Esai · Potret Online

Aceh Bangkit: Dari Lumpuh ke Al Insyirah

Penulis Saiful Bahri
Juni 6, 2026
4 menit baca 10
IMG_1485
Foto / IlustrasiAceh Bangkit: Dari Lumpuh ke Al Insyirah
Disunting Oleh

Oleh: Saiful Bahri

Siapa yang tidak ingat peristiwa besar itu?  

Tepat hari Minggu pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, 26 Desember 2004.  

Gempa besar yang mengguncang kota Banda Aceh dan sekitarnya dengan skala 7,9 Richter. Getarannya sampai ke ujung dunia.

Masyarakat lari pontang-panting menyelamatkan diri. Sungguh mengerikan. Perih bila mengingatnya.  

Ada yang seketika kehilangan seisi rumah: anak, istri, suami. Semuanya dibawa ombak raksasa Tsunami Aceh tahun 2004. Dalam hitungan menit, yang tersisa hanya air dan tangisan masyarakat yang kehilangan seluruh harta benda, kehilangan anggota keluarganya.

Luar biasa. Sungguh luar biasa.  

Ketika itu alat komunikasi dari dan ke Banda Aceh khususnya putus total. Tidak bisa dihubungi sama sekali. Dunia luar bertanya “Aceh di mana?” dan kita di dalam bertanya “dunia masih ada tidak?”  

Ada yang menyangka apakah ini sudah kiamat? Karena belum pernah mereka lihat ombak sebesar itu. Tinggi sekali.

*SAKSI LAPANGAN*  

Saya sendiri terjun ke sana. Begitu tahu ada tsunami di kota Banda Aceh, langsung terbang ke sana dengan peralatan seadanya. Saya tinggalkan anak dan istri di rumah. Anak-anak masih kecil, biar istri yang jaga. Padahal istri sudah menangis histeris di rumah, teringat ayah, ibu, dan seluruh keluarga… bagaimana nasibnya. 

Saya katakan pada istri: “Kamu tak  usah pulang, di sini saja di rumah jaga anak-anak ya”. Dan dia pun merelakan saya pulang naik pesawat.

Begitu tiba di sana, MasyaAllah… luar biasa.  

Saya bawa kamera pribadi. Pada saat itu belum ada HP yang bisa pakai kamera. Tapi sesampai di sana saya sama sekali tidak bisa memotret sekalipun. Karena sangat mengerikan melihat mayat-mayat syuhada tergeletak di mana-mana. 

Saya hanya sampai di Lapangan Blang Padang. Mau melihat rumah mertua di Punge Jurong, tapi tidak bisa lewat. Jalan tertutup bangunan, barang-barang peralatan rumah tangga, mobil-mobil, seluruh kendaraan, hewan peliharaan juga musnah semua. 

Kami hanya melihat barang-barang itu yang menggunung sudah di sungai kecil di sudut Lapangan Blang Padang itu. Saya bersama adik ipar pun tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Punge, arah ke Ulee Lheue. 

Lalu kami coba mencari saudara-saudara kami: ibu, bapak, dan saudara lainnya di rumah sakit. Di tempat pengungsian para korban. Kami cari ke rumah sakit tidak ketemu. 

Akhirnya bertemu lah dengan adik ipar di tempat  pengungsian, satu-satunya yang selamat. Kakinya sudah penuh dengan darah karena terkena seng barang pecah belah ketika dia lari menyelamatkan diri. 

Akhirnya kami bawa dia ke rumah saya di Jakarta untuk pengobatan. Dan alhamdulillah kini dia sudah kembali lagi ke Banda Aceh dengan luka-lukanya yang sudah sembuh total.

Rumah, ruko, bangunan… lenyap rata dengan tanah. Yang masih berdiri pun hanya kerangkanya saja. Masjid-masjid roboh, tapi kubah menara ada yang tetap berdiri. Seakan Allah berfirman: “Aku masih di sini”.

*LUMPUH*  

Kota lumpuh. Bukan hanya fisik. Jiwa juga lumpuh.  

Orang tertawa pun takut. Mendengar suara ombak langsung lari. Tidur pun tidak nyenyak. Semua shock.  

Aceh waktu itu bukan kota lagi. Aceh waktu itu seperti “kuburan massal” yang masih bernafas.

*MENUNGGU*  

Tapi di tengah lumpuh itu, ada yang tidak lumpuh: doa.  

Orang Aceh tidak punya apa-apa lagi kecuali sajadah. Tidak ada harta, tidak ada rumah, tapi masih ada Allah.  

Kami menunggu. Menunggu bantuan. Menunggu kepastian. Menunggu “kapan sedih ini selesai?” 

Dan Allah menjawab lewat firman-Nya yang diturunkan dua kali:  

_”Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”_ *QS. Al-Insyirah: 6*

Dua kali. Karena Allah tahu, luka Aceh tidak cukup dihibur sekali. Harus diulang. Harus ditekankan. Harus ditancapkan ke hati.

*BANGKIT*  

Kini 21 tahun sudah berlalu.  

Kini Aceh sedang membenah diri. Menyembuhkan jiwa yang shock. Membangun kembali kota yang hancur.  

Jalan sudah mulus. Masjid sudah megah. Anak-anak sudah tertawa lagi di pantai.  

Aceh dulu lumpuh. Kini Aceh bangkit. Lebih indah. Lebih kuat. Lebih sabar.

Karena Allah tidak pernah telat. Dia hanya mengajarkan kita utk bersabar. Setelah kesulitan , pasti ada kemudahan. Setelah malam, pasti ada subuh. Setelah tsunami, pasti ada Banda Aceh yang  baru, menata  diri , bangjit dan bangkit lagi

Jika  Aceh yang “kuburan massal” saja bisa bangkit, masa kita yang hanya gagal usaha, gagal jualan, gagal diterima  kerja menjadi putus asa?

Wallahu a’lam.  

*Saiful Bahri*

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Motivator dan berdomisili di Jakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...