Jambore TBM Jatim: Taman Bacaan Menyelamatkan Cara Manusia Berpikir

Oleh Fileski Walidha Tanjung
Di Kediri, pada Jambore Taman Baca Masyarakat (TBM) Jawa Timur, para pegiat literasi berkumpul bukan sekadar untuk membicarakan rak buku, program membaca, atau administrasi komunitas. Di balik pertemuan itu, sesungguhnya sedang berlangsung sebuah percakapan yang jauh lebih besar: bagaimana manusia mempertahankan kemampuan berpikirnya di tengah zaman yang makin gaduh. Pernyataan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas, tentang pentingnya literasi sebagai kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan memanfaatkan teknologi secara bijak, seolah mengingatkan kita bahwa persoalan utama abad ini bukan lagi minimnya informasi, melainkan melimpahnya informasi yang kehilangan makna.
Kita hidup pada masa ketika manusia dikepung paradoks. Pengetahuan tersedia di genggaman, tetapi kebijaksanaan terasa semakin jauh. Kita dapat mengetahui ribuan hal dalam sehari, tetapi semakin sulit memahami satu hal secara mendalam. Teknologi digital, yang dahulu dibayangkan menjadi jalan demokratisasi ilmu pengetahuan, diam-diam juga melahirkan bentuk baru kolonialisme: penjajahan perhatian manusia.
Filsuf Byung-Chul Han pernah menulis, “Masyarakat masa kini bukan lagi masyarakat disiplin, melainkan masyarakat kelelahan.” Kutipan itu, jika diterjemahkan secara bebas, mengandung kegelisahan besar: manusia modern bukan kehabisan informasi, melainkan kehabisan ruang hening untuk mencerna dunia. Kita tidak dipaksa diam seperti masyarakat otoriter dahulu; kita justru dibanjiri suara hingga tidak lagi mampu mendengar diri sendiri.
Di sinilah saya melihat Taman Baca Masyarakat memiliki makna yang jauh lebih radikal daripada sekadar tempat meminjam buku. Selama ini kita mungkin memandang TBM sebagai institusi sosial kecil di pinggir kota atau desa. Padahal mungkin kita sedang keliru. TBM bukan ruang penyimpanan buku. TBM adalah ruang perlindungan kesadaran.
Selama bertahun-tahun, banyak program literasi di Indonesia masih terjebak pada logika statistik: berapa jumlah buku, berapa pengunjung, berapa koleksi, berapa kegiatan. Seolah literasi adalah persoalan kuantitas. Padahal masalah yang sedang kita hadapi jauh lebih rumit. Dunia digital telah mengubah cara otak manusia bekerja. Kita hidup dalam budaya gulir layar yang membuat perhatian bergerak cepat, tetapi dangkal. Kita membaca banyak judul, tetapi sedikit makna. Kita menjadi generasi yang sangat terhubung, namun sering kehilangan kedalaman.
Pemikir media asal Kanada, Marshall McLuhan pernah mengatakan, “Kita membentuk alat-alat kita, lalu alat-alat itu membentuk kita.” Kalimat itu terasa seperti nubuat bagi zaman sekarang. Ketika manusia menciptakan teknologi digital, yang berubah bukan hanya cara kita mencari informasi, melainkan struktur kesadaran kita sendiri. Algoritma tidak sekadar menentukan apa yang kita lihat; ia perlahan menentukan cara kita merasa, marah, mencintai, bahkan berpikir.
Maka saya membayangkan TBM masa depan bukan lagi sekadar pusat baca. Ia perlu menjadi laboratorium kesadaran masyarakat. Tempat orang belajar membedakan fakta dan manipulasi. Tempat anak-anak memahami bahwa kecepatan bukan selalu kemajuan. Tempat warga belajar bahwa kecerdasan bukan kemampuan menjawab cepat, tetapi keberanian mempertanyakan sesuatu.
Sebab krisis terbesar abad ini bukan krisis data. Bukan pula krisis teknologi. Yang sedang terjadi adalah krisis daya tafsir. Manusia kehilangan kemampuan menimbang, meragukan, dan merenungkan. Kita menyaksikan informasi beredar lebih cepat daripada kemampuan berpikir manusia untuk mengujinya. Hoaks bukan menang karena kebohongan terlalu kuat; hoaks menang karena perhatian manusia terlalu lelah.
Karena itu, saya memandang gerakan literasi tidak lagi cukup dipahami sebagai gerakan meningkatkan minat baca. Definisi itu terlalu kecil untuk tantangan yang kita hadapi. Literasi hari ini adalah perjuangan mempertahankan martabat berpikir manusia. Dan para pegiat TBM, tanpa banyak disadari, sesungguhnya sedang berada di garis depan pertarungan tersebut.
Mungkin di masa depan, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak buku yang berhasil kita cetak atau berapa banyak perpustakaan yang kita bangun. Sejarah mungkin justru mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi: ketika manusia tenggelam dalam banjir informasi, adakah tempat yang masih mengajarkan mereka cara berhenti, membaca, dan berpikir?
Dan pertanyaan itu sesungguhnya bukan hanya ditujukan kepada TBM. Pertanyaan itu sedang mengetuk setiap rumah, setiap sekolah, dan setiap diri kita. Di tengah dunia yang semakin sibuk membuat manusia terus menatap layar, masihkah kita memiliki keberanian untuk menatap ke dalam diri sendiri. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah sastrawan dan pendidik seni budaya yang aktif menulis esai, puisi, dan prosa sejak awal tahun 2000. Novel terbarunya adalah Tanah Terbelah 1948.












