Dengarkan Artikel
Oleh Khairuddin Budiman
Berkisahlah Ahmad yang sudah berumur menyukai Rabumah yang masih sangat muda. Selisih usia mereka lebih dari 20 tahun. Ahmad yang jomblo tua bukanlah pria yang ganteng, tidak juga punya kehidupan yang mapan di usianya. Dia hanya punya kebun dan hidup dari hasil kebun.
Ahmad yang hidup sendiri itu cukup terkenal sebagai pria yang jujur dan baik hati di kampungnya. Rajin membantu tetangga, pengurus masjid karena rajin membantu juga urusan masjid. Meski tidak ganteng kehidupan sosialnya cukup membuatnya terpandang di kalangan masyarakat.
Rabumah yang sangat cantik, bukan hanya jadi incaran setiap pria. Ahmad pun jatuh hati mendalam dan ingin menikahi Rabumah. Dia berkonsultasi dengan Ustadz Udin sesama pengurus Masjid. “Apa mungkin saya yang relatif berumur ini, wajah tidak tampan, kaya pun tidak, jabatan tidak ada, bisa memiliki Rabumah?!. Tapi saya menyukainya dengan tulus”
“Jika Allah menghendaki, apa yang tidak mungkin. Do’akan dalam tahajudmu. Manjalah dengan Tuhan. Tetaplah menjadi baik. Sering-sering berada sekeliling rumah Rabumah agar dia terpikat. Jika diminta tolong, kau harus quick response” Nasehat Ustadz Udin, meski hati kecilnya mungkin merasa mustahil.
Setahun Ahmad menjalani ritual tersebut. Lalu atas saran Ustadz kini dia memantapkan hatinya untuk melamar Rabumah. Segala risiko penolakan, baik yang halus maupun yang ekstrim, Ahmad sudah siap.
Di ruang tamu, Zakiah, ibunya Rabumah menyambutnya. Ahmad mengutarakan maksud hatinya. Namun di luar dugaan, jawaban Zakiah yang janda membuatnya terhenyak. “Ahmad, satu tahun ini aku bersimpuh tahajud, memintamu pada Allah, kelak kau menjadi suamiku menggantikan Ayah Rabumah. Aku tadi mengira doaku sudah dikabulkan. Kau datang melamarku”
Ahmad yang tidak menyangka, tetap berlaku sopan. Dia pamit sambil meminta waktu untuk berpikir kembali tawaran Zakiah. Dia menjumpai Ustadz Udin. Sambil tertawa terkekeh, Ustadz menyarankan Ahmad shalat istikharah selama dua minggu.
📚 Artikel Terkait
Dua minggu kemudian, dia kembali dan memantapkan hatinya pada Zakiah. Dia melihat dirinya secara objektif. Tak pantas menjadi kekasih atau suami Rabumah. Allah mungkin memberi jalan baginya menjadi suami Zakiah dan tetap bisa memberi kasih sayang bagi Rabumah sebagai ayah sambung. Ahmad dan Zakiah pun bertunangan.
Sayangnya satu minggu jelang nikah dan pesta, Zakiah kecelakaan motor, ditabrak mobil dan meninggal dunia. Ahmad tidak dapat menutupi kesedihannya. Namun hidup harus berjalan. Pada rapat keluarga setelah wafatnya Zakiah, Ahmad memberanikan diri mengatakan bahwa segala sesuatu sudah dipesan, tamu sudah akan datang, sound dan catering sudah dibayar semua. Apakah mungkin dia bisa menikahi Rabumah, sehingga acara tidak perlu dibatalkan. Tak disangka atas dasar cinta pada ibunya, Rabumah menerima pinangan Ahmad.
Bagi Ahmad Innalillah berganti menjadi Alhamdulillah. Bukankah Allah mengaturnya dengan rapi tak terduga.
Hidup itu harus optimis. Allah bisa saja memberi jalan lain bagi hambanya yang berprasangka baik. Perasaan optimis itu membuka peluang bahagia.
Lihatlah orang-orang yang hari ini membangun narasi negara tidak baik-baik saja. Segala yang dilakukan oleh Pemerintah salah semuanya. Keburukan lebih nyata bagi mereka daripada kebaikan. Bangun tidur langsung dengan kebencian pada orang lain sarapannya.
Belajarlah dari Ahmad memandang sesuatu dari hinanya diri agar bisa menerima segala keadaan. Allah berikan jalan terbaik bagi hamba yang optimis. Memandang segala sesuatu dengan kebaikan. Maka semesta menghadirkan kebaikan buatmu, curahan bahagia memelukmu.
Buat apa berburuk sangka sementara kebenaran perilaku manusia hanyalah sebatas persepsi. Kenapa tidak memandang dengan persepsi yang optimis bahwa kita dan dunia ini bisa baik-baik saja. Ada peluang memperbaiki, ada kekuatan untuk melakukan kebaikan daripada menggerutu saat mengalami keburukan.
Wallahu’alam
Matangkuli, 121124
Pak Khai
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





