Esai · Potret Online

Jangan Pernah Menyerah

Penulis Saiful Bahri
Juni 1, 2026
3 menit baca 42
d2851421-ed8d-490e-93f9-af1231db7d67
Foto / IlustrasiJangan Pernah Menyerah

 

Oleh Saiful Bahri 

_Yang Menyerah Tak Pernah Jadi Pemenang_

Pernah lihat orang jatuh di tengah jalan? Kebanyakan kita pilih minggir, duduk, terus pulang. “Ah, sudah tidak bisa”.

Tapi ada satu orang yang mengajarkan dunia arti “finish” yang sesungguhnya.

Namanya Derek Redmond. Olimpiade Barcelona 1992. Lari 400 meter semifinal. Itu lomba yang dia latih 4 tahun untuk dikejar.

Tembakan pistol start… 150 meter dia lari paling kencang. Tiba-tiba… lutut kanannya berbunyi “krek”. Putus. Dia jatuh, berguling-guling kesakitan di lintasan. Mimpinya hancur detik itu juga.

Panitia lari, tim medis lari. Semua menyuruh dia dan minta dia untuk berhenti. “Derek, sudah. Kamu tidak bisa lanjut”.

Tapi Derek tidak mau menyerah. Dia bangkit pincang-pincang. Mau merangkak ke garis finish. Bukannya menepi, malah ia lanjut lari.

Tiba-tiba ada yang menerobos pagar pembatas. Itu ayahnya, Jim Redmond. Dia peluk anaknya, lalu berbisik: “Nak, kita selesaikan ini bersama-sama”.

Lalu yang terjadi membuat satu stadion menangis. Ayah memapah anaknya yang pincang. Selangkah demi selangkah. 200 meter terakhir mereka tempuh 4 menit. Lambat, sakit, tapi tidak berhenti.

65.000 penonton di stadion berdiri semua. Tepuk tangan tidak berhenti-henti. Air mata berjatuhan. Mereka tidak lagi menonton siapa yang menang emas. Mereka menonton siapa yang menang melawan dirinya sendiri.

Selesai di garis finish, wartawan mengerumuni Derek. Pertanyaannya sama: “Kenapa kamu tidak berhenti saja? Kan sudah tidak mungkin menang?”

Jawaban Derek membuat merinding:  

“Saya tidak berhenti, karena negara saya mengirim saya ke sini untuk mengikuti lomba dan mencapai garis finish. Bukan untuk berhenti di tengah jalan”.

Dia tidak dapat medali emas. Tapi dia pulang membawa medali yang lebih mahal: Rasa hormat seluruh dunia.

*Pelajaran untuk kita:*  

Hidup ini seperti lari 400 meter. Tidak ada yang lari tanpa jatuh. Tidak ada yang finish tanpa pincang.

Usaha bangkrut? Jatuh. Rumah tangga diuji? Jatuh. Badan sakit? Jatuh. Ya bangun lagi. Jadi ingat philosophy orang Jepang: “Mereka jatuh tujuh kali, bangun delapan kali”. Jatuh itu ujian. Ujian untuk diambil pelajaran untuk perbaikan, bukan untuk menyerah.

Masalahnya bukan di jatuhnya. Masalahnya apakah mau bangkit lagi atau tidak?

Allah tidak bertanya “kamu nomor berapa finisnya?”  

Allah bertanya: “kamu sampai garis finish dengan selamat tidak, hamba-Ku?”

Ingat… yang menyerah, tidak pernah jadi pemenang. Tapi yang pincang sekalipun, kalau sampai finish… dialah juara sesungguhnya.

Jadi, hari ini lutut kita lagi sakit karena apa? Utang? Fitnah? Kecewa?  

Tidak apa-apa pincang. Jalan saja pelan-pelan. Kalau capek, gandeng “ayah” kita: Allah. Minta dipapah dengan memohon kepada-Nya.

Karena garis finish kita bukan di dunia. Garis finish kita sesungguhnya adalah di surga-Nya Allah. Dan di sana, Allah menunggu sambil berdiri tepuk tangan untuk kita.

Semoga kita semua bertemu nanti di akhirat, di surga-Nya Allah yang sangat istimewa, tiada bandingannya.  

Aamiin.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...