. Sebagai seorang veteran, ia telah melalui berbagai tantangan berat, termasuk sebuah insiden yang sangat membekas di ingatannya. Di masa lalu, ia pernah mengalami kesalahpahaman yang membuatnya dituduh membawa barang terlarang berupa sabu, sehingga harus menjalani hukuman selama dua tahun. Meski peristiwa ini meninggalkan luka di hatinya, semangat Kakek Nazar untuk terus berjuang tidak pernah padam.

Setelah puluhan tahun mengabdi, Kakek Nazar akhirnya pensiun dari dinas militer kini sudah lebih  78 tahun. Pengabdiannya bukan hanya sebagai seorang prajurit, tetapi juga sebagai ayah dan kakek yang selalu berkorban demi kesejahteraan keluarganya.

Kisah hidup Kakek Nazar memperlihatkan bahwa masa tua tidak berarti berhenti berperan dalam keluarga. Nilai-nilai seperti kemandirian, rasa hormat, dan ketulusan adalah hal yang bisa tetap dipelihara sepanjang hidup. Di usia senjanya, Kakek Nazar masih memilih untuk memberi, meskipun dengan cara sederhana, yaitu mengemis. Dengan semangat yang selalu ada dalam dirinya, beliau tetap menjadi sosok penuh ketulusan dan tanggung jawab, memberikan teladan tentang cinta dan rasa hormat bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #pengemis
Salbilla Azra

Salbilla Azra

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?

Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00