Artikel · Potret Online

Antara Amerika Serikat, Beijing, dan Masa Depan Perang Iran

Mei 14, 2026
4 menit baca 23
IMG_1161
Foto / IlustrasiAntara Amerika Serikat, Beijing, dan Masa Depan Perang Iran
Disunting Oleh

Oleh Ridwan Al-Makassary

Di tengah jeda perang yang belum benar-benar membuahkan perdamaian sejati di Kawasan Teluk, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan timnya, mendarat di Beijing. Kunjungan ini bukan sekadar lawatan diplomatik yang biasa. Karena ia terjadi ketika perang Iran mengguncang pasar energi, mengganggu rantai pasok global, dan menguji ulang peta kekuatan dunia. 

Sebagai satu akibat, pertemuan Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping menjadi panggung besar, yaitu apakah dunia sedang menuju de-eskalasi, atau justru memasuki babak baru persaingan global yang lebih keras? Tulisan ini akan mengulik persoalan tersebut secara singkat dan padat. 

Dunia membaca bahwa perang Iran bukan lagi semata konflik antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran. Ia telah berubah menjadi ujian yang krusial bagi tata dunia. Selat Hormuz yang tertutup membuat harga energi dunia rentan melonjak. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, paling dulu merasakan dampaknya, yaitu inflasi, beban subsidi, dan tekanan fiskal. 

Maka, ketika Presiden AS mengunjungi China, sesungguhnya ia datang kepada satu-satunya kekuatan yang punya pengaruh ekonomi cukup besar terhadap Iran. 

Namun, terdapat paradoks di sini. Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia “tidak membutuhkan bantuan China” untuk menyelesaikan perang Iran. Pernyataan itu terdengar keras, tetapi realitas geopolitik berkata lain. 

China adalah pembeli utama minyak Iran, mitra dagang penting Teheran, dan salah satu negara yang masih memiliki jalur komunikasi efektif dengan elite politik Iran. Dalam bahasa diplomasi, Washington boleh menolak bergantung pada Beijing, tetapi ia mengetahui tanpa Beijing, ruang tekan terhadap Iran jauh lebih sempit. 

Bagi China, kunjungan ini adalah sebuah kesempatan emas. Hingga saat ini, Beijing tidak menembakkan satu peluru pun untuk memperoleh keuntungan strategis. Saat sumber dayadan peralatan militer AS banyak tersedot ke konflik Iran, China bisa tampil sebagai mediator, penjaga stabilitas, sekaligus mitra dagang yang rasional. 

Sebuah laporan intelijen AS bahkan menyebut bahwa China sedang memperoleh keuntungan geopolitik besar dari perang ini—dari sisi ekonomi, diplomasi, hingga persepsi global. 

Karenanya, Xi Jinping datang ke meja perundingan bukan sebagai pihak yang terdesak dan kalah, melainkan pihak yang punya waktu dan posisi tawar yang tinggi. 

Ia mengetahui bahwa Washington membutuhkan hasil yang positif untuk pembukaan Selat Hormuz, stabilisasi harga minyak, dan mungkin sinyal damai yang bisa dijual Trump ke publik domestik yang semakin tidak percaya pada Trump.

Bagaimana masa depan perang Iran setelah kunjungan ini?Pertama, skenario de-eskalasi terbatas. Jika AS dan China mencapai pemahaman yang minimum sekalipun, maka Beijing bisa mendorong Iran membuka jalur pelayaran secara bertahap, sementara Washington menahan serangan militer baru. Ini bukan perdamaian, melainkan jeda strategis. 

Dunia akan bernapas lega, harga energi turun sementara, tetapi akar konflik tetap hidup.

Kedua, skenario diplomasi gagal. Jika kedua negara gagal menyepakati langkah konkret, maka Iran akan membaca itu sebagai perpecahan lawan-lawannya. Teheran dapat mempertahankan tekanan di Selat Hormuz dan melanjutkan strategi perang ketahanan dengan cara bertahan untuk membuat AS menyerah. 

Dalam kondisi ini, AS akan menghadapi perang mahal tanpa kemenangan jelas.

Ketiga, skenario transaksi besar. Ini yang paling menarik,  namun paling sulit: perang Iran menjadi bagian dari paket negosiasi lebih luas antara AS dan China—trade truce, Taiwan, teknologi AI, hingga tarif dagang. Jika itu terjadi, maka nasib Timur Tengah sedang ditentukan bukan di Teheran, tetapi di Beijing. 

Secara keseluruhan, inilah ironi abad ke-21. Konflik regional kini ditentukan oleh rivalitas global. Iran menjadi medan tempur, yang bukan satu-satunya actor perang. Amerika Serikat ingin menunjukkan kekuatan, China ingin menunjukkan kesabaran. Amerika membawa kapal induk; China membawa kalkulator geopolitik.

Karena itu, kita tak boleh membaca kunjungan AS ke China sebagai sekadar diplomasi seremonial. Ini adalah perundingan tentang siapa yang berhak mengatur krisis dunia saat ini. Jika Washington gagal, China akan makin terlihat sebagai kekuatan penyeimbang. 

Jika berhasil, Amerika membuktikan bahwa kekuatan lama belum benar-benar pudar dalam politik global saat ini.

Dalam konteks ini, Iran akan terus memainkan kartu waktu untuk melemahkan AS yang terjebak dalam rawa perang. Teheran mengetahui musuhnya bukan hanya rudal dan peralatan militer AS yang canggih, tetapi kelelahan politik lawan.

Dalam banyak perang modern, pihak yang paling lama bertahan sering kali bukan yang paling kuat, melainkan yang paling sabar dan akan keluar menjadi pemenang. Merekat udak pernah bisa benar-benar dikalahkan, sementara lawan tidak pernah menang sepenuhnya.

Pungkasannya, masa depan perang Iran mungkin tidak ditentukan oleh ledakan di Kawasan Teluk, tetapi oleh senyapnya ruang rapat antara AS dan China di Beijing. Karena kadang, sejarah tidak saja berubah oleh dentuman rudal, melainkan juga hasil perundingan yang rahasia di meja diplomasi. Dunia sedang menunggu hasilnya dengan cemas.

Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Centerfor the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Centerfor the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...