POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mimpi

RedaksiOleh Redaksi
February 28, 2024
Mimpi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh  Nadila Izzah*

Sinar matahari menyelinap menerangi setengah wajah Rita. Dalam keadaan basah, Rita  bangun dan segera membereskan para boneka yang memenuhi tempat tidur. Beberapa hari ini, Rita memutuskan untuk tidak datang ke pohon Jamblang dan wilayah peri lain, hanya sekadar  memohon akan kedatangan peri angin. Dia sendiri sudah lelah menunggu Tillyn, meskipun ada  hal yang ingin dia tanyakan kepada pria itu.

“Kau dengar? Itu Tillyn!” Serunya seraya berlari menuruni tangga sambil menghidupi  lampu-lampu lorong lantai dasar, satu persatu. Suara ketukan pintu semakin mempercepat langkah  Rita untuk segera menyambut tamu. Pintu kayu itu berderak, dan agak sedikit keset di kakinya , sehingga meninggalkan bercak hitam yang melengkung di permukaan lantai.

Berdiri di  hadapannya, seorang pemuda.

Tangannya menggulung lengan dengan santainya, “Rumah yang tepat! Apa kau tadi sempat  kesasar di perjalanan?”

Tillyn hanya menanggapi pertanyaan Rita dengan gelengan kepala. Dia hanya diam dan  mengikuti arahan kaki Rita ke sebuah ruangan yang cukup luas. Hanya ada kursi tamu, guci kaca  dan beberapa lukisan yang menggantung di sudut ruangan. Lukisan bercat hitam yang hanya  digoresi kuas putih. Garis yang terkadang melengkung, lurus, membentuk huruf dan angka yang  terlihat samar.

“Sudah lama sekali kau tidak datang. Bahkan kita sudah tak lagi menari seperti dulu.” Rita  mengerutkan alis penuh kesedihan, dia menuruni wajah lalu menutupi ekspresi tersebut.

Di sisi lain, Tillyn merasakan hal yang sama. Kesedihan, rasa bersalah, dan perasaan lain.  Dia menepis rasa itu lalu mengelus kepala Rita dan tersenyum, “Mari berdansa, Rita”

Mereka mengenggam tangan satu sama lain dan mengeratkan tubuh bersamaan sebelum  berputar-putar mengikuti gumaman nyanyian Tillyn. Gumaman itu mengingatkan Rita akan melodi musik pernikahan mereka. Hidupnya telah disempurnakan bersama Tillyn, dan mungkin  hari ini adalah hari kawin mereka dan menunggu lama bayi-bayi peri angin akan terlahir. Rita siap hal kehilangan wujud manusianya demi melahirkan penerus peri angin.

“Apa kau tahu, setiap bayi peri yang lahir hanya akan ada 7 peri yang bertahan. Salah  satunya akan menjadi si penerus” bisik Tillyn pelan. Rita mengangguk dan menjawabnya dengan  gumaman saja. “Itu kenyataan yang paling kutakuti.”

“Aku katakan beberapa kalipun tak masalah, kalau aku akan selalu bersamamu jadi tak  perlu merasa takut.”

Tillyn terdiam sebentar. “Dan hari ini adalah hari pertunjukan.”

“Ya! Dan aku akan menjadi penari di sana! Kau lihatlah aku akan melahirkan anak-anak  peri!” seru Rita dengan girang. Dia sadar telah memotong ucapan Tillyn, tetapi pikirannya  mengatakan Tillyn juga pasti senang.

“Rita, kenapa kau mau menikahi alam?” tanya Tillyn setelah beberapa saat keheningan.

Raut wajah Tillyn yang tak berubah, mempertanyakan pikiran Rita. Rita menghalau isi  kepala itu dan dia menggeleng. “Alam membuatku merasa hidup! Aku tidak mau seperti papa yang  sibuk sendiri! Lihatlah dia sekarang, otaknya dipenuhi koin duniawi yang kotor, lalu menyisakan  kubangan belatung!”

“Tetapi alam juga akan mati lama kelamaan dan tidak akan ada lagi yang membuatmu  hidup, Rita”

📚 Artikel Terkait

Celoteh Pagi

Pentingnya Membaca untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis

Samsat Lhokseumawe Akan Menggelar Razia Gabungan

Bahasa Rumah Adalah Bahasa Daerah

“Tentu ada!”

Rita menarik kerah pakaian Tillyn dan mengeratkan lengannya di antara bahunya yang  dingin. Tubuhnya merasa geli dan gelisah, Rita mematung di pelukan Tillyn yang masih terus  memandanginya tanpa mengerutkan wajah. Dia menempelkan kepala tepat di bawah dada Tillyn.

“Kau telah menukar usia untuk menemani rasa takutku. Aku tentu sangat berterima kasih.”

Keadaan yang hampir hening menyelimuti ruangan, hingga suara-suara keras dari luar  membangunkan mereka. Rita mencoba pergi dari genggaman Tillyn. Tatapan peri angin itu sama  sekali tidak membuat Rita merasa nyaman, sementara Tillyn melanjutkan tarian. Rita tak bisa  menolak, meski suara-suara keras kendaraan semakin mendekat.

“Apa kau tahu alasan manusia menikah dengan kami?”

“Mungkin saja mereka menikahi peri karena tergiur dengan sumpah pertukaran” balas Rita  agak menaikan nada berbicara. Matanya berkaca-kaca ketika Tillyn melihat ke arahnya. Warna  kehijauan matanya seketika saja berubah menjadi putih, lalu seperti semula kembali.

Rita semakin  merasakan keanehan pada tubuhnya, seperti melayang tersedot angin di hadapannya.

“Apa kau juga menikahiku karena adanya sebuah pertukaran?” tanya Tillyn. “Aku tak pernah mengatakan itu.”

“Lalu mengapa sangat yakin dengan alasan itu?”

“Buku! Aku membaca buku yang kau berikan! Itu tertulis!”

“Dan pertukaran juga akan berakhir setelah pasangan pengantin wanita mati, Rita. Itulah  kelanjutan dari baris-baris buku yang buram.”

Di akhir kalimat itu, keduanya mematung di sana dengan suara-suara mesin yang hampir  menulikan telinga mereka. Kata kematian yang terucap mengerucutkan kerutan wajah Rita, tetapi  suara besar itu juga menarik perhatiaannya. Dia lekas berlari menaiki anak tangga dan lorong lorong menuju balkon. Berdiri di balik pohon bambu kuning, sebuah truk besar dan alat-alat besar  lainya. Rita tercengang, dia segera berlari menemui Tillyn di ruang tamu.

Tillyn memutarkan tubuh, “Sudah kukatakan sebelumnya, alam akan mati. Tapi entah  kenapa aku tak bisa melekatkanmu menjadi alam, Rita. Setidaknya menjadi manusia adalah suatu  ‘keajaiban’ terbaik yang sudah kau peroleh.”

Rita mengeretakan giginya dan rambutnya berantakan di sertai wajah yang memerah  dengan amarah yang mulai meluap, “Jangan samakan aku dengan mereka! Aku muak mereka terus  membunuh kalian! Kau tidak lihat mereka menebang, dan membangun gedung-gedung hanya  demi diri mereka sendiri!”

Di balik ruangan makan, suara kendaraan terhenti. Seseorang berteriak, lalu gerombolan  pria bertopi kuning mengambil beberapa foto dan terdengar suara panik sambil sibuk menelepon  seseorang. Rita dapat melihat dari kejauhan, kedua jasad tulang belulang itu digerogoti ratusan  belatung gemuk. Namun, suatu kilauan sesaat menganggu kedipan matanya, gumpalan  kekuningan melayang dan terbang menyatu dalam sayap Tillyn.

“Itu gumpalan terakhir,” ucap Tillyn dan dia berdeham, “Sebab keajaibanmu tidak bisa  menetap pada tulang belulang.”

Rita mengerutkan wajah, “Apa maksudnya? Tulang belulang itu— Oh, apa ini selera  humormu?” tanyanya diikuti dengan tawa.

“Aku akan mencoba menutup suaraku agar kau tak perlu menungguku lagi. Selamat  tinggal.”

“Tunggu! Jangan pergi,” teriak Rita. “Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku adalah  pengantinmu!”

Hembusan angin yang meniupkan debu-debu perlahan membuka pengelihatan Rita yang  sebenarnya. Dinding, kayu, besi, atap, batu, tanaman liar, perkakas rumah tangga dan segala  ingatannya kembali tersadar dengan gumaman-gumaman itu. Suara samar yang terus menganggu  dirinya selama ini, malah menaikan nada suaranya. Dan di balik orang yang berlalu lalang, tetesan  darah menetes dari ujung daun telinga dan kerongkongannya menjadi asin. Suaranya tak bisa lagi  terdengar, bahkan keributan di sekitar tidak dapat dia terima. Hanya gumaman itu saja yang  berputar di telinganya. Berbisik, memanggil namanya berulang kali.

*Penulis adalah peserta kelas menulis Sigupai Mambaco, Blang Pidie, Aceh Barat Daya 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

e-tikbroh.yak Kegiatan Pengelolaan Sampah untuk Anak-Anak

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00