Ditemui Profesor, Ngajak Ngopi, Dihadiahi Buku

Oleh Rosadi Jamani
Awali Senin ini dengan senyuman selebar lapangan bola. Bagaimana tidak? Tadi malam Timnas U19 menghajar Vietnam 2-1 dan membuat tidur saya nyenyak. Pagi ini saya bangun dengan dua kabar baik. Pertama, Indonesia menang. Kedua, ternyata tulisan-tulisan yang lahir di warung kopi tidak semuanya berakhir scrolling.
Sabtu, 6 Juni 2026, saya mendapat telepon dari Dr. Herlan, Dekan Fisipol Untan. Dengan nada santai yang efek kejutnya setara ditangkapnya Haji Dadan cs. Beliau bilang ada profesor yang ingin bertemu saya. Saya langsung tegak duduk. Profesor? Ingin ketemu kang ngopi? Jangan-jangan salah sambung.
Ternyata bukan. Sosok yang ingin bertemu itu adalah Prof. Dr. Mochamad Sodik, Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya yang biasanya santai, mendadak merasa seperti siswa yang dipanggil kepala sekolah. Beliau bahkan disebut sebagai penggemar tulisan saya. Nah, di titik ini saya mulai curiga. Jangan-jangan tulisan yang saya buat sambil menyeruput kopi itu diam-diam merantau ke Yogyakarta tanpa izin pemiliknya.
Saya menjawab siap. Ketika ditanya mau bertemu di mana, saya langsung usul Aming Coffee. Kalau ke Pontianak wajib ngopi. Ada ratusan warkop, tinggal pilih saja.
Minggu, 7 Juni 2026, saya mendapat kabar dari Dr Herlan, mereka sudah berada di Aming. Saya pun berangkat. Di sana sudah ada beliau dan Syarifah Ema Rahmaniah, salah satu pentolan Fisipol juga. Tak lama kemudian Prof. Sodik datang.
Pertemuan berlangsung hangat. Beliau memuji tulisan-tulisan saya. Saya hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Dalam hati saya berkata, “Luar biasa juga nasib kalimat-kalimat ini. Lahir di warung kopi, dibesarkan oleh WiFi, lalu sampai ke meja seorang guru besar.”
Di negeri yang kadang lebih menghargai jabatan dari pemikiran, peristiwa ini terasa menyegarkan. Ternyata masih ada akademisi yang meluangkan waktu membaca tulisan ringan ketika sebagian masyarakat sudah kelelahan membaca caption tiga paragraf.
Prof. Sodik ternyata sudah lama ingin bertemu. Kebetulan beliau sedang berada di Pontianak untuk agenda akreditasi Fisipol. Dari obrolan kami, saya makin kagum pada perjalanan intelektualnya. Lahir di Kediri, Jawa Timur, tumbuh dalam lingkungan religius, menempuh pendidikan di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga pada 1987, kemudian Sosiologi UGM pada 1989, hingga meraih gelar doktor Sosiologi UGM pada 2015.
Disertasinya berjudul “Melawan Stigma Sesat: Strategi Jamaah Ahmadiyyah Indonesia (JAI)”. Nuan bayangkan, ketika banyak orang memilih topik aman agar tidak pusing, beliau justru masuk ke wilayah yang penuh perdebatan. Dari situlah ia dikenal sebagai salah satu pakar Ahmadiyah di Indonesia. Menariknya lagi, beliau adalah santri dan NU tulen. Dalam pertemuan itu hadir seorang mubaligh Ahmadiyah yang bertugas di Kalbar. Diskusi kami pun penuh perspektif yang membuka cakrawala.
Karier akademiknya juga bukan kaleng-kaleng. Ia menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga pada 2016–2024, lalu dipercaya menjadi Wakil Rektor II sejak 2024. Pada 23 Oktober 2025, beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Gerakan Keagamaan.
Sebelum pulang, beliau menghadiahi saya buku berjudul “Merawat Indonesia”. Syarifah Ema Rahmaniah juga memberi novel karyanya sendiri, “Lembah Cahaya Cinta yang Mengabdi”. Hanya Dr. Herlan yang tidak memberi buku. Padahal, beliau salah satu penulis aktif soal politik di Kalbar. Belum kali, ups.
Dari pertemuan itu saya belajar sesuatu. Jangan pernah meremehkan tulisan yang lahir dari meja kopi. Sebab ide yang baik tidak peduli lahir di ruang rapat mewah atau di sudut warung sederhana. Jika dirawat dengan tekun, ia bisa terbang melintasi kota, kampus, gelar akademik, bahkan mempertemukan seorang kang ngopi dengan seorang profesor. Dan bagi saya, itu kemenangan yang hampir sama manisnya dengan saat Timnas U19 menaklukkan Vietnam.
Tanpa saya sadari udah lumayan banyak penggemar tulisan saya menghadiahi buku. Hadiah terindah seorang penulis, tidak lain adalah buku. Thanks prof, kapan-kapan kita seruput Koptagul lagi.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar











