KOSAMARA dalam Nafas Tulus Setiyadi: Rumah yang Menjadi Arsip Peradaban

Oleh: Fileski Walidha Tanjung
Setahun setelah kepergian Tulus Setiyadi pada 2025, saya datang bukan semata untuk berziarah kepada seseorang yang telah dimakamkan. Saya datang untuk menyaksikan sebuah pertanyaan yang lebih sunyi: benarkah manusia mati ketika tubuhnya berhenti bernapas? Pertanyaan itu berputar dalam kepala saya saat menghadiri peringatan dua tahun KOSAMARA (Komunitas Sastra Madiun Raya), komunitas sastra yang didirikan almarhum Tulus Setiyadi.
Peringatan tersebut diselenggarakan di Rumah Budaya Tulus Setiyadi, Dusun Bajang, Desa Banjarsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur; sebuah rumah yang pada hari itu terasa lebih menyerupai ruang waktu ketimbang sekadar bangunan.
Acara itu dihadiri para sastrawan, akademisi, penulis, budayawan, dan penggerak literasi: Titus Tri Wibowo, Aris Wuryantoro, Aris Purwanto, Sarno Arbara, Sri Yani dari Trenggalek, Nina Wahyu, Asti Musman, Dwi Atmoko, Purwinarto, Sumargono, serta Aris Setiyadi, adik almarhum yang kini menjadi ahli waris rumah budaya tersebut. Namun sesungguhnya, yang paling hadir di sana justru seseorang yang secara biologis telah pergi: Tulus Setiyadi sendiri.
Ada ironi yang sering luput kita sadari dalam zaman digital hari ini. Kita hidup di era yang begitu sibuk menyimpan data, tetapi semakin kehilangan ingatan. Kita menyimpan jutaan foto di awan digital, tetapi gagal mengabadikan makna. Kita merekam segala hal, tetapi perlahan kehilangan kemampuan mengenang. Di tengah paradoks itu, rumah budaya milik Tulus Setiyadi menawarkan cara lain memahami warisan.
Di rumah itu, arsip-arsip kreatif Tulus masih tersimpan utuh: novel, kumpulan cerkak, gurit, puisi, catatan proses kreatif, hingga tulisan tangan yang mengandung jejak keraguan, revisi, dan pergulatan. Bahkan laptop, meja, kursi, serta tempat tidur yang dahulu menjadi saksi kehidupan sehari-harinya masih berada di rumah yang sama. Seolah benda-benda itu diam-diam menolak tunduk kepada waktu.
Filsuf Walter Benjamin pernah mengatakan, “Setiap dokumen peradaban sekaligus merupakan dokumen barbarisme.” Kalimat itu, dalam terjemahan bebas, dapat dimaknai bahwa sejarah sering hanya mengabadikan puncak-puncak besar, sambil melupakan lorong-lorong sunyi di baliknya. Kita mengingat karya, tetapi lupa pada peluh di belakang karya. Kita mengingat nama besar, tetapi melupakan meja reyot tempat gagasan dilahirkan.
Maka di Rumah Budaya Tulus Setiyadi, saya merasa sedang menyaksikan bentuk perlawanan kecil terhadap barbarisme ingatan itu. Yang disimpan bukan hanya hasil akhir, melainkan jejak proses. Dan mungkin, justru di sanalah letak pendidikan kebudayaan paling penting: menunjukkan bahwa karya besar lahir bukan dari kemewahan, tetapi dari ketekunan.
Tulus Setiyadi sepanjang hidupnya dikenal dalam dua sebutan yang sama-sama indah: petani yang bersastra dan sastrawan yang bertani. Dua identitas itu tampak sederhana, tetapi diam-diam mengandung kritik terhadap cara modern memandang kesuksesan. Hari ini, kita hidup dalam peradaban yang mengukur manusia dari panggung, pengikut, dan sorotan. Seolah nilai seseorang ditentukan oleh seberapa besar ia terlihat.
Padahal Tulus mengajarkan kemungkinan lain: bahwa seseorang dapat menanam padi sekaligus menanam bahasa; mencangkul tanah sambil merawat imajinasi. Dalam keterbatasan ekonomi, ia tetap menulis hingga akhir hayat. Seolah hendak membuktikan bahwa kreativitas tidak lahir dari kelimpahan fasilitas, melainkan dari keteguhan batin.
Filsuf Hannah Arendt pernah menulis, “Pendidikan adalah titik ketika kita memutuskan apakah kita cukup mencintai dunia untuk bertanggung jawab atasnya.” Saya kira kalimat itu menemukan rumahnya di tempat ini. Sebab merawat arsip sastra bukan sekadar menyimpan benda mati. Ia adalah bentuk tanggung jawab terhadap ingatan kolektif.
Karena itulah saya mengusulkan agar Rumah Budaya Tulus Setiyadi dapat menjadi salah satu Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Madiun. Bukan semata agar lebih banyak orang datang berkunjung, melainkan agar masyarakat mengetahui bahwa di Madiun terdapat jejak sejarah sastra yang pernah bergema hingga mancanegara, terutama dalam khazanah sastra Jawa. Tempat ini dapat menjadi ruang refleksi, ruang inspirasi, dan ruang belajar bagi generasi berikutnya.
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk membangun monumen besar, tetapi lupa merawat rumah-rumah kecil tempat peradaban sebenarnya tumbuh. Sebab sejarah tidak selalu lahir di gedung megah; kadang ia bersembunyi di meja kayu tua, pada tumpukan manuskrip, atau di kamar sederhana seorang petani yang diam-diam menulis dunia.
Ketika saya meninggalkan rumah budaya itu, satu pertanyaan terus mengikuti langkah saya: mungkinkah kematian sesungguhnya bukan terjadi saat seseorang berhenti hidup, melainkan ketika masyarakat berhenti mengingat? Jika demikian, barangkali tugas kebudayaan bukan sekadar menciptakan karya, melainkan merawat gema. Sebab selama ada orang yang membaca, mengenang, dan melanjutkan nyala, seseorang mungkin tidak benar-benar pergi.
Puisi Fileski untuk mengenang Tulus Setiyadi
Petilasan Jambu Mete di Halaman Rumah
Angin menanak abu di kelopak musim; aksara Jawa menggigil seperti burung migran kehilangan utara.
Tulus Setiyadi—sebatang kompas dari kayu hujan, menumbuhkan gerimis di lidah-lidah benua.
Leiden membuka jendela tua; kanal-kanal meminum gema, seperti biola mengunyah embun purba.
Di peta-peta asing, namanya menjelma lumut; diam, tetapi menggerogoti dinding jarak.
Rumah sastra kini menggantungkan senja pada paku karat; kursi-kursi menghafal suara yang tak pulang.
Petilasan pohon jambu mete itu seekor matahari terbalik: batangnya seperti doa yang lupa tanah,
buahnya serupa kepala-kepala waktu yang membungkuk,
akar-akarnya meneguk kesunyian seperti pertapa menelan jam-jam batu.
Sebongkah makam—ah, bumi ternyata pandai bercanda.
Tubuh dikembalikan ke tanah, tetapi tanah justru gagal menguburnya.
Betapa lucu: kepergian kadang lebih hidup daripada napas.
Betapa ganjil: sunyi dapat lebih gaduh daripada pasar algoritma.
Buku-buku itu masih berjalan di lorong angin, membawa lampu dari tulang hujan.
Halaman-halaman membuka mulut; huruf-huruf memungut denyut dari sisa petir.
Di abad yang memelihara layar seperti padang pasir memelihara fatamorgana,
burung-burung besi mengangkut debu, sementara akar kehilangan mimpi.
Namun Tulus tak selesai oleh nisan.
Ia barangkali telah berubah menjadi musim yang menyamar sebagai bahasa,
atau gema jambu mete yang menetes dari langit retak,meracau di telinga zaman—seperti sungai yang wafat, tetapi diam-diam terus mengalir.
Minggu, 17 Mei 2026












