• Latest
Mimpi - 4dbcb2cd 5eb6 4cc8 8e36 e7589bd47626 | Cerpen | Potret Online

Mimpi

Februari 28, 2024
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Mimpi - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Mimpi - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Cerpen | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Mimpi - 4dbcb2cd 5eb6 4cc8 8e36 e7589bd47626 | Cerpen | Potret Online

Mimpi

Redaksi by Redaksi
Februari 28, 2024
in Cerpen, POTRET Budaya, Sastra
Reading Time: 6 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh  Nadila Izzah*

Sinar matahari menyelinap menerangi setengah wajah Rita. Dalam keadaan basah, Rita  bangun dan segera membereskan para boneka yang memenuhi tempat tidur. Beberapa hari ini, Rita memutuskan untuk tidak datang ke pohon Jamblang dan wilayah peri lain, hanya sekadar  memohon akan kedatangan peri angin. Dia sendiri sudah lelah menunggu Tillyn, meskipun ada  hal yang ingin dia tanyakan kepada pria itu.

“Kau dengar? Itu Tillyn!” Serunya seraya berlari menuruni tangga sambil menghidupi  lampu-lampu lorong lantai dasar, satu persatu. Suara ketukan pintu semakin mempercepat langkah  Rita untuk segera menyambut tamu. Pintu kayu itu berderak, dan agak sedikit keset di kakinya , sehingga meninggalkan bercak hitam yang melengkung di permukaan lantai.

Berdiri di  hadapannya, seorang pemuda.

Tangannya menggulung lengan dengan santainya, “Rumah yang tepat! Apa kau tadi sempat  kesasar di perjalanan?”

Tillyn hanya menanggapi pertanyaan Rita dengan gelengan kepala. Dia hanya diam dan  mengikuti arahan kaki Rita ke sebuah ruangan yang cukup luas. Hanya ada kursi tamu, guci kaca  dan beberapa lukisan yang menggantung di sudut ruangan. Lukisan bercat hitam yang hanya  digoresi kuas putih. Garis yang terkadang melengkung, lurus, membentuk huruf dan angka yang  terlihat samar.

“Sudah lama sekali kau tidak datang. Bahkan kita sudah tak lagi menari seperti dulu.” Rita  mengerutkan alis penuh kesedihan, dia menuruni wajah lalu menutupi ekspresi tersebut.

Di sisi lain, Tillyn merasakan hal yang sama. Kesedihan, rasa bersalah, dan perasaan lain.  Dia menepis rasa itu lalu mengelus kepala Rita dan tersenyum, “Mari berdansa, Rita”

Mereka mengenggam tangan satu sama lain dan mengeratkan tubuh bersamaan sebelum  berputar-putar mengikuti gumaman nyanyian Tillyn. Gumaman itu mengingatkan Rita akan melodi musik pernikahan mereka. Hidupnya telah disempurnakan bersama Tillyn, dan mungkin  hari ini adalah hari kawin mereka dan menunggu lama bayi-bayi peri angin akan terlahir. Rita siap hal kehilangan wujud manusianya demi melahirkan penerus peri angin.

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026

“Apa kau tahu, setiap bayi peri yang lahir hanya akan ada 7 peri yang bertahan. Salah  satunya akan menjadi si penerus” bisik Tillyn pelan. Rita mengangguk dan menjawabnya dengan  gumaman saja. “Itu kenyataan yang paling kutakuti.”

“Aku katakan beberapa kalipun tak masalah, kalau aku akan selalu bersamamu jadi tak  perlu merasa takut.”

Tillyn terdiam sebentar. “Dan hari ini adalah hari pertunjukan.”

“Ya! Dan aku akan menjadi penari di sana! Kau lihatlah aku akan melahirkan anak-anak  peri!” seru Rita dengan girang. Dia sadar telah memotong ucapan Tillyn, tetapi pikirannya  mengatakan Tillyn juga pasti senang.

“Rita, kenapa kau mau menikahi alam?” tanya Tillyn setelah beberapa saat keheningan.

Raut wajah Tillyn yang tak berubah, mempertanyakan pikiran Rita. Rita menghalau isi  kepala itu dan dia menggeleng. “Alam membuatku merasa hidup! Aku tidak mau seperti papa yang  sibuk sendiri! Lihatlah dia sekarang, otaknya dipenuhi koin duniawi yang kotor, lalu menyisakan  kubangan belatung!”

“Tetapi alam juga akan mati lama kelamaan dan tidak akan ada lagi yang membuatmu  hidup, Rita”

“Tentu ada!”

Rita menarik kerah pakaian Tillyn dan mengeratkan lengannya di antara bahunya yang  dingin. Tubuhnya merasa geli dan gelisah, Rita mematung di pelukan Tillyn yang masih terus  memandanginya tanpa mengerutkan wajah. Dia menempelkan kepala tepat di bawah dada Tillyn.

“Kau telah menukar usia untuk menemani rasa takutku. Aku tentu sangat berterima kasih.”

Keadaan yang hampir hening menyelimuti ruangan, hingga suara-suara keras dari luar  membangunkan mereka. Rita mencoba pergi dari genggaman Tillyn. Tatapan peri angin itu sama  sekali tidak membuat Rita merasa nyaman, sementara Tillyn melanjutkan tarian. Rita tak bisa  menolak, meski suara-suara keras kendaraan semakin mendekat.

“Apa kau tahu alasan manusia menikah dengan kami?”

“Mungkin saja mereka menikahi peri karena tergiur dengan sumpah pertukaran” balas Rita  agak menaikan nada berbicara. Matanya berkaca-kaca ketika Tillyn melihat ke arahnya. Warna  kehijauan matanya seketika saja berubah menjadi putih, lalu seperti semula kembali.

Rita semakin  merasakan keanehan pada tubuhnya, seperti melayang tersedot angin di hadapannya.

“Apa kau juga menikahiku karena adanya sebuah pertukaran?” tanya Tillyn. “Aku tak pernah mengatakan itu.”

“Lalu mengapa sangat yakin dengan alasan itu?”

“Buku! Aku membaca buku yang kau berikan! Itu tertulis!”

“Dan pertukaran juga akan berakhir setelah pasangan pengantin wanita mati, Rita. Itulah  kelanjutan dari baris-baris buku yang buram.”

Di akhir kalimat itu, keduanya mematung di sana dengan suara-suara mesin yang hampir  menulikan telinga mereka. Kata kematian yang terucap mengerucutkan kerutan wajah Rita, tetapi  suara besar itu juga menarik perhatiaannya. Dia lekas berlari menaiki anak tangga dan lorong lorong menuju balkon. Berdiri di balik pohon bambu kuning, sebuah truk besar dan alat-alat besar  lainya. Rita tercengang, dia segera berlari menemui Tillyn di ruang tamu.

Tillyn memutarkan tubuh, “Sudah kukatakan sebelumnya, alam akan mati. Tapi entah  kenapa aku tak bisa melekatkanmu menjadi alam, Rita. Setidaknya menjadi manusia adalah suatu  ‘keajaiban’ terbaik yang sudah kau peroleh.”

Rita mengeretakan giginya dan rambutnya berantakan di sertai wajah yang memerah  dengan amarah yang mulai meluap, “Jangan samakan aku dengan mereka! Aku muak mereka terus  membunuh kalian! Kau tidak lihat mereka menebang, dan membangun gedung-gedung hanya  demi diri mereka sendiri!”

Di balik ruangan makan, suara kendaraan terhenti. Seseorang berteriak, lalu gerombolan  pria bertopi kuning mengambil beberapa foto dan terdengar suara panik sambil sibuk menelepon  seseorang. Rita dapat melihat dari kejauhan, kedua jasad tulang belulang itu digerogoti ratusan  belatung gemuk. Namun, suatu kilauan sesaat menganggu kedipan matanya, gumpalan  kekuningan melayang dan terbang menyatu dalam sayap Tillyn.

“Itu gumpalan terakhir,” ucap Tillyn dan dia berdeham, “Sebab keajaibanmu tidak bisa  menetap pada tulang belulang.”

Rita mengerutkan wajah, “Apa maksudnya? Tulang belulang itu— Oh, apa ini selera  humormu?” tanyanya diikuti dengan tawa.

“Aku akan mencoba menutup suaraku agar kau tak perlu menungguku lagi. Selamat  tinggal.”

ADVERTISEMENT

“Tunggu! Jangan pergi,” teriak Rita. “Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku adalah  pengantinmu!”

Hembusan angin yang meniupkan debu-debu perlahan membuka pengelihatan Rita yang  sebenarnya. Dinding, kayu, besi, atap, batu, tanaman liar, perkakas rumah tangga dan segala  ingatannya kembali tersadar dengan gumaman-gumaman itu. Suara samar yang terus menganggu  dirinya selama ini, malah menaikan nada suaranya. Dan di balik orang yang berlalu lalang, tetesan  darah menetes dari ujung daun telinga dan kerongkongannya menjadi asin. Suaranya tak bisa lagi  terdengar, bahkan keributan di sekitar tidak dapat dia terima. Hanya gumaman itu saja yang  berputar di telinganya. Berbisik, memanggil namanya berulang kali.

*Penulis adalah peserta kelas menulis Sigupai Mambaco, Blang Pidie, Aceh Barat Daya 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 331x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 327x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 304x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 195x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Mimpi - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post

e-tikbroh.yak Kegiatan Pengelolaan Sampah untuk Anak-Anak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com