POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

DPR Sekolah, Cara Unik Menyaingi Gawai

RedaksiOleh Redaksi
September 26, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Erika Syifaq

Taruni Kelas XI Perhotelan SMKN 1 Jeunieb

Literasi sudah selayaknya menjadi budaya yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Warga sekolah yang literat merupakan kendaraan dalam menyikapi era revolusi industri 4.0. Melalui budaya literasi, diharapkan generasi muda Aceh, khususnya taruna-taruni SMKN 1 Jeunieb mampu bertahan dan siap menyongsong kemajuan teknologi abad XXI.

Budaya literasi di sekolah diawali dengan kegiatan melek baca dan tulis (literasi baca-tulis), karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan literasi selanjutnya, yaitu literasi matematika, sains, teknologi informasi dan komunikasi, keuangan, serta kebudayaan dan kewarganegaraan.

Budaya literasi sekolah kiranya terus digalakkan agar menjadi budaya warga sekolah. Penyebaran ‘virus’ literasi, bukan hanya tanggung jawab guru perintis semata, namun seharusnya setiap personel sekolah turut ambil bagian dalam menyukseskannya. Siswa maupun guru dapat menjadi agen perubahan (agents of change) yang mempengaruhi orang lain/siswa lain untuk berpihak menjadi masyarakat literat pula. Akan lebih baik lagi, jika dapat mengajak dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya (keluarga dan masyarakat sekitar).

Banyak cara dapat dilakukan yang sifatnya ‘persuasif/ajakan/himbauan’ agar taruna-taruni menjadi tertarik berliterasi. Salah satunya adalah menggelatungkan aneka genre buku bacaan Di bawah Pohon Rindang (DPR) yang ada di halaman sekolah sebagai pustaka ruang terbuka.

Seperti yang terlihat DPR di halaman belakang SMKN 1 Jeunieb, Kamis (25/9). Ada buku tentang cerita binatang, sejarah, hingga novel.

Para taruni pun langsung mengambil satu per satu buku tersebut. Lalu, mereka membacanya sambil duduk DPR. Di antara taruni itu, ada Nadia, Fitriyanti, dan Rifaty Karimah. Mereka ini sama-sama satu jurusan dengan saya, yaitu Jurusan Desain Pemodelan Busana kelas XI (sebelas).

📚 Artikel Terkait

Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

Menangislah! Tidak Mengapa

Fakta Mengerikan Tentang Riba

Puasa, Lapar, dan Makna Sabar

Anak-anak kelas XI tersebut begitu asyik membaca buku yang bergelantungan. Mereka menyebutnya dengan DPR atau pohon baca. Hampir setiap istirahat dan sekadar meluangkan waktu, mereka memanfaatkan waktu luang untuk menikmati buku-buku di pohon baca.

Menurut bapak kepala sekolah, ide membuat pohon buku tersebut muncul sejak setahun lalu. Dia bersama beberapa guru dan taruni aktivis literasi sekolah meminjamkan aneka genre buku di perpustakaan sekolah dan menggantungnya di beberapa batang pohon rindang.

Buku-buku tersebut menjulur ke bawah seperti akar pohon sehingga anak-anak mudah meraihnya.

“Kami ingin menggerakkan budaya literasi di sekolah. Selama ini anak-anak cenderung malas datang ke perpustakaan,” ungkapnya.

Kali pertama ide itu direalisasikan, respons para guru dan taruna-taruni sangat bagus. Anak-anak lebih tertarik membaca dalam suasana terbuka. Selain itu, ada sensasi lain ketika memilih jenis buku bacaan yang digantung. Setiap istirahat dan waktu luang, DPR ini pasti ramai.

Koleksi buku di pohon baca selalu di-update. Biasanya update dilakukan tiga hari sekali. Untuk mengantisipasi turunnya hujan dan atau menjelang pulang sekolah, buku-buku ini dipindahkan oleh anggota Tim Jangkar, yaitu Klub Literasi yang dibentuk sekolah yang beranggotakan guru dan siswa.

Ruang terbuka DPR atau pohon baca tersebut sejatinya dibuat untuk mengikis kebiasaan taruna-taruni menggunakan gadget. Sebab, selama ini banyak pelajar yang gemar bermain gadget. Padahal, dampak radiasi gadget terhadap pelajar sangat buruk. Salah satunya, mengakibatkan gangguan pada saraf mata dan perkembangan otak anak. Alasan inilah bapak kepala sekolah mengalihkan perhatian kami dengan kegiatan yang positif.

Selain pohon baca, sekolah menyediakan empat buah rangkang atau semacam gazebo dan sebuah taman baca untuk alternatif tempat siswa belajar. Bahkan, pihak manajemen sekolah membatasi kami dalam hal penggunaan gadget di sekolah.

Kami dilarang menggunakan gadget di sekolah. Kecuali memang ada arahan dari guru untuk membawa gadget, itu pun hanya kepentingan belajar. Dan bila kami berkomunikasi dengan orang tua, ataupun sebaliknya pihak sekolah akan menfalisitasinya.

Diharapkan dengan adanya pohon literasi dan rangkang di setiap sudut sekolah dapat meningkatkan ketertarikan anak-anak terhadap literasi khususnya dalam membaca buku-buku yang telah tersedia.
Dengan begitu kemampuan anak-anak dalam berliterasipun dapat meningkat.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Jalan Kaki Hingga 6 Km, Direktur CCDE Bantu Dua Sepeda untuk Dua Siswi MAN 4 Aceh Selatan

Jalan Kaki Hingga 6 Km, Direktur CCDE Bantu Dua Sepeda untuk Dua Siswi MAN 4 Aceh Selatan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00