Esai · Potret Online

Ketika Kata-kata Lebih Menakutkan Dari Meriam

Penulis Yani Andoko
Mei 17, 2026
8 menit baca 14
IMG_1194
Foto / IlustrasiKetika Kata-kata Lebih Menakutkan Dari Meriam
Disunting Oleh

Oleh Yani Andoko 

Sepotong Cerita dari Masa Lalu

Bayangkan situasi ini: seorang pria berusia 43 tahun berdiri di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada suatu malam di bulan April 1978. Kerumunan membeludak. Para mahasiswa, seniman, wartawan, dan rakyat biasa duduk lesehan di lantai, berdesakan di lorong-lorong, ada pula yang bergelantungan di balkon. Mereka semua datang untuk mendengar satu suara.

Suara itu milik W.S. Rendra “Si Burung Merak” yang mulai membacakan bait-bait puisinya dengan intonasi menggema, penuh gairah, lalu pelan-pelan melunak, menyayat hati, seperti lilin yang meleleh. Suasana hening. Asap rokok mengepul di antara kepala-kepala penonton.

Tiba-tiba, sebelum puisi usai, aparat keamanan masuk. Bukan untuk menertibkan, tetapi untuk menangkap Rendra tepat di atas panggung. Bahkan sebelum ia sempat menutup puisi. Penonton terperanjat. Dunia kesenian Indonesia geger.

Mengapa? Apa yang begitu mengancam dari sajak sebatang lisong?

Bukan karena ada rencana kudeta. Bukan pula karena mengandung ajakan memberontak dengan senjata. Ancaman itu justru lahir dari kekuatan kata-kata yang jujur di tengah rezim yang terbiasa membungkam. 

Untuk memahami ketakutan yang begitu besar dari penguasa, kita perlu menyelami lebih dalam: siapa Rendra, apa yang ia tulis, dan mengapa para petinggi negara kala itu tidur gelisah mendengarnya.

Siapa itu “Si Burung Merak”?

Rendra kecil lahir pada 7 November 1935 di Solo, anak dari pasangan abdi dalem keraton yang membesarkannya dalam suasana Jawa yang kental. Masa kecilnya tak melulu soal sekolah dan wayang; ia juga dididik ajaran kebatinan manjing ing kahanan oleh seorang pembantu rumah tangganya, Janadi. 

Prinsip ini kurang lebih berarti hadir dalam konteks berada di tengah masyarakat, mengalir dengan perkembangan zaman, dan tak pernah lepas dari realitas sosial.

Itu sebabnya Rendra tidak pernah puas menjadi penyair yang duduk nyaman di kamar menulis puisi tentang rembulan, bunga, dan kopi panas. Baginya, seni harus menyentuh luka. “Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan? Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?” itulah kredo yang ia deklarasikan dalam puisinya sendiri.

Pada 1967, setelah belajar di Amerika Serikat, Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Panggung-pangguknya selalu penuh. Drama-drama seperti Mastodon dan Burung Kondor (1972), Perjuangan Suku Naga, dan Selamatan Anak Cucu (1975) laris dipentaskan. 

Namun seiring waktu, pemerintah mulai resah. Pada 1974, pementasan Mastodon di Universitas Gadjah Mada diberangus rektor. Saat akan dipindahkan ke Institut Teknologi Bandung, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro bahkan datang sendiri untuk berunding dengan Rendra. Tanda-tanda pengekangan sudah terlihat.

Isi Sajak: Menelanjangi Panggung Pembangunan

Di tengah suasana yang makin panas inilah, pada tahun 1978, Rendra menerbitkan buku “Potret Pembangunan dalam Puisi”—sebuah kumpulan sajak yang kelak dijuluki orang sebagai “sajak-sajak pamflet”. Di dalamnya, ada satu sajak yang paling kontroversial: “Sajak Sebatang Lisong”.

Mari kita simak satu bait pembukanya:

“Menghisap sebatang lisong, melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka.”

Gambaran “cukong” yang beraksi di atas langit berak di atas kepala rakyat bukanlah sekadar kata-kata makian. 

Cukong adalah istilah populer pada zamannya untuk para konglomerat yang punya koneksi dekat dengan penguasa, menikmati proyek-proyek negara dan fasilitas istimewa sementara rakyat hanya bisa menengadah. Metafora ini begitu vulgar dan brutal, menyentil langsung praktik KKN yang saat itu sudah merajalela di balik jargon “Pembangunan”.

Lalu Rendra melanjutkan:

“Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet.”

Angka delapan juta anak tanpa pendidikan pada masa itu bukan isapan jempol belaka. Ironisnya, rezim dengan bangga menggembar-gemborkan program Repelita I hingga V. 

Bagi Rendra, data itu adalah gugatan langsung: jika benar-benar sedang membangun, mengapa segunung anak bangsa tak tersentuh bangku sekolah?

Sajak itu juga menyindir para teknokrat yang berkata “bahwa bangsa kita adalah malas, bahwa bangsa mesti dibangun, mesti di-upgrade, disesuaikan dengan teknologi impor”. Rendra seolah berkata: Jangan salahkan rakyat yang miskin dan bodoh, lihatlah bagaimana sistem menguntungkan segelintir orang dan mengabaikan sisanya.

Kritik itu juga menjangkiti dunia seni sendiri. Rendra tidak segan menohok para seniman yang abai:

“Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya.”

Dengan itu, Rendra seolah berdiri di antara dua medan perang: melawan penguasa yang korup dan melawan seniman yang apolitis.

Kenapa Bukan Sekadar Puisi?

Banyak orang mungkin menganggap remeh sebuah puisi. “Hanya rangkaian kata indah,” pikir mereka. Tapi rezim Orde Baru tidak menganggap remeh. Mereka melihat lebih dalam. Sejak demonstrasi besar mahasiswa (1977–1978) menolak pencalonan kembali Soeharto, situasi politik nasional sedang memanas. 

Kebijakan NKK/BKK dikeluarkan tepat untuk membungkam aktivitas politik mahasiswa. Dalam suasana seperti itu, Rendra membacakan sajak-sajaknya di depan publik yang membeludak kata-katanya menjadi pengeras suara bagi hati nurani masyarakat yang dibungkam.

Sebagaimana ditulis oleh seorang peneliti puisi Rendra, kekuasaan saat itu takut bahwa seorang seniman bisa memicu perubahan. Dan di tahun-tahun ketika ruang publik steril dari kritik, panggung kesenian menjadi satu-satunya tempat wacana alternatif bisa hidup. Rendra, dengan segala kharismanya ditambah julukan “Si Burung Merak” karena penampilannya yang selalu memukau mampu menarik ribuan orang hanya dengan sebatang lisong sebagai alat peraga panggung.

Pemerintah takut bukan pada puisinya, tetapi pada efek domino dari kata-katanya. Ketika seorang ibu rumah tangga miskin mendengar ada penyair yang membela nasibnya, ketika seorang mahasiswa mendengar bahwa ketidakadilan harus dilawan, maka kesadaran kolektif mulai terbangun. Dan kesadaran kolektif adalah mimpi buruk bagi setiap rezim represif.

Penangkapan: Pembuktian Ketakutan Pemerintah

Pada malam 1 Mei 1978, Rendra dipanggil ke Komdak Metro Jaya dan langsung ditahan. Ia dijebloskan ke pusat tahanan Polisi Militer Guntur.

Jaksa Agung Ali Said dan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo dengan tegas menuduhnya menyebarkan hasutan yang dapat menyebabkan orang lain berbuat melawan hukum. 

Ironisnya, tuduhan itu sendiri adalah bukti: tak ada bukti hukum yang kuat selain ketakutan. Rendra ditahan tanpa pengadilan selama sembilan bulan dan dibebaskan tanpa pernah diadili.

Penangkapan ini mengguncang dunia kesenian. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pusing bukan main. Mereka yang mengundang Rendra untuk pentas kini harus berurusan dengan aparat, mondar-mandir mendatangi petinggi sipil dan militer. Asrul Sani tokoh Lesbumi NU menjadi juru bicara terdepan yang melobi pembebasan Rendra, memanfaatkan logika retorisnya yang terkenal tajam. DKJ bertanya-tanya: apakah mengundang penyair sama saja mengundang tahanan?

Setelah dibebaskan, Rendra tidak diizinkan mementaskan puisi atau drama. Baru pada 1986 ia diperbolehkan membuat Panembahan Reso, itupun setelah melalui negosiasi yang alot karena drama tersebut mengangkat isu suksesi kekuasaan sesuatu yang tabu pada masa Orde Baru.

Tapi lihatlah ironi besar di sini: upaya pembungkaman justru melambungkan nama Rendra. Budayawan Bakdi Soemanto menyebut bahwa posisi melawan kekuasaan itulah yang membuat Rendra menjadi besar. Ia bukan politikus, tetapi seninya adalah tentang bangsa, manusia, dan kehidupan. Alih-alih berhenti, puisi-puisinya kian menyebar. Penangkapan hanya menegaskan dalam benak publik: apa yang ditulisnya pasti benar, karena pemerintah begitu takut untuk mendiamkannya.

Dari Masa Lalu untuk Masa Kini

Lantas, apa relevansi cerita ini bagi kita hari ini?

Di era digital, kritik sosial sangat mudah disebarkan. Media sosial membanjiri kita dengan meme, satire, komentar pedas, bahkan cacian terbuka kepada pemerintah. Tentu kita patut bersyukur tidak perlu masuk penjara hanya karena berpendapat. Tapi jangan salah: mentalitas yang sama masih ada. Bukan penangkapan fisik lagi, kini seringkali dalam bentuk pembungkaman digital: pelaporan UU ITE, intimidasi halus, atau sekadar “diam saja” karena takut di-bully.

Pelajaran dari Rendra adalah tentang keberanian. Rendra tidak menulis untuk populer; ia menulis untuk meluruskan. Ia kehilangan kebebasan, tetapi ia mendapatkan keabadian sebagai ikon perlawanan. Kesaksian sejarah ini mengajarkan bahwa negara yang kuat tak perlu takut pada puisi. Negara yang percaya diri akan menjadikan kritik sebagai pijakan perbaikan, bukan alasan untuk melabrak siapa pun yang berbicara jujur.

Pada akhirnya, seperti yang Rendra tulis sendiri di bait penutup:

“Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata.”

Puisi itu mungkin ditulis untuk zamannya. Tapi pesannya tentang keberanian melihat realitas, tentang menolak jalan pintas, tentang turun tangan untuk perubahan itu abadi.

Penutup: Biarkan Sajak Menggema

Sajak Sebatang Lisong bukanlah ancaman. Ancaman sesungguhnya adalah ketidakmauan mendengar. Rendra pernah bertanya dengan puitis, “…apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.” Apakah pemerintah atau siapa pun yang berkuasa hari ini mau mendengar? Jangan sampai kita membuat kesalahan yang sama seperti Orde Baru dulu: membungkam suara kritis, lalu kelak menyesal karena suara itu justru meledak lebih keras di kemudian hari.

Bayangkan dunia tanpa Rendra tanpa puisi pamflet yang mengoyak zamannya. Mungkin sejarah Indonesia akan sedikit lebih sunyi, tetapi juga sedikit lebih hampa. Karena kadang, yang paling dibutuhkan oleh sebuah bangsa bukanlah pujian, melainkan teguran. Dan Rendra, dengan setia, telah memberikan teguran itu sebatang lisong demi sebatang lisong.

Esai ini saya tutup dengan sebuah ajakan: Biarkan sajak dibaca di mana-mana. Setiap kata yang jujur adalah sumbangsih bagi demokrasi. Kalau pun itu mengganggu, jangan ditangkap penyairnya. Duduklah, dengarkan, lalu berbenahlah. Karena seperti yang kita pelajari, kata-kata yang benar tidak bisa dihukum ia hanya bisa ditakuti oleh mereka yang takut pada kebenaran itu sendiri.

Jadi, mari hirup perlahan asap metafora Rendra. Jangan batuk. Renungkan. Mungkin sajak itu saat ini dan nanti akan terus mengingatkan kita: negara yang sehat tidak perlu gemetar mendengar puisi. Ia perlu tangguh mendengar kebenaran.

             Batu, 24 Januari 2026

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Yani Andoko
Batu, Jawa Timur
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...