Dengarkan Artikel
Oleh : Ego Syahputra
Alumni Pascasarjana Hukum Islam UIN IB Padang, Sumatera Barat
Gelar sarjana sering kali dianggap sebagai tiket menuju masa depan yang cerah. Namun, realitas yang dihadapi banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia justru berbanding terbalik dengan harapan tersebut. Tingkat pengangguran sarjana semakin meningkat setiap tahun, mencerminkan adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Penyebab utamanya adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Banyak perguruan tinggi yang masih menerapkan kurikulum yang kurang relevan dengan perkembangan zaman. Akibatnya, lulusan tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk bersaing di pasar kerja modern, seperti kemampuan teknologi, komunikasi, dan berpikir kritis.
Selain itu, banyak perusahaan lebih mengutamakan pengalaman kerja daripada gelar akademik semata, yang menjadi tantangan besar bagi fresh graduate.Di sisi lain, pertumbuhan lapangan kerja belum sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan setiap tahun. Pemerintah dan sektor swasta menghadapi tantangan besar dalam menciptakan peluang kerja yang memadai. Banyak perusahaan juga memberlakukan persyaratan tinggi yang tidak jarang membuat para sarjana kehilangan kepercayaan diri. Alhasil, mereka terjebak dalam situasi di mana gelar mereka seolah tidak berarti.Fenomena ini juga memunculkan pertanyaan tentang peran perguruan tinggi dalam mempersiapkan lulusannya.
Perguruan tinggi idealnya menjadi wadah yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja melalui program magang, pelatihan keterampilan, atau kerjasama dengan industri.
📚 Artikel Terkait
Sayangnya, program semacam ini masih belum optimal di banyak universitas.Namun, bukan berarti sarjana harus menyerah pada keadaan. Lulusan perlu lebih proaktif dalam mengembangkan keterampilan baru, seperti mengikuti kursus daring, memperluas jaringan profesional, atau bahkan menciptakan peluang usaha sendiri.
Di era digital ini, kreativitas dan inovasi menjadi kunci untuk membuka peluang baru, mengatasi masalah pengangguran sarjana memerlukan upaya kolektif. Pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha harus bersinergi menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif dan relevan. Dengan demikian, gelar sarjana tidak lagi menjadi beban, melainkan aset yang mampu membawa perubahan positif bagi individu dan masyarakat.
Referenshi:
https://www.bps.go.id
https://www.kemdikbud.go.id
Suharti, L. (2013). “Pengangguran Terdidik di Indonesia: Analisis dan Solusi.” Jurnal Ekonomi dan Pendidikan.
Syahdan, F. (2020). “Keterkaitan Kurikulum Perguruan Tinggi dengan Kebutuhan Industri.” Jurnal Pendidikan Indonesia.
https://www.ilo.org
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






