Esai · Potret Online

Jangan Remehkan Pukulan Pertama

Penulis Saiful Bahri
Mei 14, 2026
3 menit baca 20
IMG_1159
Foto / IlustrasiJangan Remehkan Pukulan Pertama
Disunting Oleh

Kisah Kakek Tukang Batu dan Hukum Konsistensi

Oleh Saiful Bahri

Suatu pagi, seorang kakek duduk di pinggir jalan desa. Di depannya ada batu besar. Di tangannya, palu tua yang gagangnya sudah licin.

Cucunya yang lugu datang. Melihat kakeknya memukul batu itu, ia bertanya polos:  

“Kek, ngapain pukul-pukul batu besar pakai palu kecil itu? Emang bisa pecah? Sia-sia aja, kek. Bikin capek doang.”

Sang kakek hanya tersenyum. Tangannya tidak berhenti.  

“Nak, batu ini akan pecah. Pelan-pelan. Asalkan kita terus memukulnya.”

Pukul pertama… tidak terjadi apa-apa.  

Pukul ke seratus… tidak ada retak.  

Pukul ke-201… CREK! Batu itu terbelah dua.

Sang cucu kaget.  

“Kek, kenapa baru sekarang pecahnya?”  

Sang kakek menjawab dengan tenang:  

“Bukan karena pukulan ke-201 yang memecahnya, Nak. Tapi karena 200 pukulan sebelumnya yang sudah melemahkan batu itu.”

Pelajaran untuk Kita

Hidup ini sama.  

Kita sering menyerah di pukul ke-50 karena merasa tidak ada hasil.  

Padahal kesuksesan itu seringnya ada di pukulan ke-51.  

Masalahnya, kita berhenti terlalu cepat.

Rasulullah  bersabda:  

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling langgeng, walaupun sedikit.” HR. Bukhari Muslim

Allah tidak menilai seberapa besar sekali pukulmu.  

Allah menilai apakah kamu terus memukul setiap hari.

Menulis satu halaman setiap hari itu lebih berat dari menulis 50 halaman sekali setahun.  

Bangun tahajud 2 rakaat setiap malam itu lebih berat dari shalat semalam suntuk sekali sebulan.  

Sedekah Rp10.000 setiap hari itu lebih berat dari sedekah Rp1 juta sekali setahun.

Tapi justru amal kecil yang rutin itulah yang meruntuhkan “batu besar” kemalasan, dosa, dan putus asa di hati kita.

Jangan Tunggu Motivasi. Tunggu Disiplin.

Kakek itu tidak menunggu semangat datang. Dia pukul saja.  

Begitu juga kita. Jangan tunggu mood nulis, baru nulis.  

Jangan tunggu mood shalat, baru shalat.  

Jangan tunggu mood berbakti, baru nelpon ibu.

Mulai saja. Perasaan akan menyusul.  

Karena iman itu bertambah dengan amal, bukan dengan menunggu.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Hari ini, batu besar apa yang sedang kamu pukul?  

Kemalasan? Utang? Sifat pemarah? Rasa malas ngaji?

Kalau sudah 30 hari belum pecah, jangan ganti palunya.  

Ganti niatmu. Perbaiki caramu. Tapi jangan berhenti memukul.

Karena yakinlah:  

Pukulan ke-201 pasti datang. Asalkan kamu tidak berhenti di pukul ke-200.

Doa Singkat:  

_Ya Allah, jadikan kami hamba yang istiqomah dalam kebaikan.  

Kuatkan kami untuk tidak menyerah sebelum Engkau pecahkan batu besar dalam hidup kami. Aamiin._

Catatan:  

Ini adalah cuplikan dari Bab 9 buku “Gembok Rezeki” karya  Saiful Bahri .  

Buku lengkapnya insyaAllah segera terbit.

Insya Allah 

Saifull Bahri 

Penulis buku terdahulu “ Terapi  Bermental Sukses”  tinggal di Cikarang Bekasi 

Mantan Praktisi HR perusahaan Asing di Hkt, Cikarang , Karawang – Jawa Barat

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Penulis buku terdahulu “ Terapi  Bermental Sukses”  tinggal di Cikarang Bekasi 

Mantan Praktisi HR perusahaan Asing di Hkt, Cikarang , Karawang - Jawa Barat
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...