Artikel · Potret Online

Perjuangan Kesehatan Melalui Kebijakan Publik

Penulis  Novita Sari Yahya
Juni 5, 2026
6 menit baca 14
b710d90f-e5a6-4bfd-b2af-091893d714cc
Foto / IlustrasiPerjuangan Kesehatan Melalui Kebijakan Publik
Disunting Oleh

Oleh: dr. Novita Sari Yahya

Sebagaimana pernah disampaikan oleh Hariman Siregar, perjuangan melalui politik dan kebijakan publik dapat menghasilkan dampak yang lebih luas karena mampu memengaruhi kehidupan masyarakat dalam skala besar. Pemikiran tersebut memberikan perspektif bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui profesi yang dijalankan secara langsung, tetapi juga melalui gagasan, advokasi, perencanaan, dan kebijakan yang dapat menjangkau lebih banyak orang.

Atas dasar pemikiran tersebut, sejak tahun 2010 saya memilih jalur advokasi kebijakan publik dan pembangunan sosial sebagai bagian dari ikhtiar memperjuangkan kesehatan dan kemanusiaan. Pilihan ini bukan berarti meninggalkan dunia medis. Sebaliknya, saya berupaya memperluas ruang perjuangan dengan melihat kesehatan sebagai persoalan yang tidak berdiri sendiri. Kesehatan berkaitan erat dengan pendidikan, keluarga, ekonomi, lingkungan, budaya, serta kualitas kebijakan yang dihasilkan negara dan masyarakat.

Masih banyak yang beranggapan bahwa seseorang yang tidak lagi berpraktik secara langsung sebagai tenaga medis berarti telah meninggalkan dunia kesehatan. Pandangan tersebut dapat dimengerti karena pelayanan kesehatan sering dipahami hanya dalam bentuk hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Padahal, di balik pelayanan tersebut terdapat berbagai faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan, mulai dari pemerataan tenaga kesehatan, kualitas keluarga, sistem pendidikan, ketahanan pangan, hingga kemampuan masyarakat menghadapi krisis.

Karena itulah sejak tahun 2010 saya lebih banyak terlibat dalam penyusunan gagasan dan rancangan program yang berkaitan dengan pembangunan manusia. Sejumlah program yang saya rancang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor kesehatan dan hingga hari ini masih relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Program pertama adalah persebaran tenaga kesehatan dan pembangunan infrastruktur kesehatan dengan konsep filantropi. Salah satu persoalan klasik yang dihadapi Indonesia adalah ketimpangan distribusi tenaga kesehatan. Daerah perkotaan cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap dokter, perawat, bidan, maupun fasilitas kesehatan. Sebaliknya, banyak wilayah terpencil masih mengalami keterbatasan layanan kesehatan dasar.

Melihat kondisi tersebut, saya mengembangkan gagasan yang menggabungkan pendekatan filantropi dengan pembangunan kesehatan masyarakat. Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa pembangunan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga dapat melibatkan organisasi sosial, yayasan, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, serta masyarakat luas. Dengan membangun kolaborasi yang kuat, pemerataan layanan kesehatan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Program kedua adalah rumah pengasuhan anak dan pendidikan keluarga. Kesehatan masyarakat sesungguhnya dimulai dari keluarga. Banyak persoalan kesehatan, baik fisik maupun mental, memiliki akar pada kualitas pengasuhan anak dan lingkungan keluarga. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang sehat, aman, dan penuh perhatian memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi manusia yang produktif dan berkualitas.

Rumah pengasuhan anak yang saya gagas tidak hanya berfungsi sebagai tempat perlindungan anak, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran keluarga. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas orang tua dalam pengasuhan, pendidikan karakter, pemenuhan gizi, kesehatan reproduksi, serta perlindungan anak. Dengan demikian, keluarga dapat menjadi institusi pertama yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks, penguatan keluarga merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi masa depan bangsa. Membangun keluarga yang sehat berarti membangun fondasi masyarakat yang sehat.

Program ketiga adalah pendamping tenaga kesehatan dalam rangka mewujudkan resilient and responsive health system atau sistem kesehatan yang tangguh dan responsif. Pengalaman berbagai krisis kesehatan menunjukkan bahwa tenaga kesehatan sering kali menjadi garda terdepan yang menghadapi berbagai tekanan. Mereka tidak hanya membutuhkan dukungan teknis, tetapi juga dukungan sosial, psikologis, administratif, dan manajerial.

Karena itu, saya mengembangkan konsep pendamping tenaga kesehatan yang bertujuan memperkuat kemampuan sistem kesehatan dalam menghadapi berbagai tantangan. Pendampingan ini mencakup penguatan jejaring komunitas, peningkatan koordinasi lintas sektor, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan.

Sistem kesehatan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh jumlah rumah sakit atau kecanggihan teknologi. Sistem kesehatan yang tangguh adalah sistem yang mampu merespons kebutuhan masyarakat secara cepat, adaptif, dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, tenaga kesehatan perlu mendapatkan dukungan yang memadai agar mampu menjalankan tugasnya secara optimal.

Program keempat adalah kajian nutrisi berbasis kearifan lokal melalui pemberdayaan perempuan. Indonesia memiliki kekayaan dan budaya pangan yang sangat besar. Hampir setiap daerah memiliki sumber pangan lokal yang bernilai gizi tinggi dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Namun, potensi tersebut sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam penyusunan kebijakan nutrisi.

Kajian nutrisi berbasis kearifan lokal berupaya menggali kembali berbagai sumber pangan lokal sebagai bagian dari strategi peningkatan gizi masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga pada penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi lokal.

Saya meyakini bahwa solusi kesehatan yang berkelanjutan harus berangkat dari kekuatan yang dimiliki masyarakat itu sendiri. Ketika masyarakat mampu memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal, maka ketergantungan terhadap sumber daya eksternal dapat dikurangi. Selain itu, pendekatan berbasis kearifan lokal juga lebih mudah diterima karena sesuai dengan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

Seluruh rancangan program tersebut tidak berhenti sebagai konsep atau wacana. Berbagai gagasan telah disebarluaskan melalui organisasi masyarakat sipil, lembaga swadaya masyarakat, forum diskusi, media massa, media daring, serta berbagai kegiatan literasi. Sosialisasi dilakukan agar ide-ide tersebut dapat menjadi bahan pemikiran bersama dan dikembangkan oleh berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan manusia dan kesehatan.

Sebagian gagasan tersebut juga terdokumentasi dalam berbagai tulisan dan publikasi, termasuk dalam buku Ibu Bangsa Wajah Bangsa. Melalui buku tersebut, berbagai pemikiran mengenai kesehatan, keluarga, perempuan, pendidikan, dan kebijakan publik disampaikan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif.

Karena itu, jika ada yang beranggapan bahwa saya telah meninggalkan dunia medis, saya memandangnya secara berbeda. Dunia medis bukan hanya ruang praktik, rumah sakit, atau klinik. Dunia medis juga mencakup perjuangan untuk menciptakan sistem yang lebih adil, memperkuat keluarga, meningkatkan kualitas gizi masyarakat, memperluas akses kesehatan, dan membangun kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat.

Perjuangan melalui kebijakan publik mungkin tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi dampaknya dapat menjangkau lebih banyak orang. Sebuah gagasan yang diterapkan dalam program atau kebijakan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat dalam jangka panjang. Karena itulah saya tetap memandang diri saya berada dalam jalur yang sama, yaitu memperjuangkan kesehatan dan kemanusiaan, hanya melalui medan perjuangan yang berbeda.

Bagi saya, kesehatan adalah bagian dari pembangunan manusia seutuhnya. Selama masih ada ruang untuk memperjuangkan kualitas hidup masyarakat, selama masih ada kesempatan untuk menghadirkan gagasan yang bermanfaat, maka perjuangan tersebut akan terus berjalan. Sejak tahun 2010 hingga hari ini, komitmen itu tidak pernah berubah: memperjuangkan kesehatan, kemanusiaan, dan masa depan bangsa melalui gagasan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta kebijakan publik yang berkeadilan.

Lagu Ibu Bangsa, Wajah Bangsa .

Berdasarkan puisi karya Novita Sari Yahya.
Pencipta lagu : Gede Jerson

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...