BESOK, IDUL ADHA : Ketika Orang Miskin Rela Berqurban, Mengapa Orang Kaya Masih Pandai Mencari Alasan?*

Oleh : Teuku Muhammad Jamil
.
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kita melaksanakan Shalat Idul Adha, menyaksikan gema takbir berkumandang di halaman masjid, melihat hewan-hewan qurban disembelih, lalu menikmati sate dan kuah beulangong bersama keluarga, tetangga, dan masyarakat. Kini, tanpa terasa, hanya tinggal satu hari lagi umat Islam kembali menyambut 10 Dzulhijjah 1447 H.
Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan. Ia bukan hanya ritual penyembelihan kambing atau sapi. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum besar untuk menguji keikhlasan, kepedulian sosial, dan kemanusiaan kita.
Dalam sejarah Islam, Idul Adha lahir dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tentang kepatuhan total kepada Allah SWT. Pengorbanan itu bukan hanya tentang darah hewan qurban, tetapi tentang keberanian mengalahkan ego, keserakahan, cinta dunia, dan kekikiran hati.
Sayangnya, di zaman modern ini, semangat pengorbanan justru mulai terkikis oleh gaya hidup mewah dan budaya pamer. *Banyak orang mampu membeli mobil baru, mengganti telepon genggam setiap tahun, mengoleksi tas dan jam tangan mahal, bahkan menghabiskan jutaan rupiah untuk liburan dan hiburan.* Namun ketika berbicara tentang qurban, mendadak mereka merasa “belum mampu”.
*Lebih ironis lagi, sebagian pejabat dan orang-orang kaya tampil gagah di depan publik, bicara tentang kepedulian rakyat, keadilan sosial, bahkan agama. Tetapi pada saat yang sama, mereka begitu sulit mengeluarkan sedikit hartanya untuk berbagi kepada masyarakat kecil yang justru setiap hari memikul beban kehidupan paling berat.*
Padahal, hakikat qurban bukan terletak pada mahalnya hewan yang disembelih, melainkan pada keikhlasan hati dan keberanian melawan sifat kikir yang bercokol dalam jiwa manusia.
Izinkan saya membagikan sebuah kisah sederhana, namun sangat menghentak batin bagi insan yang berhati mulia.
*ALKISAH*
Seorang pedagang hewan qurban pernah bercerita tentang pengalaman yang membuatnya menangis dan merasa sangat kecil di hadapan Allah SWT.
Suatu hari, datang seorang ibu sederhana ke tempat jualannya. Pakaiannya lusuh, wajahnya tampak lelah, dan dari penampilannya terlihat jelas bahwa ia bukan orang berada. Namun ia tetap memperhatikan kambing-kambing qurban dengan penuh harap.
*“Kalau yang itu berapa harganya, Pak?” tanyanya sambil menunjuk kambing paling kecil.*
“Itu tujuh ratus ribu, Bu,” jawab pedagang.
“Harga pasnya berapa?”
“Enam ratus ribu saja, Bu.”
Ibu itu lalu menunduk pelan dan berkata lirih, “Uang saya hanya lima ratus ribu, Pak. Boleh?”
Pedagang itu terdiam. Harga itu sebenarnya sama dengan modalnya. Setelah berdiskusi dengan temannya, akhirnya kambing itu diberikan juga kepada sang ibu.
Karena iba, pedagang tersebut membantu mengantar kambing itu ke rumah si ibu.
*Namun setibanya di sana, tubuhnya mendadak gemetar.*
Rumah itu hanyalah gubuk kecil berlantai tanah. Tidak ada kursi mewah, tidak ada televisi, tidak ada lemari, bahkan kasur pun nyaris tidak terlihat. Di sudut rumah, seorang nenek tua kurus sedang berbaring di atas dipan kayu sederhana.
“Mak… bangun Mak… lihat, saya bawa kambing qurban,” kata ibu itu penuh haru.
Sang nenek perlahan bangun, lalu mengusap kambing itu sambil menangis.
“Alhamdulillah Ya Allah… akhirnya kesampaian juga emak bisa berqurban,” ucapnya terbata-bata.
Lalu ibu itu berkata kepada pedagang tadi :
*“Saya hanya tukang cuci, Pak. Saya kumpulkan uang sedikit demi sedikit supaya bisa membeli kambing qurban atas nama ibu saya…”*
Astaghfirullah…
*Pedagang itu mengaku dadanya sesak. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia merasa sedang ditegur Allah SWT melalui seorang perempuan miskin yang justru memiliki kekayaan iman luar biasa.*
Di saat banyak orang kaya menghitung keuntungan dan sibuk mempertahankan kemewahan hidupnya, perempuan miskin itu malah rela menabung sedikit demi sedikit demi memuliakan ibunya melalui qurban.
Sungguh, kemuliaan manusia ternyata tidak diukur dari besarnya jabatan, tingginya gelar akademik, luasnya kekuasaan, atau banyaknya saldo rekening. Kemuliaan manusia diukur dari ketulusan hati, kepedulian sosial, dan keberaniannya berbagi di tengah kehidupan yang serba sulit.
Hari ini kita menyaksikan ironi sosial yang menyakitkan. Orang miskin masih mampu berbagi, sementara sebagian orang kaya justru semakin lihai mencari alasan untuk menghindari pengorbanan.
Ada yang hartanya miliaran, tetapi terlalu berat membeli seekor kambing. Ada pejabat yang anggaran perjalanan dinasnya fantastis, tetapi tidak pernah terlihat hadir di tengah rakyat kecil dengan membawa semangat kepedulian. Bahkan ada yang begitu rajin memamerkan kemewahan di media sosial, namun enggan menyisihkan sedikit hartanya untuk qurban.
*Padahal qurban sejatinya bukan hanya ibadah individual, tetapi juga pesan sosial yang sangat kuat: bahwa dalam setiap harta orang kaya, ada hak kaum miskin yang harus ditunaikan.*
Idul Adha mengajarkan bahwa keimanan tanpa kepedulian sosial hanyalah simbol kosong. Takbir tanpa empati hanyalah gema yang kehilangan makna.
*Karena itu, menjelang Hari Raya Idul Adha ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri :*
Sudahkah kita benar-benar memiliki hati yang peduli?
Sudahkah kita berbagi kepada mereka yang selama ini hidup dalam kesulitan?
Ataukah kita hanya menjadi manusia yang pandai berbicara tentang agama, tetapi sangat pelit dalam pengorbanan?
Jangan sampai orang miskin lebih mulia di hadapan Allah dibanding kita yang hidup berkecukupan tetapi miskin rasa syukur.
Sebab boleh jadi, seekor kambing dari seorang tukang cuci jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada puluhan sapi dari orang kaya yang dipenuhi kesombongan dan riya.
Semoga Idul Adha tahun ini tidak hanya menghadirkan aroma sate dan gema takbir, tetapi juga melahirkan hati yang lebih lembut, pemimpin yang lebih peduli, dan orang-orang kaya yang tidak lagi tega membiarkan rakyat kecil menanggung kesulitan sendirian.
*Selamat Menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H. Semoga Allah SWT menjadikan kita manusia yang ikhlas berbagi, bukan manusia yang kaya harta tetapi miskin nurani.*
Sagoe Cot Irie, Aceh Rayeuk, 26 Mei 2026











