Negeri Ini Ribut Terus, Mari Sekali-kali Ribut Soal “di”

Oleh Rosadi Jamani
Membahas persoalan negeri ini memang seperti menimba air laut dengan sendok teh. Tak habis-habis. Hari ini ribut korupsi. Besok ribut Pesta Babi. Lusa ribut MBG. Minggu depan ribut KDMP. Selalu ada keributan. Seolah republik ini dibangun di atas fondasi debat kusir dan kolom komentar.
Tapi sesekali, mari kita tinggalkan dulu kegaduhan nasional itu. Mari ribut soal yang lebih kecil. Lebih mungil. Lebih pendek. Cuma dua huruf.
“di”.
Ya, “di”.
“Ape pula cerite di ni, Bang. Udah capek atau kehabisan Koptagul ni.”
“Bukan, wak. Sesekali ngasih ilmu ke kader Partai Koptagul.” Ups
Kita lanjutkan pembahasan kata “di”. Dua huruf yang bentuknya sederhana. Tak punya pangkat. Tak punya jabatan. Tak pernah ikut pemilu. Tapi sanggup membuat tulisan terlihat cerdas… atau sebaliknya, ambruk sebelum dibaca sampai titik terakhir.
Banyak penulis, terutama pemula, mahasiswa yang sedang dikejar dosen pembimbing, atau orang yang sedang menulis skripsi sambil menatap langit-langit kamar kos, sering salah menulis “di”.
Kelihatannya remeh. Tapi remeh yang memalukan. Seperti pakai jas mahal, sepatu mengilap, parfum semprot tujuh kali… tapi ritsleting celana lupa ditutup. Lalu tampak deh anunya, ups.
Dari jauh meyakinkan. Dari dekat bencana.
Saya jadi teringat masa ketika menjadi redaktur di surat kabar. Saat itu tekanan darah saya kadang naik turun seperti grafik harga cabai. Bukan karena politik. Bukan karena oplah. Tapi karena satu hal, “di” yang ditulis semena-mena.
Wartawan saya panggil. “Duduk sini.” Lalu saya tunjuk layar komputer. “Perhatikan baik-baik. Ini kenapa ‘di’ digabung? Siapa yang menyuruh?”
Mereka diam. Saya juga diam. Komputer ikut diam. Yang tidak diam hanya urat leher saya. Sudah berkali-kali dijelaskan. Berkali-kali dibedah seperti dosen linguistik sedang menguliti tesis mahasiswa semester akhir.
Tapi tetap saja ada yang menulis:
disana
disini
didalam
Padahal yang benar:
di sana
di sini
di dalam
Yang harus dipisah malah digabung seperti pasangan yang belum direstui keluarga tapi nekat kawin lari.
Sebaliknya, yang mestinya digabung malah dipisah.
Ada yang menulis:
di bohongi
di campakkan
di turunkan
Saya membaca itu rasanya seperti mendengar piano dimainkan pakai palu.
Padahal yang benar:
dibohongi
dicampakkan
diturunkan
Sederhana sebenarnya. Kalau “di” bertemu kata kerja, wajib digabung.
Contoh:
dimakan
dicintai
dicumbu
dianu-anukan
dibakar
ditulis
ditinggalkan
dibohongi
Pokoknya kalau bisa diberi makna “sedang dikenai tindakan”, umumnya digabung.
Tapi kalau “di” menunjukkan tempat, wajib dipisah.
Contoh:
di rumah
di bawah
di atas
di gunung
di pasar
di kantor
di hati… eh, yang ini tergantung konteks.
Rumusnya gampang:
Kalau bisa ditanya “di mana?”, biasanya dipisah.
Kalau bisa ditanya “diapakan?”, biasanya digabung.
Contoh:
“Buku itu ditaruh di meja.”
Ditanya:
diapakan bukunya? → ditaruh → digabung
di mana bukunya? → di meja → dipisah
Selesai. Sesederhana itu. Tapi entah kenapa banyak yang tetap tersesat.
Mungkin “di” terlalu kecil sehingga diremehkan. Padahal justru yang kecil sering menentukan kualitas besar. Retakan bendungan bermula dari garis tipis. Kapal besar tenggelam karena lubang kecil. Tulisan bagus bisa tampak berantakan gara-gara salah menulis “di”.
Bahasa memang begitu. Ia tidak berteriak. Ia tidak demo di jalan. Ia tidak melempar ban terbakar ke depan gedung. Tapi diam-diam ia menunjukkan siapa yang teliti dan siapa yang menulis sambil ngantuk.
Hal sepele? Memang. Kadang hal paling sepele justru yang paling bikin emosi. Karena memperbaiki negeri mungkin terlalu berat. Tapi memperbaiki “di” itu masih bisa kita lakukan hari ini juga.
Semoga pelajaran singkat ini bisa membuat kader Partai Koptagul semakin cerdas. Kalau masih juga bebal, ada baiknya pesan segelas lagi, Koptagul.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM












