• Latest

DPR Sekolah, Cara Unik Menyaingi Gawai

September 26, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

DPR Sekolah, Cara Unik Menyaingi Gawai

Redaksiby Redaksi
September 26, 2024
Reading Time: 2 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Erika Syifaq

Taruni Kelas XI Perhotelan SMKN 1 Jeunieb

Literasi sudah selayaknya menjadi budaya yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Warga sekolah yang literat merupakan kendaraan dalam menyikapi era revolusi industri 4.0. Melalui budaya literasi, diharapkan generasi muda Aceh, khususnya taruna-taruni SMKN 1 Jeunieb mampu bertahan dan siap menyongsong kemajuan teknologi abad XXI.

Budaya literasi di sekolah diawali dengan kegiatan melek baca dan tulis (literasi baca-tulis), karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan literasi selanjutnya, yaitu literasi matematika, sains, teknologi informasi dan komunikasi, keuangan, serta kebudayaan dan kewarganegaraan.

Budaya literasi sekolah kiranya terus digalakkan agar menjadi budaya warga sekolah. Penyebaran ‘virus’ literasi, bukan hanya tanggung jawab guru perintis semata, namun seharusnya setiap personel sekolah turut ambil bagian dalam menyukseskannya. Siswa maupun guru dapat menjadi agen perubahan (agents of change) yang mempengaruhi orang lain/siswa lain untuk berpihak menjadi masyarakat literat pula. Akan lebih baik lagi, jika dapat mengajak dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya (keluarga dan masyarakat sekitar).

Banyak cara dapat dilakukan yang sifatnya ‘persuasif/ajakan/himbauan’ agar taruna-taruni menjadi tertarik berliterasi. Salah satunya adalah menggelatungkan aneka genre buku bacaan Di bawah Pohon Rindang (DPR) yang ada di halaman sekolah sebagai pustaka ruang terbuka.

Seperti yang terlihat DPR di halaman belakang SMKN 1 Jeunieb, Kamis (25/9). Ada buku tentang cerita binatang, sejarah, hingga novel.

Para taruni pun langsung mengambil satu per satu buku tersebut. Lalu, mereka membacanya sambil duduk DPR. Di antara taruni itu, ada Nadia, Fitriyanti, dan Rifaty Karimah. Mereka ini sama-sama satu jurusan dengan saya, yaitu Jurusan Desain Pemodelan Busana kelas XI (sebelas).

Anak-anak kelas XI tersebut begitu asyik membaca buku yang bergelantungan. Mereka menyebutnya dengan DPR atau pohon baca. Hampir setiap istirahat dan sekadar meluangkan waktu, mereka memanfaatkan waktu luang untuk menikmati buku-buku di pohon baca.

Menurut bapak kepala sekolah, ide membuat pohon buku tersebut muncul sejak setahun lalu. Dia bersama beberapa guru dan taruni aktivis literasi sekolah meminjamkan aneka genre buku di perpustakaan sekolah dan menggantungnya di beberapa batang pohon rindang.

Buku-buku tersebut menjulur ke bawah seperti akar pohon sehingga anak-anak mudah meraihnya.

“Kami ingin menggerakkan budaya literasi di sekolah. Selama ini anak-anak cenderung malas datang ke perpustakaan,” ungkapnya.

Kali pertama ide itu direalisasikan, respons para guru dan taruna-taruni sangat bagus. Anak-anak lebih tertarik membaca dalam suasana terbuka. Selain itu, ada sensasi lain ketika memilih jenis buku bacaan yang digantung. Setiap istirahat dan waktu luang, DPR ini pasti ramai.

Koleksi buku di pohon baca selalu di-update. Biasanya update dilakukan tiga hari sekali. Untuk mengantisipasi turunnya hujan dan atau menjelang pulang sekolah, buku-buku ini dipindahkan oleh anggota Tim Jangkar, yaitu Klub Literasi yang dibentuk sekolah yang beranggotakan guru dan siswa.

Ruang terbuka DPR atau pohon baca tersebut sejatinya dibuat untuk mengikis kebiasaan taruna-taruni menggunakan gadget. Sebab, selama ini banyak pelajar yang gemar bermain gadget. Padahal, dampak radiasi gadget terhadap pelajar sangat buruk. Salah satunya, mengakibatkan gangguan pada saraf mata dan perkembangan otak anak. Alasan inilah bapak kepala sekolah mengalihkan perhatian kami dengan kegiatan yang positif.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Selain pohon baca, sekolah menyediakan empat buah rangkang atau semacam gazebo dan sebuah taman baca untuk alternatif tempat siswa belajar. Bahkan, pihak manajemen sekolah membatasi kami dalam hal penggunaan gadget di sekolah.

Kami dilarang menggunakan gadget di sekolah. Kecuali memang ada arahan dari guru untuk membawa gadget, itu pun hanya kepentingan belajar. Dan bila kami berkomunikasi dengan orang tua, ataupun sebaliknya pihak sekolah akan menfalisitasinya.

ADVERTISEMENT

Diharapkan dengan adanya pohon literasi dan rangkang di setiap sudut sekolah dapat meningkatkan ketertarikan anak-anak terhadap literasi khususnya dalam membaca buku-buku yang telah tersedia.
Dengan begitu kemampuan anak-anak dalam berliterasipun dapat meningkat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 334x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 250x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Jalan Kaki Hingga 6 Km, Direktur CCDE Bantu Dua Sepeda untuk Dua Siswi MAN 4 Aceh Selatan

Jalan Kaki Hingga 6 Km, Direktur CCDE Bantu Dua Sepeda untuk Dua Siswi MAN 4 Aceh Selatan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com