Dosen Gagap Koran, Mengapa Ilmu Tinggi, Suaranya Pelan?

Oleh: Saiful Bahri
_Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,_
Profesor bisa bedah teori postkolonial 3 jam tanpa teks, tepuk tangan satu ruangan. Tapi disuruh nulis 500 kata buat pembaca koran… 3 hari tak jadi-jadi. File Word masih kosong, yang ada cuma judul.
Ini bukan salah beliau. Ini penyakit. Namanya: Gagap Koran
1. Gejala Gagap Koran Itu Nyata
Coba buka grup WA dosen. Kirim pengumuman: “Yuk nulis opini ke koran, 500 kata saja”. Yang jawab “Siap Pak” ada 40 orang. Yang naskahnya masuk redaksi? 2 orang.
Sisanya kenapa? Karena begitu ngetik, jari langsung kaku. 1 paragraf isinya 5 baris + 3 kata: “epistemologi, dikotomi, dekonstruksi”. Pembaca koran langsung skip. Padahal ilmunya setinggi langit. Sayang kan? Ilmu setinggi S3 luar, tapi suaranya pelan kayak bisik-bisik… nyaris tak terdengar.
Mungkin Anda pernah lihat naskah dosen di kampus ditolak redaksi 7 kali. Alasannya sama: “Bahasa terlalu akademik Pak. Pembaca kami ibu-ibu PKK”.
2. Akar Penyakitnya: Kita Salah Sekolah Bahasa
Sejak S2/S3, kita cuma diajar “bahasa jurnal”. Bahasa yang cuma dimengerti 50 orang se-Indonesia + 3 reviewer + 1 dosen pembimbing. Kita lupa, Nabi dakwah pakai bahasa pasar, bukan bahasa istana. Sehingga beliau sukses dan disegani banyak orang.
Di perusahaan asing dulu saya jadi Senior Manager, ada rumus ketat yang saya pakai: “Data tanpa narasi = laporan mati. Narasi tanpa data = dongeng”. Jadi saya tidak mau berdongeng di depan Bos. Jurnal itu “data”. Koran itu “narasi”.
Masalahnya, kita jago bikin “data” 20 halaman. Tapi gagap bikin “narasi” 1 halaman. Padahal pembaca Potret = guru, ASN, ibu rumah tangga. Mereka tidak tanya “apa teori ini dan itu”. Mereka tanya: “Pak, ini mempengaruhi ke gaji saya tidak?”
Seperti firman Allah QS Al-Insyirah:6, _”Bersama kesulitan ada kemudahan”_. Gagap koran itu susah, tapi Allah kasih kemudahannya: turunkan bahasanya.
3. Obatnya: Terapi “1 Paragraf Bahasa Emak-Emak”
Mulai besok, setiap habis baca jurnal, paksa diri tulis 1 paragraf. Aturannya cuma 1: pakai “bahasa emak-emak”. Yaitu bahasa yang mudah dimengerti masyarakat umum. Kalau itu sudah menyentuh, masyarakat baru merasa : “oh iya, ada profesor di tengah kita”.
Contoh:
_Bahasa Jurnal:_ “Pendidikan karakter harus berbasis nilai-nilai epistemologi konstruktivisme…”
_Bahasa Emak-Emak:_ “Bu, Mengajar anak jujur itu kayak mengajar nanam tanaman. Tidak bisa langsung panen. Harus disiram tiap hari, bukan?”
Kalau emak-emak di warung kopi mengerti = naskah prof lolos koran. Kalau tidak mengerti = revisi lagi, berarti ada yang kurang pas.
Prof Burhanuddin lewat “Catatan” beliau di Potret 7 Juni lalu sudah menunjukkan jalannya: Jurnal untuk pangkat, koran untuk masyarakat. Masa kita mau jadi dosen yang “kaya ilmu tapi miskin suara”? Padahal profesor adalah pewaris nabi.
Mari sembuh dari Gagap Koran. Bismillah mulai dari 1 paragraf hari ini. Jangan tunggu sempurna. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. Tugas kita berusaha, berusaha untuk membuat masyarakat mengerti apa yang kita sampaikan. Simpel, bukan?
_Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,_
_Saiful Bahri_
_Penulis “Jurnal, Koran, dan Catatan”_
*











