Artikel · Potret Online

Menganyam Kreativitas dari Alam: Kisah Alfi Syahri, Ibu Tiga Anak Penggerak Literasi Kreatif di Abdya

Penulis Nita Juniarti
Mei 26, 2026
3 menit baca 2
fc1ece11-a2ae-497e-bbc6-bcf8e08beb34
Foto / IlustrasiMenganyam Kreativitas dari Alam: Kisah Alfi Syahri, Ibu Tiga Anak Penggerak Literasi Kreatif di Abdya

Oleh Nita Juniarti

Membaca buku tidak harus selalu duduk diam dan mengeja kata. Di tangan Alfi Syahri, seorang ibu tiga anak asal Aceh Barat Daya (Abdya), dunia literasi menjelma menjadi petualangan kerajinan tangan yang seru sekaligus media untuk menggerakkan kebudayaan. 

Melalui sentuhan kreativitasnya, ia berhasil mengkolaborasikan kegiatan kriya tradisional dan seni rupa, menciptakan sebuah metode belajar stimulasi otak kanan yang efektif bagi anak-anak.

Sebagai seorang ibu, Alfi paham betul bahwa tantangan terbesar mengenalkan buku di era gawai adalah menjaga fokus anak. Alih-alih menyerah pada keadaan, ia ikut berkontribusi dalam literasi melalui kegiatan yang interaktif di Komunitas Sigupai Mambaco. 

Menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam sekitar, Alfi mengajak anak-anak Abdya menyentuh, meraba, dan mencipta.

Salah satu keunikan gerakan literasi yang difasilitasi oleh Alfi bersama komunitas Sigupai Mambaco adalah mengajarkan rasa dan menghadirkan ruh ke dalam cerita. Salah satunya melalui media biluluk, literasi budaya mengayam biluluk terinspirasi dari tulisan anak-anak sekolah dasar berupa cerita fantasi. 

Biluluk sendiri merupakan bagian dari tradisi manoe pucok (mandi pucuk) di Aceh Barat Daya, di mana bahannya memanfaatkan anyaman daun kelapa muda. 

Di tangan Alfi dan anak-anak, biluluk diolah dan dirangkai menjadi aktivitas literasi budaya dalam upaya menghidupkan karakter-karakter dalam cerita yang sedang mereka tulis.

Tidak hanya biluluk, Alfi juga mengenalkan kegiatan mengukir sabun batang menggunakan pisau ukir sederhana. Kriya ukir sabun ini biasanya erat dengan perlengkapan upacara adat dan kebudayaan di Aceh Barat Daya atau suvernir. Melalui media-media inilah, Alfi bergerak sebagai fasilitator literasi budaya—salah satu dari enam literasi dasar yang dicanangkan oleh UNESCO untuk merawat identitas bangsa.

Pendekatan kriya yang dilakukan Alfi secara tidak langsung juga menanamkan nilai-nilai literasi lingkungan kepada anak-anak sejak dini. Dengan memanfaatkan bahan alam dan material organik yang mudah terurai, ia mengajarkan bahwa kreativitas tidak harus mahal dan tidak harus merusak bumi. 

Anak-anak diajak untuk melihat bahwa pekarangan rumah dan alam sekitar adalah perpustakaan besar yang menyediakan bahan belajar tanpa batas.

Bagi Alfi, mengenalkan kriya tradisional kepada generasi pelapis bukan sekadar pilihan aktivitas bermain, melainkan sebuah misi penyelamatan warisan leluhur yang mulai luntur digerus zaman.

“Saya ingin, agar semua anak bisa dan tahu cara membuat serta merangkai biluluk. Karena kalau ini tidak diperkenalkan kembali kepada anak-anak, tradisi merangkai biluluk ini perlahan-lahan akan hilang,” ujar Alfi penuh harap.

Ia juga menambahkan bahwa kriya tradisional ini bisa menjadi alternatif yang sangat baik untuk anak-anak. “Dan ini bisa sebagai alat permainan edukatif untuk anak-anak dalam mengisi waktu luang mereka dengan hal yang positif.”

Melalui konsistensinya di Aceh Barat Daya, Alfi Syahri yang berasal dari Blangpidie ini, sedang membuktikan bahwa literasi adalah sebuah gerakan yang luas dan dinamis. 

Ia sedang mengajar anak-anak Abdya membaca potensi alam, mengasah kepekaan rasa lewat seni kriya, dan menganyam masa depan yang kreatif dari akar kekayaan lokal mereka sendiri. 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Nita Juniarti
Pendiri dan pengelola Komunitas Abdya Mambaco di Blang Pidie, Aceh Barat Daya
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...