• Latest
Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata - 2025 06 06 06 03 39 | Cerpen Remaja | Potret Online

Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata

Juni 6, 2025
d3468d72-e059-49eb-aefe-2ca7f03c3796

Antara Panggung dan Substansi: Menguji Kualitas Figur Publik di Era Instan

April 5, 2026
Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata - 0fe24566 6737 42e7 bb3b deda43952a5d | Cerpen Remaja | Potret Online

Eskalasi Global Dalam Peradaban Umat Manusia

April 5, 2026
IMG_0631

Ketika Kafe Menjadi Kampus Kedua: Membaca Ulang Makna Ruang Belajar

April 5, 2026
ab6ebc5e-f845-41d9-b310-36c4dc691b80

Kisah Abu Qilabah, Sahabat Nabi yang Selalu Sabar dan Bersyukur kepada Allah

April 5, 2026
4050db81-90c4-46cd-b70b-284027b35f86

Membaca: Mitos atau Realitas?

April 4, 2026
5bc08f1c-007e-4829-8f0c-c96e52cb63d4

Trump Bilang “Completely Decimated,” Iran Malah Comeback, Dua Pesawat AS Tumbang Sekaligus!

April 4, 2026
IMG_0624

Oligarki Digital

April 4, 2026
file_00000000843872088299fecd4c22a871

Filosofi Kapak dan Guru Berkualitas

April 4, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Minggu, April 5, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata - 2025 06 06 06 03 39 | Cerpen Remaja | Potret Online

Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata

PD Hendriyatmoko by PD Hendriyatmoko
Juni 6, 2025
in Cerpen Remaja
Reading Time: 4 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora

Suara takbir menggema dari segala penjuru Masjidil Haram. Ribuan jemaah dari berbagai penjuru dunia mengangkat tangan, menengadah ke langit, menitikkan air mata di depan Ka’bah. Di antara lautan manusia itu, Heri berdiri tegak, tubuhnya sedikit bergetar karena haru. Jubah putih ihram membalut tubuhnya yang tegap, dan bibirnya gemetar memanjatkan doa.

“Ya Allah… panjangkan umur orang tuaku, berikan rezeki yang halal dan berkah… dan bahagiakan aku bersamanya—bersama Sinta.”

Baca Juga:
  • Di Dalam Gelap, Ada Ibu
  • Rina
  • Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Air matanya jatuh. Bukan karena lelah, tapi karena rindu yang tertahan. Rindu kepada seseorang yang ia cintai dalam diam, dalam sabar yang panjang: Sinta.

Gadis dari Desa Jambuna itu selalu berhasil membuat hati Heri penuh tanya. Kadang datang membawa senyum, lalu pergi tanpa alasan. Kadang bicara panjang lebar, lalu diam berminggu-minggu. Namun, Heri tetap menyayanginya. Dengan sabar. Dengan penuh tanggung jawab terhadap perasaan yang tak pernah ia abaikan.

Sinta, si manja yang pandai membuat orang tertawa dan susah ditebak hatinya, seakan menjadi misteri dalam hidup Heri.


Beberapa bulan sebelum keberangkatan haji…

Rinto dan Kamal, sahabat Heri sejak kecil, sedang duduk bersama Heri di beranda rumah kayunya yang sederhana.

“Kau yakin mau pergi haji sekarang, Ri? Belum nikah, belum pasti juga sama Sinta,” tanya Kamal dengan nada menggoda.

Heri tersenyum tenang. “Justru karena belum pasti itulah aku ingin berdoa langsung di tanah suci. Minta kejelasan.”

“Kalau ternyata doanya nggak seperti yang kau harapkan?” sela Rinto.

Heri menatap langit sore. “Berarti itu bukan jalan terbaikku. Aku siap.”


Kini, di tengah lautan manusia berpakaian putih, Heri kembali menyebut nama itu: Sinta.

Namun, entah dari mana, tiba-tiba ada bisikan yang datang begitu lembut di dalam hatinya. Bukan dari pengeras suara, bukan dari suara sekitarnya, tapi dari ruang batin yang paling sunyi:

“Dia bukan milikmu seutuhnya, Heri. Ia punya jalan sendiri.”

Heri menggigit bibirnya. Matanya memanas. Jantungnya berdebar. Ia ingin menyangkal, tapi hatinya diam. Ia ingin marah, tapi jiwa yang dia bentuk dengan sabar tak mampu membenci.


Beberapa hari setelah pulang dari Tanah Suci…

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Heri duduk di depan rumah. Di kejauhan, terlihat Sinta datang bersama sahabatnya, Luna dan Sonia.

Sinta tersenyum. “Selamat datang, Pak Haji,” ujarnya menggoda.

Heri tersenyum kecil. “Terima kasih. Masih sama ya, nggak suka manggil nama lengkap.”

Sinta tertawa. “Kalau panggil Heri terus, nanti baper.”

Heri menatapnya sebentar. Lalu, perlahan berkata, “Aku bawa oleh-oleh doa untukmu, Sin.”

Sinta tampak tersenyum lembut, tapi di balik senyum itu, matanya menyimpan keraguan.

Di malam hari, Heri duduk bersama Jarot, Sopyan, Tutik, dan Vera di balai desa. Obrolan ringan, tawa lepas, dan canda tawa mengisi udara. Tapi hati Heri tetap saja terikat pada satu nama yang kini mulai ia relakan perlahan.

“Gimana kabar Sinta sekarang?” tanya Vera tiba-tiba.

Heri menoleh. “Dia baik. Tapi sepertinya… hatinya bukan di sini.”

ADVERTISEMENT

Semua terdiam. Lalu Sopyan menepuk bahu Heri.

“Kamu lelaki baik, Her. Kalau bukan dia, pasti ada yang lebih pantas.”


Satu malam, di pelataran masjid desa, Heri melihat Sinta duduk sendiri. Ia menghampiri.

“Kau tahu, Sin,” ujar Heri pelan, “di tanah suci, ada bisikan dalam doaku. Katanya, kau bukan milikku seutuhnya.”

Sinta terdiam. Bibirnya gemetar. “Maaf… aku bingung. Aku sayang kamu, tapi… aku juga takut kehilangan diriku sendiri.”

Heri mengangguk pelan. “Aku tak akan memaksamu. Karena cinta yang sejati… tahu kapan harus melepaskan, bukan hanya menggenggam.”


Epilog

Takbir kembali menggema di malam Idul Adha. Heri berdiri di antara keramaian, namun hatinya lapang. Tak ada lagi sesak. Tak ada lagi tanya yang tak dijawab.

Ia belajar satu hal di Tanah Suci: kadang cinta yang tak dimiliki seutuhnya… justru yang paling tulus karena tidak dipaksa.

Dan malam itu, Heri memandang langit, sambil tersenyum. Ia tahu, meski Sinta bukan miliknya, ia tetap mencintai—tanpa harus memiliki. (*)

SummarizeShare235Tweet147
PD Hendriyatmoko

PD Hendriyatmoko

P.D. Hendriyatmoko lahir di Blora pada tahun 1975. Ia merupakan alumnus Universitas Widya Gama Malang, jurusan Teknik Elektro. Meskipun berlatar belakang pendidikan teknik, Hendriyatmoko memiliki minat besar terhadap dunia seni, khususnya seni menulis. Semasa kuliah, ia aktif mendalami seni penyiaran, karawitan, dan pewayangan yang semakin memperkaya wawasan dan pengalamannya dalam bidang seni. Ia pernah menekuni dunia penulisan cerpen, meski karyanya belum sempat terpublikasi di media, baik daring maupun cetak. Baru pada tahun 2024, Hendriyatmoko kembali mencoba menulis dan, berkat dorongan serta bantuan dari Mas Gunawan, salah satu karyanya berhasil terbit di media online. Semangatnya untuk terus berkarya menjadi bekal penting dalam perjalanan kreatifnya.

Related Posts

d3468d72-e059-49eb-aefe-2ca7f03c3796
Artikel

Antara Panggung dan Substansi: Menguji Kualitas Figur Publik di Era Instan

April 5, 2026
Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata - 0fe24566 6737 42e7 bb3b deda43952a5d | Cerpen Remaja | Potret Online
Artikel

Eskalasi Global Dalam Peradaban Umat Manusia

April 5, 2026
IMG_0631
Artikel

Ketika Kafe Menjadi Kampus Kedua: Membaca Ulang Makna Ruang Belajar

April 5, 2026
ab6ebc5e-f845-41d9-b310-36c4dc691b80
Agama Islam

Kisah Abu Qilabah, Sahabat Nabi yang Selalu Sabar dan Bersyukur kepada Allah

April 5, 2026
Next Post
Bisikan di Antara Takbir dan Air Mata - 2025 06 06 06 11 16 | Cerpen Remaja | Potret Online

Jaga Raja Ampat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com