Artikel · Potret Online

Sehari Mengikhlaskan MBG untuk Menyelamatkan Urat Nadi Aceh–Sumatera Utara

Penulis  Dayan Abdurrahman
Mei 22, 2026
6 menit baca 18
IMG_1258
Foto / IlustrasiSehari Mengikhlaskan MBG untuk Menyelamatkan Urat Nadi Aceh–Sumatera Utara
Disunting Oleh

Solidaritas Sosial, Jalan Kehidupan, dan Masa Depan Indonesia

Oleh Dayan Abdurrahman

Sebuah bangsa besar tidak hanya diukur dari tingginya gedung pemerintahan, panjangnya pidato politik, atau megahnya proyek-proyek nasional. Bangsa besar justru terlihat dari kemampuan rakyatnya memahami satu hal sederhana: kadang kita perlu mengikhlaskan sedikit kenyamanan hari ini demi menyelamatkan kehidupan yang jauh lebih panjang bagi banyak orang.

Di tengah semangat besar pemerintah menjalankan program makan bergizi gratis (MBG), masyarakat Indonesia juga sedang menyaksikan kenyataan lain yang tak kalah penting: jalur penghubung Aceh–Sumatera Utara masih menyimpan luka akibat banjir bandang. Sejumlah jembatan rusak, akses transportasi terganggu, distribusi logistik melambat, dan denyut ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Di sinilah muncul sebuah gagasan moral dan sosial yang menarik untuk direnungkan bersama: bagaimana jika satu hari saja bangsa ini secara sadar mengikhlaskan sebagian alokasi MBG untuk mempercepat pemulihan jembatan dan jalan strategis Aceh–Sumatera Utara?

Ini bukan soal menolak program gizi. Ini juga bukan soal mempertentangkan kebutuhan rakyat kecil. Sebaliknya, ini adalah refleksi tentang solidaritas kebangsaan. Tentang bagaimana satu pengorbanan kecil dapat menghadirkan kemaslahatan jangka panjang bagi jutaan orang.

Karena sesungguhnya jalan dan jembatan bukan sekadar beton dan besi. Ia adalah jalan kehidupan.

Jalan yang Rusak, Ekonomi yang Tercekik

Banyak orang di kota besar mungkin tidak benar-benar memahami arti sebuah jalan rusak di kawasan penghubung Aceh–Medan. Mereka melihatnya hanya sebagai persoalan infrastruktur biasa. Padahal di balik kerusakan itu terdapat rantai kehidupan yang ikut terganggu.

Truk pengangkut sayur dari Sumatera Utara terlambat masuk ke Aceh. Distribusi ikan dan hasil bumi dari Aceh menuju Medan tersendat. Ongkos transportasi meningkat. Harga kebutuhan pokok perlahan naik. Sopir kehilangan waktu kerja. Pedagang kecil kehilangan keuntungan. Bahkan ambulans dan kendaraan darurat harus bergerak lebih lambat karena jalur tidak lagi aman.

Satu jembatan yang rusak kadang dapat melumpuhkan ribuan aktivitas ekonomi.

Inilah mengapa negara-negara maju sangat serius menjaga konektivitas wilayahnya. Jepang, misalnya, setelah dihantam tsunami dan gempa besar tahun 2011, bergerak sangat cepat memulihkan jalan, rel kereta, dan pelabuhan. Mereka memahami bahwa ekonomi rakyat tidak bisa menunggu terlalu lama.

Korea Selatan juga memiliki budaya nasional yang kuat dalam mendukung pemulihan sosial pascabencana. Ketika krisis finansial Asia melanda pada akhir 1990-an, masyarakat bahkan rela mendonasikan emas pribadi mereka untuk membantu negara menstabilkan ekonomi. Gerakan itu dikenal luas sebagai “Gold Collection Campaign”. Rakyat ikut terlibat karena mereka percaya bahwa solidaritas hari ini akan menyelamatkan masa depan bersama.

Di Indonesia, nilai seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing.

Kita memiliki gotong royong.

Kita memiliki budaya saling membantu.

Kita memiliki tradisi kenduri, peusijuek, marsialap ari, sambatan, mapalus, dan berbagai bentuk solidaritas adat di seluruh nusantara yang mengajarkan satu nilai utama: penderitaan bersama harus dipikul bersama.

Maka ketika ada gagasan “sehari mengikhlaskan MBG untuk memperbaiki urat nadi Aceh–Sumatera Utara”, sesungguhnya itu bukan ide asing. Itu justru sangat Indonesia.

Solidaritas yang Berakar pada Agama dan Adat

Dalam ajaran agama, terutama Islam yang menjadi keyakinan mayoritas masyarakat Aceh dan Indonesia, terdapat konsep besar tentang kemaslahatan umat. Bahwa tindakan terbaik bukan hanya yang menguntungkan diri sendiri, tetapi yang paling besar manfaatnya bagi masyarakat luas.

Ada satu prinsip penting dalam kehidupan sosial Islam: mencegah kerusakan yang lebih besar harus didahulukan demi keselamatan bersama.

Bukankah jalan yang rusak dapat menghadirkan kerugian ekonomi besar? Bukankah keterlambatan distribusi pangan juga berdampak pada kesejahteraan rakyat kecil? Bukankah akses kesehatan yang terganggu dapat membahayakan nyawa manusia?

Karena itu, memperbaiki jalur strategis bukan hanya proyek pembangunan. Ia juga bagian dari ibadah sosial.

Di Aceh sendiri, nilai solidaritas itu sangat kuat. Ketika tsunami 2004 melanda, masyarakat dunia datang membantu Aceh. Tetapi yang sering terlupakan adalah bagaimana masyarakat Aceh juga saling menyelamatkan satu sama lain di tengah kehancuran besar.

Ada yang berbagi makanan terakhirnya.

Ada yang membuka rumah bagi pengungsi.

Ada yang membantu tanpa mengenal suku dan daerah asal.

Aceh pernah bertahan karena solidaritas.

Dan Indonesia sejak dulu berdiri karena semangat kolektif seperti itu.

Satu Hari untuk Dampak Bertahun-Tahun

Mari kita berpikir secara lebih luas.

Satu hari pengikhlasan anggaran mungkin terlihat kecil. Tetapi jika dikelola dengan transparan dan fokus, ia bisa mempercepat perbaikan sejumlah titik strategis yang selama ini memperlambat konektivitas Aceh–Sumatera Utara.

Kadang bangsa ini terlalu fokus pada bantuan yang bersifat sesaat, tetapi kurang berani berinvestasi pada sistem jangka panjang.

Padahal jalan yang baik akan:

mempercepat distribusi pangan,

menurunkan biaya logistik,

menjaga stabilitas harga,

mempercepat akses rumah sakit,

memperlancar pendidikan,

meningkatkan perdagangan,

dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan kata lain, memperbaiki infrastruktur strategis adalah bentuk bantuan sosial jangka panjang.

Inilah yang sering dipahami negara-negara maju: bahwa kesejahteraan rakyat tidak hanya dibangun dengan subsidi langsung, tetapi juga dengan menciptakan sistem yang membuat rakyat dapat hidup lebih efisien dan produktif.

Tiongkok membangun ribuan kilometer jalan dan kereta cepat bukan semata untuk simbol modernitas, tetapi untuk menghubungkan pusat produksi dengan pasar. Singapura menjaga pelabuhan dan konektivitasnya secara disiplin karena mereka tahu ekonomi bisa runtuh jika distribusi terganggu.

Indonesia juga harus mulai melihat infrastruktur dengan perspektif peradaban, bukan sekadar proyek tahunan.

Politik Empati, Bukan Sekadar Politik Anggaran

Persoalan terbesar pembangunan di Indonesia kadang bukan kekurangan dana, tetapi kekurangan empati dalam membaca penderitaan masyarakat.

Di meja rapat, jalan rusak mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam dokumen. Tetapi di lapangan, itu adalah ibu yang terlambat melahirkan di rumah sakit. Itu adalah petani yang gagal menjual hasil panennya tepat waktu. Itu adalah anak sekolah yang harus memutar perjalanan jauh setiap hari.

Karena itu bangsa ini membutuhkan politik empati.

Politik yang mampu mendengar suara rakyat kecil.

Politik yang tidak sekadar sibuk membagi anggaran, tetapi memahami denyut kehidupan masyarakat.

Ketika masyarakat diajak ikut terlibat dalam gagasan solidaritas nasional, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya jembatan fisik, tetapi juga jembatan emosional antara negara dan rakyat.

Rakyat ingin merasa bahwa pengorbanan mereka bermakna.

Rakyat ingin yakin bahwa negara benar-benar hadir.

Dan negara yang kuat adalah negara yang mampu menumbuhkan rasa memiliki di hati masyarakatnya.

Dari Aceh untuk Indonesia

Aceh dan Sumatera Utara memiliki hubungan historis dan ekonomi yang sangat panjang. Ribuan keluarga hidup dengan mobilitas antara dua wilayah ini. Mahasiswa belajar lintas provinsi. Pedagang bergerak setiap hari. Distribusi barang berlangsung tanpa henti.

Karena itu menjaga jalur ini bukan hanya kepentingan daerah. Ini kepentingan nasional.

Kita tidak sedang berbicara tentang proyek kecil lokal. Kita sedang berbicara tentang menjaga salah satu denyut utama kawasan barat Indonesia.

Dan mungkin inilah saatnya Indonesia kembali menghidupkan semangat lama yang mulai memudar: semangat rela berbagi demi kemaslahatan bersama.

Bukan solidaritas yang dipaksakan.

Bukan pengorbanan yang membebani rakyat.

Tetapi kesadaran kolektif bahwa kadang satu hari pengikhlasan dapat menghadirkan manfaat bertahun-tahun bagi jutaan manusia.

Karena bangsa besar bukan bangsa yang hanya pandai membangun program, tetapi bangsa yang mampu memahami mana yang paling mendesak bagi keselamatan rakyatnya.

Dan mungkin, dari jalan-jalan yang rusak di Aceh–Sumatera Utara, kita sedang belajar kembali makna terdalam dari menjadi Indonesia: saling menopang agar tidak ada saudara sebangsa yang tertinggal di tengah perjalanan.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...