Artikel · Potret Online

Papua, Benteng Terakhir Hutan Tropis Indonesia di Tengah Krisis Iklim Global

Penulis  Novita Sari Yahya
Mei 20, 2026
7 menit baca 18
b3139d76-cb14-4da1-9d5c-3e0a513a560d
Foto / IlustrasiPapua, Benteng Terakhir Hutan Tropis Indonesia di Tengah Krisis Iklim Global
Disunting Oleh

Oleh: Novita Sari Yahya

Papua merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar dan paling utuh yang masih tersisa di Indonesia maupun Asia Tenggara. Di tengah laju deforestasi yang selama beberapa dekade mengurangi kawasan hutan di Sumatra dan Kalimantan, Papua masih mempertahankan tutupan hutannya dalam skala luas.

Namun kondisi tersebut tidak berarti Papua terbebas dari ancaman kerusakan lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap hutan Papua terus meningkat akibat ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, dan pembukaan lahan berskala besar.

Berbagai pemantauan satelit dan studi kehutanan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Papua masih berupa kawasan berhutan. Persentase tutupan hutan dapat berbeda tergantung definisi dan metode pengukuran yang digunakan, seperti perbedaan antara tutupan pohon, hutan primer, atau kawasan hutan menurut klasifikasi pemerintah. Sejumlah analisis menunjukkan tutupan hutan Papua masih berada pada kisaran 70–80 persen wilayah daratan, menjadikannya salah satu kawasan hutan tropis terpenting yang tersisa di Indonesia.

Keberadaan hutan Papua memiliki arti penting tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi stabilitas iklim global. Hutan tropis Papua menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar pada vegetasi hutan primer, tanah, kawasan mangrove, dan sejumlah wilayah lahan gambut di bagian selatan Papua seperti Merauke. Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang membantu mengurangi konsentrasi karbon dioksida di atmosfer dan memperlambat laju perubahan iklim global.

Ketika hutan primer ditebang, dibakar, atau dialihfungsikan menjadi kawasan industri, pertambangan, maupun perkebunan, karbon yang tersimpan selama ratusan tahun dapat terlepas ke atmosfer dalam bentuk emisi gas rumah kaca. Pelepasan emisi tersebut mempercepat pemanasan global dan memperburuk berbagai dampak perubahan iklim seperti gelombang panas ekstrem, kekeringan berkepanjangan, banjir besar, serta kenaikan permukaan laut. Konsensus ilmiah internasional, termasuk laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), menempatkan deforestasi sebagai salah satu penyumbang utama emisi karbon global.

Meskipun kondisi hutannya relatif lebih baik dibandingkan banyak wilayah lain di Indonesia, Papua kini menghadapi tekanan deforestasi yang terus meningkat. Data dari berbagai lembaga pemantau hutan seperti Global Forest Watch menunjukkan bahwa kehilangan tutupan pohon dan hutan alam di Papua masih terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Tekanan tersebut berkaitan dengan pembukaan perkebunan, pembangunan jalan dan infrastruktur, pertambangan, serta proyek pangan skala besar. Di sejumlah wilayah, pembukaan kawasan hutan juga berkaitan dengan ekspansi perkebunan sawit dan proyek strategis nasional.

Salah satu isu yang banyak mendapat perhatian adalah Program Food Estate di Merauke dan Papua Selatan. Program ini merupakan bagian dari strategi ketahanan pangan nasional melalui pengembangan lahan untuk tanaman pangan dan energi seperti padi dan tebu.

Pemerintah menyatakan sebagian kawasan yang digunakan merupakan lahan terdegradasi, yaitu lahan yang mengalami penurunan kualitas ekologis akibat aktivitas sebelumnya. Namun sejumlah laporan organisasi lingkungan dan hasil pemantauan lapangan menunjukkan bahwa sebagian pembukaan lahan tetap berpotensi memengaruhi kawasan hutan alam, lahan basah, dan habitat satwa liar.

Ekspansi industri dan pembangunan berskala besar juga dapat menyebabkan fragmentasi habitat, yaitu terpecahnya kawasan hutan menjadi bagian-bagian kecil akibat pembangunan jalan, perkebunan, atau kawasan industri. Kondisi ini dapat mengisolasi populasi satwa liar, mengganggu jalur migrasi, serta menurunkan kualitas ekosistem hutan secara keseluruhan. Para peneliti menyebut bahwa fragmentasi habitat dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penurunan populasi satwa endemik dan mempercepat degradasi ekosistem tropis.

Selain berfungsi sebagai penyimpan karbon, hutan Papua memainkan peran penting dalam menjaga siklus air regional. Pepohonan tropis menyerap air dari tanah lalu melepaskannya kembali ke atmosfer melalui proses evapotranspirasi. Proses ini membantu memengaruhi pola curah hujan dan menjaga kestabilan iklim lokal maupun regional. Para peneliti menyebut bahwa kerusakan hutan dalam skala besar dapat meningkatkan risiko banjir di beberapa wilayah dan memengaruhi ketersediaan air pada musim kemarau, meskipun dampaknya dapat berbeda tergantung kondisi topografi, jenis tanah, dan skala kerusakan hutan.

Papua juga dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Kawasan ini menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna, termasuk banyak spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Burung Cendrawasih, Kasuari (Casuarius), Kanguru Pohon (Dendrolagus), dan Echidna moncong panjang (Zaglossus) merupakan sebagian kecil contoh fauna khas Papua yang memiliki nilai ekologis tinggi. Kekayaan biodiversitas tersebut menjadikan Papua sebagai salah satu wilayah penting bagi konservasi global.

Beberapa spesies tersebut telah masuk kategori rentan hingga terancam menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hilangnya hutan primer berarti hilangnya habitat alami yang menjadi tempat berkembang biak, mencari makan, dan berlindung bagi satwa liar. Jika deforestasi berlangsung tanpa pengendalian yang kuat, ancaman kepunahan spesies akan semakin meningkat.

Selain hutan daratan, Papua juga memiliki kawasan mangrove penting di wilayah pesisirnya. Ekosistem mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pantai terhadap abrasi, badai, dan gelombang tinggi. Mangrove juga menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut yang menopang kehidupan masyarakat pesisir. Dalam banyak penelitian, mangrove dikenal memiliki kemampuan penyimpanan karbon yang sangat tinggi, terutama pada lapisan tanahnya. Karena itu, kerusakan mangrove tidak hanya meningkatkan risiko kerusakan pesisir, tetapi juga memperburuk perubahan iklim dan menurunkan produktivitas perikanan masyarakat lokal.

Kerusakan hutan Papua juga memiliki dampak sosial yang besar. Bagi masyarakat adat Papua, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya, ruang spiritual, dan sumber pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Hutan menyediakan pangan, obat-obatan alami, bahan bangunan, serta ruang ritual adat. Dalam berbagai kasus, ekspansi industri dan proyek pembangunan skala besar memunculkan persoalan konflik lahan dan hak tanah ulayat. Berbagai organisasi masyarakat sipil dan lembaga internasional menyoroti pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan terkait pemanfaatan hutan dan sumber daya alam di Papua.

Meski menghadapi berbagai tantangan, upaya perlindungan hutan Papua terus dilakukan. Pemerintah Indonesia melalui kebijakan Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan menjadi penyerap karbon bersih pada tahun 2030. Selain itu, berbagai inisiatif konservasi, restorasi hutan, rehabilitasi mangrove, serta kemitraan dengan masyarakat adat mulai diperkuat di sejumlah wilayah Papua. Namun berbagai pihak juga menilai bahwa keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada penegakan hukum, transparansi tata kelola lahan, dan konsistensi perlindungan kawasan hutan.

Perlindungan hutan Papua membutuhkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Keseimbangan tersebut memerlukan penegakan hukum lingkungan, pengakuan hak masyarakat adat, tata ruang yang berkelanjutan, serta pengembangan ekonomi hijau seperti ekowisata, agroforestri, dan pengelolaan hasil hutan non-kayu secara berkelanjutan. Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa kerusakan hutan tropis dalam skala besar sangat sulit dipulihkan sepenuhnya setelah terjadi.

Di tengah krisis iklim global yang semakin mengkhawatirkan, Papua tetap menjadi salah satu kawasan hutan tropis terbesar dan terpenting di Indonesia. Namun status tersebut juga menunjukkan bahwa Papua menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya aktivitas pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam. Karena itu, perlindungan Papua menjadi penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi stabilitas lingkungan global. Jika kerusakan terus berlangsung tanpa pengendalian yang serius, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Papua, tetapi juga oleh dunia internasional melalui peningkatan emisi karbon, hilangnya keanekaragaman hayati, dan terganggunya keseimbangan ekologis regional. Menjaga Papua berarti menjaga salah satu benteng penting keberlanjutan lingkungan dunia.

Daftar referensi

Auriga Nusantara. (n.d.). Auriga Nusantara. https://auriga.or.id/

Forest Watch Indonesia. (n.d.). Forest Watch Indonesia. https://fwi.or.id/

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (n.d.). FAO. https://www.fao.org/

Global Forest Watch. (n.d.). Global Forest Watch. https://www.globalforestwatch.org/

Human Rights Watch. (n.d.). Human Rights Watch. https://www.hrw.org/

Intergovernmental Panel on Climate Change. (n.d.).IPCC. https://www.ipcc.ch/

International Union for Conservation of Nature. (n.d.). The IUCN Red List of Threatened Species. https://www.iucnredlist.org/

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (n.d.).KLHK. https://www.menlhk.go.id/

Mongabay Indonesia. (n.d.).Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/

United Nations Environment Programme. (n.d.). UNEP. https://www.unep.org/

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. (n.d.). WALHI. https://walhi.or.id/

World Resources Institute. (n.d.). World Resources Institute. https://www.wri.org/

World Wide Fund for Nature. (n.d.). World Wide Fund for Nature. https://www.worldwildlife.org/

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...