Mencuci Dosa di Malam Takbiran

Oleh: Syarifudin Brutu
Aroma kopi sasetan menguar di pelataran samping Masjid Al-Ikhlas. Di bawah lampu merkuri yang berkedip kekuningan, seekor Sapi Kampung kurus berwajah lelah sedang asyik menyeruput kopi dari cangkir plastik menggunakan sedotan.
Di sebelahnya, seekor Domba Garut dengan bulu sedikit gimbal sedang sibuk mengunyah bungkus gorengan.
Besok adalah hari eksekusi mereka. Hari di mana leher mereka akan bertemu dengan baja tajam demi sebuah ritual tahunan. Tapi malam ini, mereka memilih santai. Ngopi dulu, bos, biar gak tegang.
Tiba-tiba, suasana syahdu itu pecah. Sebuah truk trombon mewah berhenti di depan gerbang. Pintu belakang terbuka, hidroliknya mendesis pfftt… Dan turunlah sesosok makhluk yang membuat Sapi Kampung hampir tersedak kopinya.
Itu adalah seekor Sapi Limosin. Badannya kekar, berotot, bulunya klimis seperti habis creambath, dan di lehernya melingkar syal sutra rajutan bertuliskan: “QURBAN VIP – H. MUHTAR, S.E., M.Si.”
Dengan langkah tegap dan sombong, si Sapi Pejabat berjalan mendekati pelataran masjid, lalu duduk tanpa permisi di dekat gerobak sampah.
“Kopi murahan,” dengus si Sapi Pejabat, melirik cangkir plastik si Sapi Kampung.
“Yang penting hitam dan pahit, mirip nasib kita besok,” balas si Sapi Kampung santai. “Luar biasa badanmu, Bung. Pasti kamu qurban dari orang kaya raya.”
Si Sapi Pejabat membusungkan dada jalurnya yang berlapis lemak premium. “Orang kaya? Tolong agak spesifik. Pemilikku ini pejabat teras! Dan dengar ya, ini adalah Qurban beliau yang ke-1000 kali!”
Si Sapi Kampung melongo. Jemari kukunya mencoba menghitung. “Hah? Ke-1000? Umur majikanmu berapa?”
“Baru mau masuk 50 tahun besok,” jawab si Sapi Pejabat bangga.
Domba Garut yang dari tadi diam, tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya menyipit. “Tunggu, tunggu. Umur 50 tahun, tapi sudah qurban 1000 kali? Berarti dia Qurban setahun puluhan kali?
Borongan kayak beli takjil?”
“Tentu saja!” potong si Sapi Pejabat dengan nada menggurui. “Majikanku itu visioner. Kata beliau, nanti di Padang Mahsyar, jalannya jauh, panas, dan melelahkan.
Nah, semakin banyak hewan yang dia qurbankan, semakin banyak armada kendaraan yang dia punya di sana. Besok di akhirat, beliau tinggal panggil driver ojek syariah dari komplotan kami. Beliau gak bakal capek jalan kaki. Strategi logistik yang jenius, bukan?”
Sapi Kampung menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Logikanya masuk sih… Tapi, bentar. Majikanmu itu sudah berapa lama jadi pejabat?”
“Baru tiga tahun ini sih. Sebelumnya beliau cuma rakyat jelata yang hobi ikut MLM dan gagal,” jawab si Sapi Pejabat polos.
Sapi Kampung dan Domba Garut saling berpandangan. Keheningan malam mendadak terasa mencekam, mengalahkan suara takbiran yang berkumandang dari speaker masjid yang agak sember.
Tiga tahun menjabat. Berarti 36 bulan. Gaji pejabat berapa belas atau puluh juta sih? Kok bisa beli 1000 hewan Qurban sekelas Limosin dan domba super?
Jujur, ini janggal banget. Matematika macam apa yang dipakai? Apakah dia memelihara babi ngepet syariah? Atau uang rakyat yang diqurbankan demi membeli hewan qurban? Jenius sekali, mencuci dosa menggunakan jalur agama.
“Tapi… ah, sudah lah,” bisik Sapi Kampung, mencoba menenangkan hatinya yang mulai berprasangka buruk. “Berpikir positif aja. Mungkin beliau punya bisnis sampingan yang kita gak tahu. Jual keripik kaca atau apa gitu. Jangan gibah malam takbiran, gak baik.”
Mendengar itu, si Domba Garut langsung berdiri. Dia meludahkan sisa bungkus gorengan di mulutnya dengan dramatis.
“Berpikir positif?!” seru si Domba dengan urat leher yang menegang. “Bung, di zaman yang sudah amburadul dan sungsang ini, positive thinking itu adalah racun yang membunuh secara perlahan!”
Sapi Kampung terkejut. “Kok racun?”
“Iya! Orang-orang yang terlalu positive thinking di zaman sekarang itu adalah makanan empuk para penipu. Mereka ditipu investasi bodong, dibilang ‘ah, ini ujian’. Mereka dikibulin politisi, dibilang ‘ah, mungkin beliau khilaf’. Tapi giliran kita pakai negative thinking—yang sebenarnya adalah insting bertahan hidup dan logika dasar—kita malah dituduh berdosa! Dibilang fitnah dalam kepala, suuzon, gak punya iman!”
Domba Garut berjalan mondar-mandir di depan Sapi Pejabat yang mulai kelihatan bingung.
“Kita ini hidup di zaman FOMO, Bung!” lanjut si Domba, makin menggebu-gebu. “Zaman di mana pencitraan adalah segalanya. Dunia tipu-tipu! Penjahatnya gak lagi pakai topeng hitam bawa karung, tapi pakai jas rapi, wangi parfum Prancis, dan berjubah agamis! Mereka beli surga pakai duit hasil nilep, lalu dipamerkan di media sosial biar dapat likes dan engagement!”
“Tapi majikanku itu beneran orang penting!” protes si Sapi Pejabat, ekornya dikibas-kibaskan dengan gugup untuk menutupi rasa malu. “Kalian gak tahu saja, rumahnya itu megah bak istana di tengah kota. Pagarnya tinggi menjulang, tiga meter lebih! Di atasnya dipasang kawat berduri dan pecahan botol, lengkap dengan pos satpam 24 jam. Rumah seaman dan semewah itu pasti milik orang terpuji!”
Domba Garut langsung tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk.
“Pagarnya tinggi?” sela Domba Garut sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh ejekan. “Bung, kamu bangga sama pagar tinggi? Di dunia manusia, semakin tinggi pagar sebuah rumah, semakin tinggi pula rasa ketakutan dan rasa bersalah pemiliknya! Dia takut apa? Takut hartanya yang ‘ajaib’ itu ketahuan, atau takut dimintai bantuan?”
Sapi Kampung ikut meletakkan cangkir kopinya. Dia menatap Sapi Pejabat dengan tatapan iba. “Bung Limosin, coba cerita padaku. Di luar pagar setinggi tiga meter itu, ada apa?”
Sapi Pejabat itu berkedip polos. “Ya… ada perkampungan. Padat sekali. Rumahnya kecil-kecil, sengnya karatan. Malah kemarin sebelum aku dibawa ke sini, aku sempat dengar suara anak kecil menangis di balik tembok pagar karena kelaparan.
Ibunya bingung mau masak apa buat lebaran karena harga beras mahal. Tapi majikanku bodo amat, gak peduli. Kata beliau, itu urusan dinas sosial, bukan urusan pribadi. Yang penting beliau fokus qurban biar selamat dunia-akhirat!”
“Selamat dari Hongkong!” semprot si Domba, sarkasmenya semakin menjadi-jadi. “Mereka pikir Tuhan itu bisa disogok pakai daging sapi? Mereka pikir ritual tahunan ini bisa menghapus dosa mengabaikan tetangga yang kelaparan?
Di kitab suci mereka sendiri kan dibilang, tidak beriman orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan. Tapi ya dasar manusia FOMO dan egois, mereka amnesia massal kalau sudah urusan pencitraan!”
Si Domba berhenti tepat di depan Sapi Pejabat, menatapnya dengan pandangan merendahkan.
“Asal kamu tahu ya, Sapi Elit. Kalau majikanmu yang super saleh buatan itu hidup di zaman Nabi dulu, kelakuannya yang sok suci, manipulatif, dan tega membiarkan tetangga kelaparan begitu pasti sudah bikin dia diangkat jadi raja… atau bahkan disembah sebagai orang suci oleh kaum jahiliah karena saking jagonya bikin narasi palsu!”
Sapi Pejabat itu terdiam seribu bahasa. Sapi kekar berotot seharga ratusan juta itu mendadak merasa jauh lebih kecil dan layu. Syal sutranya mendadak terasa mencekik lehernya sendiri. Kesombongannya rontok seketika, menyadari bahwa dia mungkin dibeli dengan uang yang ditiriskan dari hak anak-anak yatim dan rakyat kelaparan di balik tembok tinggi itu.
Sapi Kampung menghela napas panjang. Dia memandangi langit malam, lalu menyeruput habis sisa kopi hitamnya yang sudah mendingin.
“Ah… bingung banget aku sama orang-orang bumi zaman sekarang,” gumam Sapi Kampung pelan. “Mau beribadah tapi kayak mau bikin perusahaan travel. Mau tebus dosa tapi pakai jalur korupsi. Mereka membangun tembok setinggi langit untuk memisahkan diri dari kemiskinan rakyat, tapi berharap hewan qurban ini bisa membangun jembatan instan menuju surga.”
Domba Garut kembali duduk, mengambil sebatang rumput kering, lalu menyelipkannya di bibir layaknya rokok. “Sudahlah, Bung. Berdoa saja besok pas leher kita dipotong, darah kita gak terkontaminasi sama kemunafikan mereka. Biarkan mereka naik 1000 hewan qurban di Padang Mahsyar nanti… Kita lihat saja, apa hewannya mau jalan, atau malah kompak mogok dan nendang majikannya ke jurang.”
Malam itu, di bawah gema takbiran, ketiga hewan itu kembali terdiam. Menatap lampu masjid, meratapi manusia yang merasa bisa menyuap Tuhan dengan daging hasil uang haram, sementara perut tetangganya sendiri dibiarkan keroncongan.












