Prestasi Internasional Siswa Aceh Sangat Gemilang

Oleh Tabrani Yunis
Kepala Sekolah Menegah Atas Negeri 7 Banda Aceh, Erlawana; dan wakilnya, Novris Sariani, semringah. Siswa sekolah itu berhasil unjuk gigi pada ajang World Young Iventors Exhibition (WYIE) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, 18-20 Mei 2026. Begitulah diberitakan di AJNN.net dengan judul “Penelitian Siswa SMAN 7 Banda Aceh Raih 5 Emas dan 3 Perak di WYIE 2026 Kuala Lumpur”
Sebuah berita yang sangat menggembirakan, membahagiakan sekaligus membanggakan bagi kepala-kepala sekolah yang meraih prestasi gemilang di ajang internasional yang diselenggarakan oleh WYIE di Kuala Lumpur.
Prestasi ini sungguh luar biasa, dan patut mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari kepala Dinas Pendidikan Aceh, karena sekolah ini telah membawa harum dan membuktikan pendidikan Aceh bisa mengalahkan sekolah-sekolah lain di negara yang kualitasnya jauh lebih baik dari Aceh. Bahkan, melihat perolehan piala emas dan perak oleh anak-anak “ terbaik” dari Aceh itu, membuktikan bahwa pendidikan Aceh tidak sakit seperti penilaian publik selama ini.
Kepala-kepala hebat seperti ini harusnya diapresiasi dan bahkan bisa dijadikan atau ditunjuk sebagai kacabdin, bahkan kabid atau Kabag di Dinas Pendidikan. Hal ini sangat beralasan, karena Dinas Pendidikan Provinsi Aceh akan sangat sehat bila diisi oleh orang-orang kreatif dan aktif seperti kepala Sekolah yang telah mengharumkan Aceh dengan prestasi internasional yang sangat gemilang ini. Mereka mampu membawa pulang emas, di tengah harga emas di Aceh yang sedang melambung. Maka, berbanggalah.
Sekolah-sekolah SMA di Aceh perlu banyak belajar dari sekolah-sekolah pendulang medali emas ini, belajar bagaimana strategi bisa menang, apa saja yang harus dipersiapkan agar bisa membawa emas dari kompetisi di luar negeri. Mereka pasti sudah punya trik dan strategi jitu untuk menang, apalagi kompetitornya berasal dari negara-negara yang lebih maju pendidikan mereka. Ini bisa menambah kegemilangan prestasi Aceh di panggung global.
Namun, di tengah kegemilangan itu, kita juga selayaknya jeli melihat perolehan emas itu secara kritis. Mari kritisi prestasi itu sambil menyeruput segelas avocado espresso di Gerobak Arabica Coffee dekat POTRET Gallery yang menjual berbagai jenis produksi tangan-tangan kreatif dan produktif itu.
Pertama, selayaknya kita cari tahu tentang ajang lomba yang telah menganugerahi medali emas, perak dan perunggu yang sangat membanggakan itu. Sebagaimana kita simak dari berita di AJNN, bahwa penyelenggaraan ajang itu. Hasil penelusuran di AI, kita bisa dapat penjelasan tentang EYIE tersebut. WUIE diselenggarakan oleh MINDS ( Malaysian Invention and Design Society), sebuah ajang yang secara rutin diadakan di KLCC Malaysia. Konon ini menjadi salah satu pilar utama dari pameran inovasi yang lebih besar yaitu ITEX (International Invention, Innovation and Technology Exhibition).
Kategori inovasi yang diperlombakan sangat beragam, mulai dari artificial intelligence (AI), IoT (Internet of Things), teknologi hijau, bioteknologi, pengelolaan lingkungan, hingga produk kesehatan dan kosmetik ramah lingkungan. Terlihat bahwa ini memang ajang yang berkelas.
Namun, perlu pula kita pelajari sistem penilaian yang digunakan, quota medali dan bagaimana cara memperolehnya. Dari hasil penelusuran di AI, kita bisa mengetahui bahwa sistem penilaian WYIE itu menggunakan sistem ambang batas nilai (passing grade) standar kompetisi sains international. Artinya, setiap tim tidak saling menjatuhkan kuota medali tim lain, melainkan berkompetisi melawan standar nilai yang ditetapkan dewan juri. Kemudian, pembagian medali dan penghargaan di ajang ini ditentukan berdasarkan rentang skor yang berhasil diraih oleh masing-masing inovasi. Jadi jelas kan, sistemnya? Silakan nilai sendiri.
Kedua, terkait peserta yang mengikuti lomba. Sebagai lomba atau kompetisi berskala internasional, peserta lomba ini berasal dari 17 negara, termasuk Indonesia. Jadi idealnya sangat kompetitif dan lawan-lawan atau kompetitor sangat berat, termasuk Cina, Jepang Singapura dan lain-lain. Maka, kalau perebutan medali secara kompetitif, maka ada lawan yang dijatuhkan. Sehingga kita pun bertanya, perolehan medali emas dan perak itu didapat setelah mengalahkan negara mana?
Ke tiga, akses ke lomba Internasional ini bukanlah akses biasa. Jalurnya sangat eksklusif. Dikatakan demikian, karena tidak semua sekolah di Aceh akan mampu mengakses lomba ini. Bahkan tidak ada sekolah di Aceh yang mampu karena untuk bisa ikut lomba, sekolah harus mengeluarkan dana yang besar. Penulis bertanya kepada seorang kepala sekolah SMA di Aceh Utara. Mengapa sekolah anda tidak ikut kompetisi Internasional WYIE di Malaysia, seperti beberapa sekolah di Banda Aceh? Lebih lanjut, ia mengatakan, bahwa siswa sekolahnya bukan anak-anak dari kalangan borjuis yang mampu membiayai anak mereka ke luar negeri.
Sang kepala sekolah ini lalu menjawab pula bahwa kegiatan seperti ini tidak bisa diikuti oleh sekolah-sekolah di daerah yang anak-anaknya masih harus dijemput oleh kepala sekolahnya. Ini kegiatan khusus anak orang kaya menjemput prestasi luar negeri. Sekolah tidak punya sumber dana untuk membiayai guru dan anak-anak untuknya pergi ke luar negeri. Orangtua pun tidak mampu mengeluarkan biaya perjalanan yang nilainya tidak cukup dengan satu juta rupiah. Jangankan untuk berlomba ke luar negeri, membeli seragam saja kini kesusahan.
Lalu bagaimana dengan beberapa sekolah di Banda Aceh yang ikut lomba ke ajang internasional itu? Apakah sekolah yang menanggung segala biaya yang diperlukan? Atau kegembiraan orang tua karena nanti membawa medali internasional yang belum tentu bisa membantu para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kalau pun anak dapat sertifikat, apakah akan bisa digunakan sebagai bukti prestasi kala masuk perguruan tinggi?
Nah, berdasarkan informasi yang dikumpulkan, para peserta dan guru tersebut berangkat dengan dibiayai oleh orangtua sendiri, berapa pun yang disepakati dengan nilai bisa mencapai 10 jutaan rupiah. Ini berarti anak yang berangkat adalah anak dari keluarga mampu, namun belum tentu memiliki prestasi. Sebab ketika yang berprestasi, tapi miskin, jelas tidak mungkin bisa ikut serta, karena terkendala faktor biaya.
Ke empat , hal yang sangat menarik dan menggelitik dan rasanya sangat dahsyat adalah setiap ikut acara lomba selalu menang, tanpa pernah kalah. Paling kurang membawa perunggu. Padahal, kalau kompetisi selalu ada yang menang dan kalah. Kemenangan itu tidak lah mudah. Apalagi lawan tanding adalah mereka di negara-negara yang kualitas pendidikan mereka jauh dari kualitas pendidikan di Aceh.
Ke lima, kita juga boleh mengamati prestasi sekolah di level provinsi maupun nasional, apakah sekolah-sekolah yang membawa pulang medali emas ini selama ini juga mendapat medali emas di tingkat nasional dari lomba yang diselenggarakan oleh Kemedikdasmen? Ini penting karena seperti diungkapkan seorang teman, kepala sekolah di Aceh Utara itu bahwa Lomba-lomba Kemedikdasmen adalah lomba resmi. Maka, bila dalam lomba ini sekolah-sekolah tersebut, mampu merebut emas dan perak, tentu akan bisa membantu siswa peserta lomba, karena sertifikat itu bisa digunakan para siswa saat melanjutkan pendidikan. Ini juga penting dilihat, agar lomba di tingkat nasional, sekolah tersebut di dalam negeri tidak pernah dapat, kalau pun hanya level kota Banda Aceh dan provinsi. Bahkan bisa jadi, untuk kompetisi Olimpiade, pun masih jauh dari panggang.
Ke enam, karena lomba yang diikuti adalah lomba berbasis research, maka tidak salah juga kita pelajari budaya riset di sekolah yang telah mendulang emas ini. Apakah selama ini, anak atau siswa yang melakukan riset atau dengan meminta pihak ke tiga menyusun hasil riset, lalu siswa hanya mempresentasikan hasil riset tersebut di dalam lomba. Ini penting, karena anak akan belajar langsung dari pengalaman ini.
Tentu kompetisi serupa bisa jadi juga ada banyak di tanah air seperti Nyalanesia atau di Asia Tenggara even Asia yang laksanakan kegiatan join dengan sekolah tertentu yang bersedia. Perlombaan seperti itu non formal di luar kegiatan kemendikdasmen.
Ke tujuh , sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab bersama adalah apakah prestasi juara level internasional ini bisa merepresentasikan kualitas pendidikan Aceh telah naik secara gemilang? Apakah prestasi yang diraih oleh satu atau dua orang di level internasional itu bisa mengubah posisi kualitas pendidikan Aceh yang masih kita ratapi ini?
Bila ya, tentu ini menjadi Paradoks dengan semua data mengenai kualitas pendidikan level sekolah menengah atas ( SMA) yang diukur dengan alat yang kita sebut dengan Tes kemampuan akademik (TKA) itu?
Kiranya ini penting dijawab, karena kita khawatir bila pihak pengelola pendidikan di daerah ini dengan klaim bahwa kualitas Pendidikan setingkat SMA/ SMK di Aceh sudah selevel dengan SMA/ SMK di negeri tetangga Malaysia, Singapura, Thailand, Arab Saudi dan lain-lain. Tentu kita sepakat bahwa prestasi perorangan tidak bisa merepresentasikan kualitas pendidikan di Aceh secara general. Ini akan menyesatkan. Mari kita kritisi bersama, agar kita tidak terlena dalam membangun pendidikan di Aceh secara bermartabat.












