Dengarkan Artikel
Di suatu pagi seorang gadis bernama Bela. Dia pergi menuju sekolah berjalan kaki sambil menikmati suara merpati di sekitarnya. Jam menunjukkan jam 07.45 dan itu menandakan bahwa waktu masuk sekolah sudah tiba, namun Bela masih sangat santai dengan perjalanannya.
Sampai di tengah perjalanan ia ditawarkan tumpangan oleh temannya, namun ia menolak untuk pergi. Beberapa kali temannya memaksa, namun ia terus saja menolak,hingga akhirnya temannya pergi.
Tak lama setelah itu, Bela pun sampai di sekolah. Sesampainya di sana, terlihat beberapa murid yang sedang dihukum. Bela yang melihat hal itu pergi menghampiri gurunya dan menanyakan apa hukumannya dan guru itu menyuruhnya untuk membersihkan halaman sekolah dan ia bergegas membersihkannya.
Ketika ia hampir selesai,datanglah seorang guru yang menghampirinya dan guru itu berkata padanya, “sekolah saja begini, bagaimana di masa depan nanti? Entah lah! Semoga saja kamu sukses”.Ucap guru itu.
Bela terdiam dan memberi senyuman manis pada sang guru. Bela pun menyelesaikan tugasnya dan bergegas untuk masuk ke kelasnya. Di kelas, Bela juga tidak terlalu fokus terhadap pelajaran.
Saat mulai belajar, selalu ada selembaran kertas di tangannya. Sampai suatu hari ada seorang murid yang melihat kertas tersebut, murid itu merampasnya dan ketika ia melihat, betapa terkejutnya ia.
” Oh jadi ini yang membuatmu tidak fokus. Pantaslah kau bodoh dan tak ada yang menemanimu, gambar yang konyol” serapah sang murid.
Bela hanya diam. Dia melirik kosong ke temannya, kemudian murid itu membuangnya ke tong sampah dan mengatakan.
“Minggu depan ujian kelulusan tidak adakah kecemasan sedikitpun pada dirimu?”.
Seminggu kemudian ujian pun tiba dan seperti biasa bela telat dan ia harus
menanggung hukumannya terlebih dahulu kemudian setelah itu ia pun bergegas
ke ruangan. Begitu ia sampai di ruangan
“mengapa kamu terlambat?” tanya sang guru, Bela hanya diam dengan menundukkan kepalanya dan karena waktu yang singkat guru itu menyuruhnya untuk masuk. Sepulang sekolah ada seorang guru yang memanggilnya
“nak ke sini dulu”. Bela pun mendekati guru itu
“apakah ini gambaranmu?”
Betapa terkejutnya Bela melihat lukisan itu. Ya… lukisan yang dirampas oleh murid waktu itu.
” Ya, buk itu punya saya,ibu dapat dari mana?”
“ibu dapat darimana ga penting. Yang penting sekarang, Bela mau kah ikut pentas seni dengan ibu?”
📚 Artikel Terkait
Bela yang masih bingung dengan itu bertanya “maaf Bu. Maksudnya bagimana?
Terus ibu siapa ? Kok saya tidak pernah lihat.” Guru itu tersenyum dan menceritakan semuanya pada Bela dan ternyata ia adalah guru kesenian yang sedang mencari murid untuk sebuah ajang perlombaan terbesar di Indonesia. Ketika sedang mengelilingi sekolah,, ia melihat selembar kertas di tong sampah yang membuat ia tertarik akannya.
Kemudian ia menanyakan tentang siapa yang menggambar itu pada siswa lainnya dan ia menemukan jawabannya, yaitu Bela. “Perlombaannya akan diadakan pada tanggal 20 nanti dan batas pendaftarannya sampai tanggal 17, apakah kamu berminat?”.
Bela terdiam untuk beberapa saat
“Nak……”
“Saya akan kalah dan itu hanya gambaran yang konyol”. ucap Bela dengan halus
“Hah?apa?konyol? Siapa yang mengatakan itu?”
“Tapi memang benar kan?”
“Enggak, ya Allah nak…… Sekarang maksud dari gambaran ini apa?”.
Bela menjelaskannya dengan detail
“Nah kan, apanya yang konyol? Kamu harus mengikuti perlombaan ini,biar ibu yang mendaftarkanmu nanti”.
Mendengar hal itu ia pun terkejut
“Jangan buk!”
“Kenapa?”
“Aku tidak berbakat dan mereka akan mengejekku”
“Siapa yang bilang”
“Pokoknya jangan”
Guru itu menggenggam tangan Bela dan mengatakan :
“kamu berbakat dan ibu bangga mempunyaimu. Ayo semangatlah dan tunjukkan pada mereka bahwa kamu bisa. Ingat!
Semua orang mempunyai kemampuan yang berbeda- beda dan ibu mengakui bahwa bakatmu di sini. Ayo, ibu tunjukkan pada mereka dan ibu akan mendukungmu di sini”.
Mendengar hal itu, Bela menyakininya dan mengikuti perlombaan tersebut. Di luar sangkaan dan dugaan ia meraih mendali emas tingkat nasional.
Semua merasa bahagia. Para guru pun memberikan motivasi kepada Bela ağar terus lberkarya dengan bakat yang dimiliki. Jangan takut jika orang lain merendahkanmu, karena bisa jadi dengan kata-kata merekalah kamu bisa bangkit dari semua itu, kata bu guru. Begitu juga motivasi kepala sekolah, bahwa tidak semua orang memiliki bakat yang sama. Terkadang kamu hanya mampu di bidang ini . jadi jangan dipaksakan di bidang yang lain jika kamu emang tidak bisa.
Erika Syifaq adalah Taruni Kelas XI Perhotelan SMKN 1 Jeunieb, Bireun, Aceh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




