Saya Kram Perut Baca Komentar Artikel “Malam Jumat” Bercocok Tanam di Kelambu

Oleh Rosadi Jamani
Saya Kram Perut Baca Komentar Artikel “Malam Jumat” Bercocok Tanam di Kelambu
Saya kira setelah menulis artikel tentang malam Jumat dan aktivitas bercocok tanam di dalam kelambu, yang muncul paling banter ceramah ustaz kampung, teguran RT, atau minimal ancaman dicoret dari grup pengajian keluarga besar. Ternyata saya salah besar.
Yang muncul malah festival komentar paling liar sejak netizen menemukan tombol komentar. Saya membaca satu per satu sambil menahan tawa seperti orang sembelit tiga hari. Kadang ketawa kecil. Kadang terbahak. Kadang terdiam merenung memikirkan betapa kreatifnya bangsa ini kalau urusan “perawatan hubungan bilateral.”
Ada pembaca yang langsung membuka jalur mistik.
“Waktunya memandikan pusaka keramat. Basuh keris dengan jampi bunga 9 rupa. Kemenyan dupa jangan lupa.”
Ya Allah. Saya cuma menulis soal malam Jumat. Netizen malah naik level jadi ritual Kerajaan Majapahit menjelang perang Bharatayudha. Tinggal kurang ayam hitam dan hujan petir saja. Saya membayangkan ada bapak-bapak mandi sambil memegang keris, lalu istrinya dari dapur bertanya, “Bang, itu mau romantis atau mau santet kepala desa?”
Lalu muncul lagi komentar yang lebih ilmiah.
“Pernah coba kopi pahit campur madu dan telur ayam kampung gak Wak? Hasilnya joss. Tanjakan kemiringan 45 derajat bisa dinaikin pakai gigi empat walau jalan becek.”
Ini bukan komentar. Ini simulasi mesin diesel turbo. Saya tak tahu beliau sedang membahas stamina atau truk pengangkut sawit tanjakan Sintang. Bahasa netizen memang luar biasa. Semua alat transportasi bisa berubah jadi metafora perjuangan rumah tangga.
Belum habis saya ngakak, muncul lagi komentar pendek paling misterius tapi penuh tenaga dalam.
“Buka dikit… josss..!”
Saya bengong lima detik membaca itu. Ini komentar sangat pendek, tapi daya ledaknya setara petasan lebaran disulut dekat gardu PLN. Kalimatnya sederhana, tapi otak pembaca langsung bekerja sendiri seperti mesin AI buatan China.
Netizen lain pasti langsung paham maksud “buka dikit” itu apa. Bisa pintu. Bisa kelambu. Bisa komunikasi rumah tangga. Bisa juga dompet suami habis gajian.
Indonesia memang negara dengan tingkat imajinasi tertinggi di Asia Tenggara.
Ada pula yang memberi analisis sosial paling menyedihkan abad ini.
“Tak berlaku setelah ada gadget sepertinya Bang. Kelambunya beralih ke gadget.”
Nah ini dia tragedi modern. Dulu kelambu bergoyang pelan penuh cinta. Sekarang yang bergerak cuma jempol scroll TikTok. Suami rebahan main Mobile Legends. Istri sibuk lihat diskon skincare. Kasur tetap sunyi. Yang panas malah charger.
Teknologi memang kejam. Ia berhasil mengalahkan romantisme minyak kayu putih.
Lalu ada komentar pendek tapi mematikan.
“Ahai… landasannya becek wak.”
Saya membaca itu sambil hampir menyemburkan kopi. Pendek. Tajam. Mengandung makna geologi, teknik sipil, sekaligus biologi rumah tangga.
Netizen Indonesia memang tak perlu kuliah sastra. Mereka lahir sudah membawa bakat metafora.
Yang paling membuat saya tertawa adalah komentar seorang emak-emak strategis.
“Tinggal nunggu anak-anak tidur Wak. Mau alasan suruh beli obat nyamuk, di rumah masih ada. Suruh beli galon, depo tutup. Apa suruh beli semen atau pasir aja ya?”
Ini bukan ibu rumah tangga biasa. Ini ahli operasi intelijen domestik. Semua skenario disusun matang. Anak-anak harus disingkirkan dari TKP. Kalau perlu disuruh beli pasir satu sak sambil hujan deras.
Saya membayangkan si anak bingung di jalan.
“Kenapa jam 10 malam disuruh beli semen?”
Nak, jangan banyak tanya. Negara sedang butuh privasi.
Ada pula pembaca yang menyimpulkan sesuatu yang sangat mengharukan.
“Biasanya tulisan Wak ini ada pro kontra, tapi kalau ini kayaknya satu server semua.”
Nah, ini benar.
Indonesia boleh ribut soal politik. Bisa perang komentar soal pilkada. Bisa putus silaturahmi gara-gara beda pilihan presiden. Tapi kalau sudah membahas malam Jumat, mendadak seluruh rakyat bersatu seperti Avengers. Tak ada oposisi.nTak ada koalisi.
Semua sepakat menjaga stabilitas nasional dari balik kelambu.
Yang jomblo pun ikut merana. “Untung aku sudah nikah. Kebayang yang masih jomblo.”
Komentar ini membuat para jomblo mendadak melihat langit-langit kamar sambil memeluk bantal guling penuh kehampaan. Malam Jumat bagi pasangan adalah malam romantis. Bagi jomblo, itu cuma malam biasa ditemani notifikasi pinjaman online.
Puncaknya, ada yang panik karena bocil ikut muncul di lokasi.
“Wadduuhh GAWAT!! Ngapain si bocil ada di sana? Merusak perawatan hubungan bilateral!”
Nah ini benar-benar adegan horor rumah tangga Indonesia. Semua sudah siap. Lampu redup. Parfum semerbak. Kipas angin berputar romantis. Tiba-tiba terdengar suara kecil, “Mak… pipis…”
Hancur sudah diplomasi internasional malam itu.
Begitulah netizen kita. Mereka bisa mengubah artikel sederhana jadi panggung komedi nasional. Saya hanya menulis soal malam Jumat. Mereka menambahkan mistik, otomotif, strategi militer, teknologi digital, sampai operasi senyap ala intelijen rumah tangga.
Saya yakin, malam ini banyak yang membaca tulisan ini sambil melirik pasangan pelan-pelan.
Kalau tiba-tiba ada yang mandi lebih lama malam ini, berarti komentar netizen bekerja dengan sempurna.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar












