Artikel · Potret Online

Menggagas Kurikulum Beudee Trieng dan Geulayang Kleung

Penulis  Ir Azhar
Juni 3, 2026
5 menit baca 13
IMG_1427
Foto / IlustrasiMenggagas Kurikulum Beudee Trieng dan Geulayang Kleung
Disunting Oleh

Oleh Ir. Azhar, M.T.

Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung

Jagat akademik selalu riuh dengan berbagai permasalahan, entah itu tentang kualitas guru, kurikulum, buku ajar, bangunan sekolah, peralatan laboratorium, sarjana pengangguran, bahkan hingga ke kebijakan para menteri yang menangani pendidikan. Aroma yang terasa kemudian adalah seakan negeri ini menjadi laboratorium raksasa untuk menguji berbagai-bagai pendapat dan model pembelajaran yang digagas atau yang diadopsi dari luar oleh para pakar. Apa hasilnya? Ya, sudah bukan rahasia umum, kualitas pendidikan di negeri ini jeblok walau ratusan penelitian dan seminar tentang pendidikan terus bergulir di mana-mana. Lantas di mana letak permasalahannya? 

Letak permasalahannya adalah terlalu bersemangat untuk menjadi seperti orang lain, misalnya kata-kata “mengejar ketertinggalan”, “berdaya saing global”, “pusat kepakaran”, “sekolah unggul”, “bertaraf internasional”, “swasembada pangan” atau apalah yang lainnya lagi; dan satu lagi, terlalu bersemangat untuk menjadi juara sebagaimana dalam beberapa hari terakhir ini ramai pihak pengelola pendidikan menyesaki media sosial dengan flyer-flyer kelulusan atau keterterimaan di perguruan tinggi idaman. 

Inti pokoknya adalah pengelolaan pendidikan “dipaksa” untuk menjadi pemenang dalam ukuran standard yang telah ditetapkan oleh pihak yang tak jelas asal-muasalnya secara filosofis hingga kemudian kebanyakan dari kita menjadi lupa diri, lupa dengan diri sendiri, hingga akhirnya lupa pula dengan potensi real yang dimiliki untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhkan masyarakat luas. 

Di sini saya kutipkan sebuah paragraf dari kata pengantar dalam sebuah buku Fisika untuk SMA/MA: “Perkembangan Kurikulum saat ini lebih menitik beratkan pada proses pembekalan kecakapan hidup (life skill) pada para peserta didik agar mempunyai kemandirian dan daya saing di era globalisasi dunia. Dengan demikian perlu ada perubahan paradigma tentang konsep pelaksanaan belajar mengajar di sekolah”.

Terdengar bagus, bukan? Ya, tetapi jarang yang mempertanyakan “life skill” yang bagaimana dan apanya yang “berdaya saing” di era global ini? Namun pun demikian, lagi-lagi dari aromanya dapat tercium bahwa peserta didik (siswa, murid, mahasiswa, anak didik) dipaksa untuk memiliki life skilltingkat dewa untuk bisa bersaing di tingkat global, contohnya kemampuan berbahasa asing (dengan segala macam score yang dibuat-buat), kemampuan menggunakan perangkat komputer yang terinisiasi oleh apa yang disebut hilirisasi digital dan kecerdasan buatan; yang ujung-ujungnya dipersiapkan untuk menjadi kuli tingkat global atau setidak-tidaknya menjadi kuli di negeri sendiri.

Dari situlah awal mula musibah muncul yang kemudian mendera bangsa ini untuk selalu berada di level menengah ke bawah. Buktinya? Lihat saja, adakah yang bisa dibanggakan setelah 81 tahun merdeka? Tidak ada selain flyer-flayer yang tadi bergentayangan di mana-mana. Proses pendidikan yang telah berlangsung lama dengan segala sistem dan model pembelajaran belum seutuhnya bermuara kepada terciptanya masyarakat yang makmur dan sejahtera secara umum. Terjerat pinjol dan judol adalah salah satu buktinya. 

Untuk keluar dari permasalahan itu, langkah pertama harus sadar bahwa kita bukan orang bodoh tetapi dibodoh-bodohi; kita bukan bangsa pemalas, tetapi dipersepsikan sebagai pemalas; kita bukan tidak berperadaban atau tidak bertamaddun, tetapi dipersepsikan sebagai bangsa tidak berkemajuan; sebagaimana sering digaungkan oleh Prof. Solehah Yaacob dari IIUM Malaysia. 

Langkah ke dua adalah reorientasi pendidikan dari yang semula berakar pada penciptaan kuli-kuli global ke pendidikan berbasiskan kebutuhan real masyarakat berdasarkan potensi yang dimiliki, yang selama ini telah digeser bahkan dihilangkan. Buktinya? Lihat saja, mengapa ada istilah “pupuk kandang”, “pupuk kompos”, “perobatan alternatif”, “produk lokal”, “sapi lokal”, “ayam kampung”, “benih padi tradisional”, “ekonomi sirkular”, termasuk misalnya produk-produk seperti “gula kelapa”, “tepung sagu”, “durian lokal”. Terkesan tidak berkelas? Ya, karena memang sengaja digeser secara terus-menerus sehingga tergantikan oleh produk-produk asing yang pada akhirnya masyarakat menjadi konsumen, bukan produsen; lupa dengan kapasitas dan potensi diri. 

Jika kesadaran-kesadaran seperti itu bisa dibangkitkan kembali, harapannya kemudian adalah tumbuh dan berkembangnya harga diri yang pada tahap selanjutnya terciptanya masyarakat yang mandari dan berkembang dengan potensi dan jati diri yang ada, walau tak sepenuhnya bisa berlepas diri dari pengaruh globalisasi. 

Untuk memulainya kembali haruslah melalui pendidikan, terkhusus adalah isi bahan ajar di dalam suatu matapelajaran.Pertanyaannya di sini adalah (sebagai contoh) mengapa ketika membahas gaya gravitasi yang ditonjolkan adalah mitos Newton dengan buah apel yang jatuh; mengapa tidak diubah menjadi misalnya “boh u riek” yang jatuh. 

Kemudian ketika membahas satuan dan pengukuran, mengapa yang ditonjolkan terlebih dahulu adalah  satuan SI dan satuan British, bukannya “si hah, si depa, si tumbok, si atot, si paleut, si yok, si kai, si are, saboh mok, si tem, si naleh, dan lain-lain”. 

Selanjutnya masih tentang sains IPA, mengapa gandoebeude trienggaseng, jeungki, dan beude boh ram tidak menghiasai awal sebuah bab dalam buku pelajaran? Begitu juga dengan pengawetan makanan misalnya, mengapa boh itek jruekpisang salesie thoueungkot masen tidak menghiasai halaman-halaman buku teks? 

Jawaban atas semua pertanyaan itu cuma satu, yaitu tidak adanya kreativitas dalam penyusunan bahan ajar atau mungkin takut untuk berbeda dengan orang lain. Pada umumnya hanya mengikuti contoh yang sudah umum di dalam textbook yang sudah disusun oleh pihak lain. Akibatnya adalah materi ajar yang tersedia di sekitar kita menjadi tak berkesan, menjadi tak bernilai, padahal sesungguhnya menyimpan banyak jenis ilmu yang bisa digali dari situ. 

Sebagai contoh penyemangat, beudee trieng; satu alat ini bisa digunakan untuk memperjelas konsep-konsep tentang bahan bakar, energi, gaya, panas, termodinamika, dan bunyi. Contoh satu lagi adalah geulayang kleung; yang bisa digunakan untuk membahas konsep aerodinamika, gravitasi, gaya angkat, tegangan tali, kekuatan material, dan elastisitas. 

Jika fenomena beudee trieng dan geulayang kleung atau apapun teknologinya dan ilmu-ilmu yang sudah tumbuh dan hidup di masyarakat bisa masuk dalam halaman-halaman buku ajar; yang mungkin sebagai pembuka atau penutup pada suatu pokok bahasan, akan sangat membantu peserta didik untuk merasa terlibat secara aktif dalam proses belajar. Akan meningkatkan rasa ingin tahu lebih lanjut.

Ketika rasa ingin tahu ini semakin membara, maka literasi bisa diharapkan akan meningkat pula; dan semoga kualitas pendidikan tidak lagi jeblok; pemikiran akan kritis dan semoga bisa melahirkan inovasi-inovasi lebih lanjut. Semua itu terkembalikan kepada kreativitas dan inovasi para pengampu matapelajaran; dan ini bisa diwujudkan dengan syarat menghargai diri sendiri sebagai bangsa yang bertamaddun, bukan pemalas; bangsa yang cerdas, dan yang terpenting semua itu bukan untuk memanen angka-angka dalam kepentingan akademik.

—-*

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...